Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku
Pancasila dan Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Pancasila dan Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Badrud Duja
Kamis, 04 Juni 2026 |   200 kali

Ketidakpastian geopolitik global kembali menguji kapasitas kepemimpinan berbasis Pancasila dalam memperkuat ketahanan energi, pangan, dan kewilayahan Indonesia. Lanskap global kian kompleks, ditandai konflik Rusia–Ukraina, dinamika Amerika Serikat di berbagai kawasan, ketegangan Israel–Iran, serta rivalitas ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok. Situasi ini bukan sekadar persaingan antarnegara, tetapi juga memicu disrupsi rantai pasok global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.

Pertanyaan krusialnya: sejauh mana kepemimpinan berlandaskan nilai Pancasila mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah tekanan global tersebut?

Lanskap Ekonomi Global dan Posisi Indonesia

Ekonomi global saat ini ditandai oleh tingkat saling ketergantungan (interdependence) yang tinggi. Lebih dari separuh aktivitas ekonomi dunia melibatkan lintas batas negara, sementara sekitar 70% perdagangan global terkait dengan rantai nilai global (global value chains) (Bank Dunia, 2020). Struktur ini memang menciptakan efisiensi, tetapi sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap guncangan eksternal—baik konflik geopolitik, disrupsi logistik, maupun krisis finansial.

Indonesia masih memiliki ketergantungan signifikan pada sektor strategis. Di bidang energi, sekitar 49,53% kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masih dipenuhi melalui impor (Dewan Energi Nasional, 2023). Produksi minyak domestik yang berkisar 212 juta barel per tahun belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 532 juta barel (Kementerian ESDM, 2023). Kesenjangan ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global dan dinamika geopolitik di negara produsen energi.

Pada sektor pangan, ketergantungan impor juga masih tinggi. Hampir 100% kebutuhan gandum dipenuhi dari luar negeri, dengan volume sekitar 10–11 juta ton per tahun (USDA, 2023). Sementara itu, impor kedelai mencapai 2,5–3 juta ton per tahun atau lebih dari 70% kebutuhan domestik (Badan Pusat Statistik, 2023). Kondisi ini menunjukkan kerentanan Indonesia terhadap gangguan rantai pasok global yang dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional.

Dinamika Geopolitik dan Ketahanan Nasional

Konflik geopolitik global memengaruhi stabilitas domestik melalui tiga jalur utama: harga komoditas, gangguan rantai pasok, dan tekanan fiskal. Konflik Rusia–Ukraina, misalnya, memicu lonjakan harga energi dan pupuk global. Dampaknya terasa pada peningkatan biaya produksi pertanian, inflasi, hingga beban subsidi pemerintah.

Sebagai salah satu importir pupuk, Indonesia turut terdampak oleh gangguan pasokan global. Kenaikan harga pupuk non-subsidi dan tekanan pada anggaran subsidi berimbas pada daya beli petani serta potensi penurunan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.

Di sektor energi, status Indonesia sebagai net importer minyak meningkatkan kerentanan terhadap volatilitas harga minyak dunia. Ketegangan geopolitik, termasuk gangguan jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, dapat memicu lonjakan harga yang berdampak pada APBN dan stabilitas ekonomi nasional.

Pancasila sebagai Landasan Strategis Kepemimpinan

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Pancasila tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif, melainkan harus menjadi instrumen strategis. Nilai-nilai seperti persatuan, gotong royong, keadilan sosial, dan integritas menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Nilai persatuan terbukti menjadi kekuatan utama Indonesia dalam menjaga stabilitas sosial-politik dan keutuhan wilayah. Di tingkat global, prinsip politik luar negeri bebas aktif mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga posisi strategis tanpa terjebak dalam blok geopolitik tertentu.

Sementara itu, nilai gotong royong telah menunjukkan relevansinya dalam berbagai krisis, termasuk penanganan pandemi COVID-19. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi modal sosial penting dalam meningkatkan kapasitas adaptif bangsa.

Namun demikian, masih terdapat nilai yang perlu diperkuat. Keadilan sosial, misalnya, masih menghadapi tantangan ketimpangan distribusi kesejahteraan. Rasio Gini yang relatif stagnan menunjukkan bahwa pemerataan hasil pembangunan belum optimal. Di sisi lain, nilai ketuhanan yang tercermin dalam integritas dan tata kelola yang bersih juga perlu diperkuat, seiring dengan masih adanya tantangan dalam pemberantasan korupsi.

Langkah Strategis Meningkatkan Ketahanan Nasional

Menghadapi kompleksitas global, diperlukan langkah strategis yang berakar pada nilai-nilai Pancasila.

Pertama, transformasi kebijakan berbasis partisipasi. Penguatan kebijakan berbasis data (evidence-based policymaking), peningkatan partisipasi publik dalam perumusan kebijakan, serta reformasi birokrasi yang adaptif dan responsif menjadi kunci agar kebijakan lebih tepat sasaran dan berdampak nyata.

Kedua, penguatan kedaulatan energi dan pangan. Di sektor energi, percepatan transisi ke energi baru terbarukan, hilirisasi, dan pengurangan ketergantungan impor menjadi langkah strategis. Di sektor pangan, investasi pada pertanian berbasis teknologi, perbaikan distribusi, serta penguatan cadangan pangan nasional harus menjadi prioritas.

Ketiga, diversifikasi mitra dagang. Mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu akan meningkatkan fleksibilitas dan daya tawar Indonesia dalam menghadapi dinamika global.

Penutup

Kepemimpinan Pancasila saat ini berada pada fase transisi. Sebagian nilai telah terinstitusionalisasi dengan baik, seperti persatuan dan demokrasi prosedural. Namun, nilai lain seperti keadilan sosial, kedaulatan ekonomi, dan integritas masih memerlukan penguatan.

Dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global, kepemimpinan Pancasila harus dimaknai sebagai instrumen strategis bukan sekadar simbol ideologis. Melalui implementasi nilai yang konsisten, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan eksternal, memperkuat resiliensi domestik, dan membangun legitimasi kebijakan yang kuat di tengah masyarakat.

Tanpa itu, Indonesia berisiko tetap berada dalam posisi rentan sebagai negara berpendapatan menengah. Sebaliknya, dengan kepemimpinan Pancasila yang substantif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju yang berdaulat, adil, dan makmur baik secara ekonomi, sosial, maupun geopolitik.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon