Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku
Menjadi “Kesatria” Dunia Maya

Menjadi “Kesatria” Dunia Maya

Haninditya Okta Dinar Prasetyohadi
Selasa, 30 September 2025 |   119 kali

Ruang digital dapat diibaratkan sebagai sebuah ekosistem besar yang terdiri atas beragam aktivitas: ruang interaksi, ruang penyampaian informasi, hingga ruang perdebatan. Dalam ekosistem ini, setiap individu memiliki peran, baik sebagai penyampai, penerima, maupun penjaga informasi. Pertanyaannya, apakah kita mampu berperan sebagai “Kesatria” di dunia maya?

“Kesatria” dalam konteks digital bukanlah sosok yang paling vokal atau paling sering terlibat perdebatan, melainkan mereka yang dapat secara bijak menjaga martabat diri, melindungi sesama, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Lalu bagaimana cara seseorang dapat menjadi “Kesatria” di Dunia Maya?

Pertama, “Kesatria” dunia maya memahami batas antara ranah publik dan pribadi.

Untuk menjadi “Kesatria” Dunia Maya, Seseorang harus dapat membedakan informasi yang layak untuk diketahui masyarakat dengan informasi yang seharusnya tetap bersifat privat. Informasi publik seperti pengumuman layanan atau kebijakan baru yang bersifat umum dan bukan yang merupakan informasi rahasia instansi dapat dibagikan kepada orang sekitar, kerabat, dan masyarakat, sedangkan data pribadi atau informasi rahasia harus tetap terlindungi dan tidak bocor atau tersebar ke ranah publik.

Kedua, “Kesatria” dunia maya bijak dalam memilih interaksi.

Perlu kita pahami bersama bahwa tidak semua komentar, tanggapan, dan provokasi harus kita berikan tanggapan. Menahan diri dari debat kusir bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Menang dalam ruang digital bukan berarti mengalahkan lawan bicara, tetapi mampu mengendalikan diri serta menjaga kualitas diskusi.

Ketiga, “Kesatria” dunia maya menjaga keamanan informasinya.

Hal sederhana yang dapat dilaksanakan sebagai bentuk menjaga keamanan informasi adalah menggunakan kata sandi yang kuat (berupa kombinasi huruf, angka, dan simbol), menggunakan autentikasi berlapis, serta senantiasa waspada terhadap kabar bohong (hoax) dengan menerapkan budaya saring sebelum sharing. Ancaman tidak selalu datang secara terbuka, namun sering kali hadir dalam bentuk tautan berbahaya (phising) atau informasi yang menyesatkan.

Dengan menerapkan sikap-sikap tersebut tersebut, individu tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga sebagai penjaga ekosistem digital. Menjadi “Kesatria” dunia maya dimulai dari langkah sederhana: berpikir sebelum mengunggah, memeriksa sebelum membagikan, dan menjaga diri sebelum menjaga orang lain.

Pada akhirnya, penghargaan terbesar di ruang digital tidak diberikan kepada mereka yang paling keras bersuara, melainkan kepada mereka yang paling bijak dalam menjaga informasi dan berinteraksi.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon