A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXX(/var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022/portaldjkn_2022b7r13ne588v1ifie3ia3rofa72lhccbt): failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 176

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXXXXXXXXXX(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 143

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

Website DJKN
  Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku
Mama Nela: Hutan Mangrove adalah Ibu bagi Kami (Liputan Wawancara)

Mama Nela: Hutan Mangrove adalah Ibu bagi Kami (Liputan Wawancara)

Badrud Duja
Jum'at, 06 Desember 2024 |   1223 kali

Sebuah kisah inspiratif, tidak banyak di zaman sekarang manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk kelestarian alam. Salah satunya adalah Petronela Meraudje, akrab disapa Mama Nela, seseorang yang berkomitmen dan mengabdikan hidupnya, secara sukarela, untuk melestarikan alam melalui salah satunya penanaman mangrove. Mama Nela, perempuan adat dari Kampung Enggros, aktif di hutan mangrove selama 10 tahun untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Atas capaian itu, Mama Nela dianugerahi penghargaan Kalpataru 2023 untuk kategori penyelamat lingkungan. Penghargaan ini diberikan setelah Mama Nela bersaing dengan 248 peserta lainnya, baik kelompok maupun individu. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas segala dedikasinya menjaga mangrove dan lingkungan hidup.

Atas penghargaan Kalpataru, Mama Nela mempunyai tugas untuk mengajak, mengabdi, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup. Lantas, apa saja gagasan Mama Nela ini untuk kelestarian alam, untuk generasi muda, dan untuk Indonesia?

Berikut petikan wawancara Mama Nela dengan Badrud Duja (Kabid KIHI, Kanwil DJKN Papabaruku):

(Wawancara tersebut juga dapat dilihat di youtube @djknpapabaruku)

Pewawancara: Selamat siang salam kenal Mama Nela, pada hari ini kami ingin mewawancarai Mama Nela terkait dengan kegiatan dan kontribusi Mama Nela terhadap penanaman Mangrove di Papua, boleh Mama Nela memperkenalkan diri dulu?

Mama Nela: Nama saya Petronela Meraudje saya seorang aktivis lingkungan, lahir di Kampong Engros tanggal 12 Februari 1981, saya lahir dan besar sampai hari ini hidup di Engros

Pewawancara: Mama Nela tinggal di rumah ini?

Mama Nela: Situ kampung disebelah

Pewawancara: diseberang?

Mama Nela: Ini kios dan juga sekaligus bengkel

Pewawancara: Bengkel?

Mama Nela: Dulu untuk kios, sekarang saya buat bengkel

Pewawancara: Mama Nela Lahir disini?

Mama Nela: ummh

Pewawancara: Lahir disini besar disini, disitu ya kampungnya? (Sambil menunjuk pulau kecil di seberang)

Mama Nela: Itu kampungnya

Pewawancara: Kampung Engros? kalau disini Kampung Engros juga? (Lokasi wawancara-red)

Mama Nela: Ini Ciberi, cuman masuk Kampung Engros juga

Pewawancara: Ooo.Termasuk Kampung Engros

Pewawancara: Kita ketahui Mama Nela populer di ekosistem penanaman mangrove dan menjadi salah satu polopor penanaman mangrove di Papua bahkan se-indonesia. Sejak kapan Mama Nela mulai penanaman Mangrove ini?

Mama Nela: Saya mulai lakukan itu pada tahun 2011

Pewawancara: Bagaimana ceritanya?

Mama Nela: Saya bergabung dengan satu forum yang namanya forum "Peduli Negeri" dipimpin oleh almarhum Bpk.Fredy Wanda beliau sudah meninggal, sampai 2018. Kami melakukan penanaman Mangrove sekaligus membersihkan sampah, dan itu kami kerja swadaya sosial sampai 2018. Setelah almarhum meninggal, saya bentuk kelompok sendiri namanya Kelompok Tani Swadaya dibawah binaan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, dan saya bergerak sampai saat ini. Tahun 2021 saya dibina oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA-red) untuk lebih kepada (terkait dengan-red) pemanfaatan buah mangrove. Dari buah mangrove itu kami buat produk ada ice cream, ada sirup, ada kopi, hand sanitizer, produk-produk itu yang sedang saya kembangkan sampai saat ini.

Pewawancara: Mama Nela punya semacam UMKM juga kah?

Mama Nela: Ia saya punya UMKM

Pewawancara: Berapa orang yang membantu Mama Nela disitu?

Mama Nela: Kalau dari kelompok yang khusus BTSD (yang dibentuk dari kelompok sadar wisata), saya punya 4 (empat) anggota dan tambah saya jadi 5 (lima) anggota. Kalau ditambah penduduk dan warga asli disini, kami berjumlah 20 (dua puluh) orang, dan paling banyak saya membawa mama-mama, karena ini adalah "hutan perempuan" jadi saya lebih kepada mama-mama.

Pewawancara: “penasaran” hutan perempuan sebelah mana ya?

Mama Nela: Yang ini, yang kita tanam itu bagian belakangnya mangrove ini

Pewawancara: Oh itu. Saya dengar ini ya...ada adat disini ya kalau laki-laki ke hutan perempuan ini harus ijin? Itu sudah turun temurun ya..

Mama Nela: Ya...dari nenek moyang, karena itu ditetapkan oleh leluhur kami, karena perempuan tidak di kasih ruang untuk berbicara di para-para adat, tetapi perempuan dikasih tetap menjaga hutan mangrove.

Pewawancara: Kegiatan Mama Nela dalam pelestarian hutan Mangrove itu apa saja?

Mama Nela: Kami mulai dengan pembibitan, Kami bawa bibit dan masuk kedalam sana kurang lebih 300-meter, kami buat para-para kita buat bibit dan menaruhnya diatasnya dan dari situ kita muat dan menanamnya di lokasi itu dan sekarang kami menanamnya di belakang kios kami atau bengkel kami dan ini ada banyak. Jadi kami buat pembibitan setelah dia besar sekitar lima bulan baru kami langsung menanamnya, paling lama lima bulan dan paling cepat sekitar tiga bulan dan itu tergantung pada cuaca juga.

Pewawancara: Apakah itu berbentuk swadaya?

Mama Nela: Ya itu swadaya

Pewawancara: Apakah ada dukungan dari PEMDA atau lembaga NGO, dibagian pembibitan ini?

Mama Nela: Mereka beli bibit di saya

Badurd duja: Berarti Mama Nela menjadikan pembibitan ini menjadi salah satu sektor yang mendatangkan profit?

Mama Nela: Iya, untuk itu. Artinya supaya kita ada uang operasional untuk kelompok, jadi sekali masuk ada dua juta dan satu setengah juta kita bagi-bagi untuk uang sayur, jadi kita tidak ada sistem uang kas tidak. jadi kita sekali habis ya udah habis, yang penting sama-sama kita kerja bersama

Pewawancara: Setelah pembibitan kemudian tahap penanaman, Siapa yang melakukan itu? Apakah oleh anggota?

Mama Nela: Ia kami. Kalau tidak ada yang dari luar, kami sendiri melakukan penyulaman dan penanaman. Kami tanam sendiri, jadi kalau masih dalam proses pembibitan, ada alat pembersih sampah kita akan membersihkan sampah terlebih dahulu dan kalau sampah sudah bersih kita langsung dengan penanaman

Pewawancara: Penanaman di lakukan setiap berapa bulan sekali?

Mama Nela: Tergantung bibit dan kita juga ada terlibat dengan kegiatan-kegiatan lain karena bibit kita yang diambil, kayak kemarin pas penanaman kami semua terlibat dan melakukan penanaman bersama, dan itu cara kerja kami dan itu semua harus datang rame-rame. Walaupun itu hanya satu-satu kita bawa dan kalau sudah 20 orang berarti sudah bibit. Untuk sistem tanam sebenarnya satu orang harus menanam lima bibit atau sepuluh, fungsinya supaya menguatkan yang lain, karena setiap mangrove tidak semua mengeluarkan akarnya kadang hanya satu saja, jadi bibit yang bisa keluar akarnya bisa merangkul yang lain, dan terkadang di pengaruhi oleh pasang surutnya air laut dan ketika hal ini terjadi biasanya ada yang terbawa. Namanya “cara tanam aji”, yaitu dalam satu wadah harus ada lima sampai sepuluh batang kayu mangrove dan itulah cara tanam kita sebenarnya.

Pewawancara: Apakah itu nanti akan hidup semua?

Mama Nela: Hidup! dan penanaman itu saya dapat konsepnya dari Pak Budi, orang dari LSM itu, dia bagian penanaman mangrove itu, saya ketemu dia pas saya diundang menjadi narasumber disana dan dia memberitahukan saya cara menanam mangrove seperti begini, dan tumbuh semua.

Pewawancara: Apa yang memotivasi Mama Nela untuk tergerak dibidang penanaman mangrove, meskipun kita tahu bersama jika dari sisi komersial mungkin kurang atau tidak banyak ya...apa motivasinya?

Mama Nela: Saya termotivasi oleh pemimpin forum tadi dia orang luar, orang dari Serui tapi dia mau menjaga alam ini atau tempat saya dan saya berpikir begini kenapa orang bisa datang lihat tempat ini baru saya yang punya tempat ini tidak melakukan itu. Saya maulah melakukan pekerjaan sosial kayak begitu, saya mulai telibat dan saya sering mengikuti itu sampai saat ini, jadi latar belakang dan motivasi saya, saya melihat orang itu dia kan orang lain kenapa dia bisa menanam sekitar sini dan bersihkan sampah dan saya yang hidup dan tinggal di tempat ini tidak melakukan apa-apa. Jadi saya harus bertanggung jawab dengan kehidupan rumah ini juga, kenapa dia bisa, saya tidak bisa! dan saya ikut gerakannya, gayanya dan saya belajar dari dia, setiap dia bawakan materi saya mendengarkan dan dia berkata, kampung dua ini hanya hidup tergantung dari bakau dan kalau tidak ada bakau tidak ada juga kampung ini, disitu saya pegang kata itu dan saya pegang itu sampai hari ini. dan dari situ saya minta hikmat Tuhan benar kalau tidak ada mangrove otomatis tidak ada kampung ini, tidak ada pantai dan pasti dari sini pasti lautan bebas.

Pewawancara: Dan tentu ada bahaya abrasi ya?

Mama Nela: Sungguh mati kita harus jaga untuk anak cucu supaya besok kelak menceritakan kampung ini

Pewawancara: Luar biasa Mama Nela, jadi jasa ekosistem alam ini harus dijaga ya

Mama Nela: dan saya juga seorang yang memilih kreativitas untuk membuat kerajinan dan saya ikut ambil sampah untuk saya olah menjadi sebuah produk.

Pewawancara: Produk rumah tangga ya

Mama Nela: saya jual dan saya punya UMKM itu bergerak di kerajinan tangan terlebih dahulu dan kalau sirup mangrove baru tahun 2021

Pewawancara: ohh bisa di buat sirup juga ya?

Mama Nela: ya...saya buat sirup, ice cream

Pewawancara: kalau sirup itu sudah masuk pasar kah?

Mama Nela: sudah masuk toko itukan oleh-oleh papua

Mama Nela: Nama sirupnya apa Mama Nela?

Pewawancara: Nanfea

Mama Nela: Tapi saya tidak lanjut produksi kemarin karena saya tunggu rumah produksi dan lapor ke Disperindakop, dari sini mereka mengesahkan surat saya dan memanggil saya jumat kemarin dan semoga tahun depan kita bangun, saya bilang kalau ada rumah produksi dan untuk ijin-ijin yang lain sudah ada, hanya ijin halal dan rumah produksi.

Pewawancara: Jadi harapan Mama Nela ini supaya ada ijin halal dan dibangunkan rumah produksi ya?

Mama Nela: Dibantu oleh pemerintah karena semua yang saya alkukan adalah swadaya

Pewawancara: Kemudian ini Mama Nela, Apa tips-tips dan giat-giat Mama Nela dalam mengajak masyarakat sini untuk untuk menanam mangrove

Mama Nela: Saya mengajak mereka langsung, jadi saya mengajak anak-anak kecil dari paud, anak-anak sekolah minggu dan anak remaja, saya memanggil mereka, “ayo kita bersih-bersih pantai”? mereka ikut dan disitu saya sampaikan untuk memberikan edukasi supaya mereka bisa menjaga alam ini, saya bilang hidup ini tidak bisa kita bertanggung jawab dengan diri sendiri saja tetapi kita hidup dan bertanggung jawab untuk orang lain dan untuk bakti sosial, karena kita lahir dan meninggalpun orang lain yang menolong kita. kita tidak bisa berdiri sendiri sampai hari ini. bagaimana saya mengajak orang-orang dan saya tidak tau sepertinya ada sesuatu dalam bibir dan mulut, ketika saya menyampaikan sesuatu orang percaya dan bisa mempercayai saya begitu, jadi saya sampai ayo sudah, ayo kita sama-sama jalan dan setiap kegiatan kalau saya sampaikan bahkan kalau ada yang tidak mendengar juga mereka akan saling memberitahukan hal ini dan bersama-sama mengerjakannya. Jadi seperti ada jiwa-jiwa leadership begitu, bisa mengorganisir orang datang dan kita kerja.

Pewawancara: Kira-kira kalau tanam mangrove masyarakat yang ikut berapa banyak?

Mama Nela: Kalau menanam mangrove saya tidak bisa mengundang semua tetapi kadang saya undang per organisasi

Pewawancara: maksud perorganisasi?

Mama Nela: Kalau ibu-ibu saya biasa bawa dari dua puluh sampai tiga puluh orang dan kalau didalam pemuda berarti saya menyuruh pemuda saja, begitu juga kalau hanya undang anak paud berarti hanya paud saja dan saya tidak mengundang sampai semua kampung

Pewawancara: maksudnya kalau pemuda ya pemuda saja, kalau mama, ya mama-mama saja?

Mama Nela: Iya... karena saya juga tidak ada financial dan saya hanya modal masak, karena tidak ada uang untuk membayar orang menanam, jadi saya panggil hanya dengan latar belakang motivasi kita sendiri punya tempat dan kita kerjakan dan kita tidak usah tunggu orang dari luar yang menjaga tempat ini, saya kasih pemahaman untuk kita jaga sama-sama. Ini memang pekerjaan yang menurut sebagaian manusia terlalu rendah tapi menurut Tuhan ini pekerjaan mulia.

Pewawancara: iya

Mama Nela: yang tidak di lihat manusia itu yang Tuhan lihat

Pewawancara: iya betul

Mama Nela: Saya bilang ke teman-teman, ibu-ibu dan semua sama-sama bersihkan, satu hari saja kita bersihkan dan nanti kapan lagi ketika ada sampah kita bersihkan.

Pewawancara: Ok, berikutnya apakah kegiatan tanaman mangrove ini hanya ada di Kampung Engros atau Mama Nela juga menyebarkan ke kampung yang lain

Mama Nela: saya sudah ke Tobati. saya punya dua kelompok binaan di Tobati

Pewawancara: disana ya? menyeberang teluk ini?

Mama Nela: tidak, rumah-rumah yang berhadapan dengan kami ini, saya punya PKK pondok karang taruna dan saya berikan tiga belas ribu bibit dan saya sudah setor tiga ratus. Saya ajar mereka membuat sirup mangrove.

Pewawancara: Oh begitu. Luar biasa!

Mama Nela: Kemarin saya baru antar tiga ratus dan saya bilang kalau ini sudah tinggi nanti saya antar lagi, jadi jumlahnya tiga belas ribu.

Pewawancara: mantab

Mama Nela: Nanti lagi saya sumbangkan ke kampung Nafri kampung lagi disana dan saya akan buat pelatihan lagi. Begitu, jadi saya kerja sosial saja, ada berkat disana dan saya memakai berkat untuk mengajar, menolong dan menjadi berkat buat orang lain juga.

Pewawancara: Iya luar biasa.

Mama Nela: jadi tidak harus minta ke pemerintah, karena kalau minta ke pemerintah pasti banyak aturan, mana kalau surat masuk di bulan ini dan itulah, aduh sangat repot. Alam tidak menunggu bulan untuk dia harus datang kalau dia mau hari ini juga bisa dia datang, kita tidak tau apa yang terjadi dan kita harus waspada dari sekarang. kita semua sedang menunggu program pemerintah selesai.

Pewawancara: ohya Mama Nela, manfaat mangrove kan banyak, tadi sudah disampaikan salah satunya adalah menjaga kelestarian alam ada juga manfaat bisa dibuat untuk produk-produk seperti sirup, kerajinan tangan. Apakah ada manfaat lain lagi?

Mama Nela: Manfaat lain yaitu magrove ini sebagai "dapur" sebagai tempat menampung telur- telur ikan dan kerang laut sebagai tempat perkembangbiakan. Dengan adanya warga kampung ini yang mata pencahariannya adalah nelayan, otomatis magrove itu akan menjadi tempat mata pencaharian mereka dan berharap dari hutan mangrove tersebut. Ketika kami kesitu mendapatkan hasil dan membawa pulang hasil tangkapan kami dan tidak hanya itu, kami juga manfaatkan kayu yang sudah kering untuk dijadikan bahan bakar untuk masak hasil tangkapan kami, untuk dimakan bersama keluarga.

Pewawancara: Jadi mangrove tersebut dijadikan sumber bahan baku, tempat tinggal biota laut dan menjadi sumber penghasilan untuk masyarakat Kampung Engros. Apakah selama kegiatan penanaman mangrove, ada kendala atau kesulitan yang dihadapi?

Mama Nela: iya kendala itu mengenai pembangunan liar

Bardud duja: Pembangunan liar? rumah?

Mama Nela: Penebangan hutan dan penimbunan karang/reklamasi dan karena hal ini saya pernah lakukan demonstrasi dua kali, karena tepat di jalan masuk kampung saya mereka lakukan reklamasi ada yang sudah empat ratus meter dan dua hektar dan saya pimpin semua mama untuk demo hamper, saya demo pengadilan dan oknumnya sudah di tahan tiga tahun setengah dan itu saya demo sudah setahun yang lalu

Pewawancara: Jadi perusakan alam oleh manusia?

Mama Nela: Jadi saya pikir ini tugasnya Pemerintah khususnya Dinas Lingkungan Hidup untuk Pemerintah tidak memberikan surat ijin membangun karena mereka tidak akan menimbun tanpa ada surat ijin kan?

Pewawancara: Ia betul.

Mama Nela: Tidak mungkin sekali karena mereka juga takut pemerintahkan? tapi karena ada surat ini mereka jadi berani. Jadi Pemerintah jangan main-main juga artinya jangan sampai karena uang dan kepentingan semata sehingga masyarakat yang jadi korban dan bijaklah sebagai manusia, kita saling membantu dan mengontrol. Mangrove ini juga memberikan oksigen terbesar untuk bumi, hutan Mangrove ini kan hanya ada di Kota Jayapura dan yang lain ada di Sarmi. Teluk ini hanya ini saja yang harus kita jaga sisanya dan yang paling banyak di daerah Pantai Hamadi yang sudah di tebang tinggal sedikit saja di kampung kami ini dan semenjak dibangunnya Jembatan Merah banyak yang di tebang dan saya berpikir itu adalah sesuatu yang salah.

Pewawancara: Berarti hutan mangrove di Kota Jayapura hanya tinggal sini saja?

Mama Nela: ia hanya ini saja. Bagaimana cara Pemerintah bisa menjaga hutan ini bersama-sama dengan kita dan tanpa memberikan ijin kepada pihak-pihak tertentu menebang pohon secara liar. itu besar sekali lahan yang ditebang depan didepan kampung kami dan lagi sepanjang jalan Jembatan merah sampai holtekamp dan penanaman ini menjadi salah satu bukti yang dimana mereka menebang lagi. sebelumnya dari kampung kami semuanya adalah mangrove dan tempat dimana kita berbicara sekarang adalah sebelumnya hutan mangrove dan setelah ditebang dan terjadilah air pasang dan habislah sebagian dari pulau ini karena pengikisan/abrasi.

Pewawancara: Lanjut Mama Nela, pertanyaan terakhir, apa pesan Mama Nela untuk generasi muda di Kota Jayapura atau Papua untuk menanam mangrove dan melestarikan alam?

Mama Nela: Pesan saya buat generasi muda untuk menjaga hutan yang ada tersisa dan melestarikanya sebagaimana menjaga dirinya, karena kehidupan manusia. Kota Jayapura dan Papua tergantung dari alam. Ketika hari ini ia tidak menjaga dan melakukan hal itu maka dua puluh tahun kemudian ia akan menikmati hasilnya yaitu penderitaan dan perubahan iklim, polusi udara dan hari ini kami sudah merasakan itu panas yang begitu dahsyat sebentar lagi kita terbakar dan untuk generasi muda jangan buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat lakukanlah hal yang menjaga alam saja. Kalau ada yang gratis kenapa cari yang bayar, menjaga alam itu sebenarnya gratis kembali kepada diri kita dan tidak usah menunggu orang lain karena dari kemauan kita sendiri kita kerja dengan hal yang kita bisa lakukan, bagus orang lain akan terpancing dan meniru dan saya sangat senang dan bangga kepada anak-anak muda ini ketika saya melakukan kegiatan dan kami mempunyai grup whatapps dan sering menginfokan untuk melakukan hal ini, ada dari pemuda gereja mereka biasa gabung untuk menanam.

Pewawancara: Sangat luar biasa dan sangat menginspirasi kami Mama Nela, baik masyarakat Papua maupun semua masyarakat seluruh Indonesia untuk melestarikan alam sekitar. Terima kasih Mama Nela atas kesediaan waktunya, semoga sehat selalu.

Mama Nela: Aamiin

Pewawancara: Sekali lagi terima kasih.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon