Severity: Warning
Message: XXXXX(/var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022/portaldjkn_2022b7r13ne588v1ifie3ia3rofa72lhccbt): failed to open stream: No space left on device
Filename: drivers/Session_files_driver.php
Line Number: 176
Backtrace:
File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct
File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once
Severity: Warning
Message: XXXXXXXXXXXXX(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022)
Filename: Session/Session.php
Line Number: 143
Backtrace:
File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct
File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once
Mama Nela: Hutan Mangrove adalah Ibu bagi Kami (Liputan Wawancara)
Badrud Duja
Jum'at, 06 Desember 2024 |
1223 kali
Sebuah kisah inspiratif, tidak banyak di zaman sekarang manusia yang
mendedikasikan hidupnya untuk kelestarian alam. Salah satunya adalah Petronela
Meraudje, akrab disapa Mama Nela, seseorang yang berkomitmen dan mengabdikan
hidupnya, secara sukarela, untuk melestarikan alam melalui salah satunya
penanaman mangrove. Mama Nela,
perempuan adat dari Kampung Enggros, aktif di hutan mangrove selama 10 tahun
untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Atas capaian itu, Mama Nela dianugerahi penghargaan Kalpataru 2023 untuk
kategori penyelamat lingkungan. Penghargaan ini diberikan setelah Mama Nela
bersaing dengan 248 peserta lainnya, baik kelompok maupun individu. Penghargaan
tersebut merupakan pengakuan atas segala dedikasinya menjaga mangrove dan lingkungan
hidup.
Atas penghargaan Kalpataru, Mama Nela mempunyai tugas untuk mengajak, mengabdi,
dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup. Lantas,
apa saja gagasan Mama Nela ini untuk kelestarian alam, untuk generasi muda, dan
untuk Indonesia?
Berikut petikan wawancara Mama Nela dengan Badrud Duja (Kabid KIHI,
Kanwil DJKN Papabaruku):
(Wawancara tersebut juga dapat
dilihat di youtube @djknpapabaruku)
Pewawancara: Selamat siang salam
kenal Mama Nela, pada hari ini kami ingin mewawancarai Mama Nela terkait dengan
kegiatan dan kontribusi Mama Nela terhadap penanaman Mangrove di Papua, boleh Mama
Nela memperkenalkan diri dulu?
Mama Nela: Nama saya Petronela
Meraudje saya seorang aktivis lingkungan, lahir di Kampong Engros tanggal 12
Februari 1981, saya lahir dan besar sampai hari ini hidup di Engros
Pewawancara: Mama Nela tinggal di
rumah ini?
Mama Nela: Situ kampung disebelah
Pewawancara: diseberang?
Mama Nela: Ini kios dan juga
sekaligus bengkel
Pewawancara: Bengkel?
Mama Nela: Dulu untuk kios,
sekarang saya buat bengkel
Pewawancara: Mama Nela Lahir
disini?
Mama Nela: ummh
Pewawancara: Lahir disini besar
disini, disitu ya kampungnya? (Sambil menunjuk pulau kecil di seberang)
Mama Nela: Itu kampungnya
Pewawancara: Kampung Engros? kalau
disini Kampung Engros juga? (Lokasi wawancara-red)
Mama Nela: Ini Ciberi, cuman
masuk Kampung Engros juga
Pewawancara: Ooo.Termasuk Kampung
Engros
Pewawancara: Kita ketahui Mama
Nela populer di ekosistem penanaman mangrove dan menjadi salah satu polopor penanaman
mangrove di Papua bahkan se-indonesia. Sejak kapan Mama Nela mulai penanaman Mangrove
ini?
Mama Nela: Saya mulai lakukan
itu pada tahun 2011
Pewawancara: Bagaimana ceritanya?
Mama Nela: Saya bergabung dengan
satu forum yang namanya forum "Peduli Negeri" dipimpin oleh almarhum
Bpk.Fredy Wanda beliau sudah meninggal, sampai 2018. Kami melakukan penanaman
Mangrove sekaligus membersihkan sampah, dan itu kami kerja swadaya sosial
sampai 2018. Setelah almarhum meninggal, saya bentuk kelompok sendiri namanya
Kelompok Tani Swadaya dibawah binaan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, dan saya
bergerak sampai saat ini. Tahun 2021 saya dibina oleh Balai Konservasi dan Sumber
Daya Alam (BKSDA-red) untuk lebih kepada (terkait dengan-red) pemanfaatan buah
mangrove. Dari buah mangrove itu kami buat produk ada ice cream, ada sirup, ada
kopi, hand sanitizer, produk-produk itu yang sedang saya kembangkan sampai saat
ini.
Pewawancara: Mama Nela punya
semacam UMKM juga kah?
Mama Nela: Ia saya punya UMKM
Pewawancara: Berapa orang yang
membantu Mama Nela disitu?
Mama Nela: Kalau dari kelompok
yang khusus BTSD (yang dibentuk dari kelompok sadar wisata), saya punya 4
(empat) anggota dan tambah saya jadi 5 (lima) anggota. Kalau ditambah penduduk
dan warga asli disini, kami berjumlah 20 (dua puluh) orang, dan paling banyak
saya membawa mama-mama, karena ini adalah "hutan perempuan" jadi saya
lebih kepada mama-mama.
Pewawancara: “penasaran” hutan
perempuan sebelah mana ya?
Mama Nela: Yang ini, yang kita
tanam itu bagian belakangnya mangrove ini
Pewawancara: Oh itu. Saya dengar
ini ya...ada adat disini ya kalau laki-laki ke hutan perempuan ini harus ijin? Itu
sudah turun temurun ya..
Mama Nela: Ya...dari nenek moyang,
karena itu ditetapkan oleh leluhur kami, karena perempuan tidak di kasih ruang
untuk berbicara di para-para adat, tetapi perempuan dikasih tetap menjaga hutan
mangrove.
Pewawancara: Kegiatan Mama Nela dalam
pelestarian hutan Mangrove itu apa saja?
Mama Nela: Kami mulai dengan
pembibitan, Kami bawa bibit dan masuk kedalam sana kurang lebih 300-meter, kami
buat para-para kita buat bibit dan menaruhnya diatasnya dan dari situ kita muat
dan menanamnya di lokasi itu dan sekarang kami menanamnya di belakang kios kami
atau bengkel kami dan ini ada banyak. Jadi kami buat pembibitan setelah dia
besar sekitar lima bulan baru kami langsung menanamnya, paling lama lima bulan
dan paling cepat sekitar tiga bulan dan itu tergantung pada cuaca juga.
Pewawancara: Apakah itu berbentuk swadaya?
Mama Nela: Ya itu swadaya
Pewawancara: Apakah ada dukungan dari
PEMDA atau lembaga NGO, dibagian pembibitan ini?
Mama Nela: Mereka beli bibit di
saya
Badurd duja: Berarti Mama Nela menjadikan
pembibitan ini menjadi salah satu sektor yang mendatangkan profit?
Mama Nela: Iya, untuk itu.
Artinya supaya kita ada uang operasional untuk kelompok, jadi sekali masuk ada
dua juta dan satu setengah juta kita bagi-bagi untuk uang sayur, jadi kita
tidak ada sistem uang kas tidak. jadi kita sekali habis ya udah habis, yang
penting sama-sama kita kerja bersama
Pewawancara: Setelah pembibitan kemudian
tahap penanaman, Siapa yang melakukan itu? Apakah oleh anggota?
Mama Nela: Ia kami. Kalau tidak
ada yang dari luar, kami sendiri melakukan penyulaman dan penanaman. Kami tanam
sendiri, jadi kalau masih dalam proses pembibitan, ada alat pembersih sampah
kita akan membersihkan sampah terlebih dahulu dan kalau sampah sudah bersih
kita langsung dengan penanaman
Pewawancara: Penanaman di lakukan
setiap berapa bulan sekali?
Mama Nela: Tergantung bibit dan
kita juga ada terlibat dengan kegiatan-kegiatan lain karena bibit kita yang diambil,
kayak kemarin pas penanaman kami semua terlibat dan melakukan penanaman bersama,
dan itu cara kerja kami dan itu semua harus datang rame-rame. Walaupun itu
hanya satu-satu kita bawa dan kalau sudah 20 orang berarti sudah bibit. Untuk
sistem tanam sebenarnya satu orang harus menanam lima bibit atau sepuluh,
fungsinya supaya menguatkan yang lain, karena setiap mangrove tidak semua
mengeluarkan akarnya kadang hanya satu saja, jadi bibit yang bisa keluar
akarnya bisa merangkul yang lain, dan terkadang di pengaruhi oleh pasang
surutnya air laut dan ketika hal ini terjadi biasanya ada yang terbawa. Namanya
“cara tanam aji”, yaitu dalam satu wadah harus ada lima sampai sepuluh batang
kayu mangrove dan itulah cara tanam kita sebenarnya.
Pewawancara: Apakah itu nanti akan
hidup semua?
Mama Nela: Hidup! dan penanaman
itu saya dapat konsepnya dari Pak Budi, orang dari LSM itu, dia bagian penanaman
mangrove itu, saya ketemu dia pas saya diundang menjadi narasumber disana dan
dia memberitahukan saya cara menanam mangrove seperti begini, dan tumbuh semua.
Pewawancara: Apa yang memotivasi Mama
Nela untuk tergerak dibidang penanaman mangrove, meskipun kita tahu bersama jika
dari sisi komersial mungkin kurang atau tidak banyak ya...apa motivasinya?
Mama Nela: Saya termotivasi oleh
pemimpin forum tadi dia orang luar, orang dari Serui tapi dia mau menjaga alam
ini atau tempat saya dan saya berpikir begini kenapa orang bisa datang lihat
tempat ini baru saya yang punya tempat ini tidak melakukan itu. Saya maulah
melakukan pekerjaan sosial kayak begitu, saya mulai telibat dan saya sering
mengikuti itu sampai saat ini, jadi latar belakang dan motivasi saya, saya
melihat orang itu dia kan orang lain kenapa dia bisa menanam sekitar sini dan
bersihkan sampah dan saya yang hidup dan tinggal di tempat ini tidak melakukan
apa-apa. Jadi saya harus bertanggung jawab dengan kehidupan rumah ini juga,
kenapa dia bisa, saya tidak bisa! dan saya ikut gerakannya, gayanya dan saya
belajar dari dia, setiap dia bawakan materi saya mendengarkan dan dia berkata,
kampung dua ini hanya hidup tergantung dari bakau dan kalau tidak ada bakau
tidak ada juga kampung ini, disitu saya pegang kata itu dan saya pegang itu
sampai hari ini. dan dari situ saya minta hikmat Tuhan benar kalau tidak ada
mangrove otomatis tidak ada kampung ini, tidak ada pantai dan pasti dari sini
pasti lautan bebas.
Pewawancara: Dan tentu ada bahaya
abrasi ya?
Mama Nela: Sungguh mati kita
harus jaga untuk anak cucu supaya besok kelak menceritakan kampung ini
Pewawancara: Luar biasa Mama Nela,
jadi jasa ekosistem alam ini harus dijaga ya
Mama Nela: dan saya juga seorang
yang memilih kreativitas untuk membuat kerajinan dan saya ikut ambil sampah
untuk saya olah menjadi sebuah produk.
Pewawancara: Produk rumah tangga
ya
Mama Nela: saya jual dan saya
punya UMKM itu bergerak di kerajinan tangan terlebih dahulu dan kalau sirup
mangrove baru tahun 2021
Pewawancara: ohh bisa di buat
sirup juga ya?
Mama Nela: ya...saya buat sirup,
ice cream
Pewawancara: kalau sirup itu sudah
masuk pasar kah?
Mama Nela: sudah masuk toko
itukan oleh-oleh papua
Mama Nela: Nama sirupnya apa Mama
Nela?
Pewawancara: Nanfea
Mama Nela: Tapi saya tidak
lanjut produksi kemarin karena saya tunggu rumah produksi dan lapor ke Disperindakop,
dari sini mereka mengesahkan surat saya dan memanggil saya jumat kemarin dan
semoga tahun depan kita bangun, saya bilang kalau ada rumah produksi dan untuk
ijin-ijin yang lain sudah ada, hanya ijin halal dan rumah produksi.
Pewawancara: Jadi harapan Mama
Nela ini supaya ada ijin halal dan dibangunkan rumah produksi ya?
Mama Nela: Dibantu oleh
pemerintah karena semua yang saya alkukan adalah swadaya
Pewawancara: Kemudian ini Mama
Nela, Apa tips-tips dan giat-giat Mama Nela dalam mengajak masyarakat sini untuk
untuk menanam mangrove
Mama Nela: Saya mengajak mereka
langsung, jadi saya mengajak anak-anak kecil dari paud, anak-anak sekolah
minggu dan anak remaja, saya memanggil mereka, “ayo kita bersih-bersih pantai”?
mereka ikut dan disitu saya sampaikan untuk memberikan edukasi supaya mereka
bisa menjaga alam ini, saya bilang hidup ini tidak bisa kita bertanggung jawab
dengan diri sendiri saja tetapi kita hidup dan bertanggung jawab untuk orang
lain dan untuk bakti sosial, karena kita lahir dan meninggalpun orang lain yang
menolong kita. kita tidak bisa berdiri sendiri sampai hari ini. bagaimana saya
mengajak orang-orang dan saya tidak tau sepertinya ada sesuatu dalam bibir dan mulut,
ketika saya menyampaikan sesuatu orang percaya dan bisa mempercayai saya
begitu, jadi saya sampai ayo sudah, ayo kita sama-sama jalan dan setiap
kegiatan kalau saya sampaikan bahkan kalau ada yang tidak mendengar juga mereka
akan saling memberitahukan hal ini dan bersama-sama mengerjakannya. Jadi
seperti ada jiwa-jiwa leadership begitu, bisa mengorganisir orang datang
dan kita kerja.
Pewawancara: Kira-kira kalau tanam
mangrove masyarakat yang ikut berapa banyak?
Mama Nela: Kalau menanam
mangrove saya tidak bisa mengundang semua tetapi kadang saya undang per
organisasi
Pewawancara: maksud perorganisasi?
Mama Nela: Kalau ibu-ibu saya
biasa bawa dari dua puluh sampai tiga puluh orang dan kalau didalam pemuda
berarti saya menyuruh pemuda saja, begitu juga kalau hanya undang anak paud
berarti hanya paud saja dan saya tidak mengundang sampai semua kampung
Pewawancara: maksudnya kalau
pemuda ya pemuda saja, kalau mama, ya mama-mama saja?
Mama Nela: Iya... karena saya
juga tidak ada financial dan saya hanya modal masak, karena tidak ada uang
untuk membayar orang menanam, jadi saya panggil hanya dengan latar belakang
motivasi kita sendiri punya tempat dan kita kerjakan dan kita tidak usah tunggu
orang dari luar yang menjaga tempat ini, saya kasih pemahaman untuk kita jaga sama-sama.
Ini memang pekerjaan yang menurut sebagaian manusia terlalu rendah tapi menurut
Tuhan ini pekerjaan mulia.
Pewawancara: iya
Mama Nela: yang tidak di lihat
manusia itu yang Tuhan lihat
Pewawancara: iya betul
Mama Nela: Saya bilang ke
teman-teman, ibu-ibu dan semua sama-sama bersihkan, satu hari saja kita
bersihkan dan nanti kapan lagi ketika ada sampah kita bersihkan.
Pewawancara: Ok, berikutnya apakah
kegiatan tanaman mangrove ini hanya ada di Kampung Engros atau Mama Nela juga
menyebarkan ke kampung yang lain
Mama Nela: saya sudah ke Tobati.
saya punya dua kelompok binaan di Tobati
Pewawancara: disana ya? menyeberang
teluk ini?
Mama Nela: tidak, rumah-rumah yang
berhadapan dengan kami ini, saya punya PKK pondok karang taruna dan saya
berikan tiga belas ribu bibit dan saya sudah setor tiga ratus. Saya ajar mereka
membuat sirup mangrove.
Pewawancara: Oh begitu. Luar
biasa!
Mama Nela: Kemarin saya baru
antar tiga ratus dan saya bilang kalau ini sudah tinggi nanti saya antar lagi,
jadi jumlahnya tiga belas ribu.
Pewawancara: mantab
Mama Nela: Nanti lagi saya
sumbangkan ke kampung Nafri kampung lagi disana dan saya akan buat pelatihan
lagi. Begitu, jadi saya kerja sosial saja, ada berkat disana dan saya memakai
berkat untuk mengajar, menolong dan menjadi berkat buat orang lain juga.
Pewawancara: Iya luar biasa.
Mama Nela: jadi tidak harus
minta ke pemerintah, karena kalau minta ke pemerintah pasti banyak aturan, mana
kalau surat masuk di bulan ini dan itulah, aduh sangat repot. Alam tidak
menunggu bulan untuk dia harus datang kalau dia mau hari ini juga bisa dia datang,
kita tidak tau apa yang terjadi dan kita harus waspada dari sekarang. kita
semua sedang menunggu program pemerintah selesai.
Pewawancara: ohya Mama Nela,
manfaat mangrove kan banyak, tadi sudah disampaikan salah satunya adalah
menjaga kelestarian alam ada juga manfaat bisa dibuat untuk produk-produk
seperti sirup, kerajinan tangan. Apakah ada manfaat lain lagi?
Mama Nela: Manfaat lain yaitu
magrove ini sebagai "dapur" sebagai tempat menampung telur- telur
ikan dan kerang laut sebagai tempat perkembangbiakan. Dengan adanya warga
kampung ini yang mata pencahariannya adalah nelayan, otomatis magrove itu akan menjadi
tempat mata pencaharian mereka dan berharap dari hutan mangrove tersebut.
Ketika kami kesitu mendapatkan hasil dan membawa pulang hasil tangkapan kami
dan tidak hanya itu, kami juga manfaatkan kayu yang sudah kering untuk dijadikan
bahan bakar untuk masak hasil tangkapan kami, untuk dimakan bersama keluarga.
Pewawancara: Jadi mangrove
tersebut dijadikan sumber bahan baku, tempat tinggal biota laut dan menjadi sumber
penghasilan untuk masyarakat Kampung Engros. Apakah selama
kegiatan penanaman mangrove, ada kendala atau kesulitan yang dihadapi?
Mama Nela: iya kendala itu
mengenai pembangunan liar
Bardud duja: Pembangunan liar?
rumah?
Mama Nela: Penebangan hutan dan
penimbunan karang/reklamasi dan karena hal ini saya pernah lakukan demonstrasi
dua kali, karena tepat di jalan masuk kampung saya mereka lakukan reklamasi ada
yang sudah empat ratus meter dan dua hektar dan saya pimpin semua mama untuk
demo hamper, saya demo pengadilan dan oknumnya sudah di tahan tiga tahun
setengah dan itu saya demo sudah setahun yang lalu
Pewawancara: Jadi perusakan alam
oleh manusia?
Mama Nela: Jadi saya pikir ini
tugasnya Pemerintah khususnya Dinas Lingkungan Hidup untuk Pemerintah tidak memberikan
surat ijin membangun karena mereka tidak akan menimbun tanpa ada surat ijin
kan?
Pewawancara: Ia betul.
Mama Nela: Tidak
mungkin sekali karena mereka juga takut pemerintahkan? tapi karena ada surat
ini mereka jadi berani. Jadi Pemerintah jangan main-main juga artinya jangan
sampai karena uang dan kepentingan semata sehingga masyarakat yang jadi korban
dan bijaklah sebagai manusia, kita saling membantu dan mengontrol. Mangrove ini
juga memberikan oksigen terbesar untuk bumi, hutan Mangrove ini kan hanya ada
di Kota Jayapura dan yang lain ada di Sarmi. Teluk ini hanya ini saja yang
harus kita jaga sisanya dan yang paling banyak di daerah Pantai Hamadi yang
sudah di tebang tinggal sedikit saja di kampung kami ini dan semenjak dibangunnya
Jembatan Merah banyak yang di tebang dan saya berpikir itu adalah sesuatu yang
salah.
Pewawancara: Berarti hutan mangrove
di Kota Jayapura hanya tinggal sini saja?
Mama Nela: ia hanya ini saja.
Bagaimana cara Pemerintah bisa menjaga hutan ini bersama-sama dengan kita dan
tanpa memberikan ijin kepada pihak-pihak tertentu menebang pohon secara liar.
itu besar sekali lahan yang ditebang depan didepan kampung kami dan lagi
sepanjang jalan Jembatan merah sampai holtekamp dan penanaman ini menjadi salah
satu bukti yang dimana mereka menebang lagi. sebelumnya dari kampung kami semuanya
adalah mangrove dan tempat dimana kita berbicara sekarang adalah sebelumnya
hutan mangrove dan setelah ditebang dan terjadilah air pasang dan habislah
sebagian dari pulau ini karena pengikisan/abrasi.
Pewawancara: Lanjut Mama Nela, pertanyaan
terakhir, apa pesan Mama Nela untuk generasi muda di Kota Jayapura atau Papua
untuk menanam mangrove dan melestarikan alam?
Mama Nela: Pesan saya buat
generasi muda untuk menjaga hutan yang ada tersisa dan melestarikanya
sebagaimana menjaga dirinya, karena kehidupan manusia. Kota Jayapura dan Papua
tergantung dari alam. Ketika hari ini ia tidak menjaga dan melakukan hal itu
maka dua puluh tahun kemudian ia akan menikmati hasilnya yaitu penderitaan dan
perubahan iklim, polusi udara dan hari ini kami sudah merasakan itu panas yang
begitu dahsyat sebentar lagi kita terbakar dan untuk generasi muda jangan buang
waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat lakukanlah hal yang menjaga alam
saja. Kalau ada yang gratis kenapa cari yang bayar, menjaga alam itu sebenarnya
gratis kembali kepada diri kita dan tidak usah menunggu orang lain karena dari
kemauan kita sendiri kita kerja dengan hal yang kita bisa lakukan, bagus orang
lain akan terpancing dan meniru dan saya sangat senang dan bangga kepada
anak-anak muda ini ketika saya melakukan kegiatan dan kami mempunyai grup whatapps
dan sering menginfokan untuk melakukan hal ini, ada dari pemuda gereja mereka
biasa gabung untuk menanam.
Pewawancara: Sangat luar biasa dan
sangat menginspirasi kami Mama Nela, baik masyarakat Papua maupun semua masyarakat
seluruh Indonesia untuk melestarikan alam sekitar. Terima kasih Mama Nela atas kesediaan
waktunya, semoga sehat selalu.
Mama Nela: Aamiin
Pewawancara: Sekali lagi terima
kasih.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |