APBN Jawa Tengah hingga Agustus 2026: Penerimaan Tumbuh, Ekonomi Menguat, Tantangan Daya Beli dan Belanja Tetap Perlu Dijaga
Joko Surono
Selasa, 22 September 2026 |
1225 kali
Semarang, 22 September 2026 —
Kinerja fiskal dan perekonomian Jawa Tengah hingga Agustus 2026 menunjukkan
dinamika yang cukup beragam. Di satu sisi, penerimaan negara tumbuh positif dan
aktivitas ekonomi tetap berkembang. Di sisi lain, sejumlah indikator
menunjukkan perlunya perhatian terhadap daya beli masyarakat, tekanan pada
sektor manufaktur, percepatan belanja pemerintah, serta kualitas pengelolaan
fiskal daerah.
Gambaran tersebut mengemuka dalam Rapat Asset
and Liability Committee (ALCo) Regional Jawa Tengah yang membahas realisasi
APBN sampai dengan 31 Agustus 2026 serta perkembangan perekonomian terkini.
Data yang dipaparkan berasal dari sejumlah unit Kementerian Keuangan di Jawa
Tengah, Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), dan sumber terkait lainnya.
Secara keseluruhan, pendapatan negara di Jawa
Tengah hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp80,72 triliun atau 65,19 persen dari
target Rp123,82 triliun. Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp69,50
triliun atau 69,20 persen dari target Rp100,43 triliun.
Pada saat yang sama, pendapatan daerah tercatat Rp70,35
triliun atau 68,56 persen dari target Rp102,62 triliun, sedangkan belanja
daerah mencapai Rp57,33 triliun atau 52,20 persen dari target Rp109,83
triliun.
Data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan APBN dan APBD tidak hanya berbicara mengenai penerimaan dan pengeluaran pemerintah, tetapi juga berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, pelayanan publik, investasi, lapangan kerja, hingga daya beli masyarakat.
Penerimaan Pajak Tumbuh,
Aktivitas Ekonomi Menjadi Penopang
Dari sisi perpajakan, penerimaan pajak neto yang
dihimpun Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I dan II sampai
dengan Agustus 2026 mencapai Rp34,83 triliun. Angka tersebut setara
dengan 62,13 persen dari target Rp56,06 triliun dan tumbuh 23,7
persen dibandingkan periode yang sama.
Penerimaan bruto tercatat Rp37,12 triliun,
tumbuh 18,55 persen secara kumulatif.
Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut tidak berdiri
sendiri. Kinerja sejumlah sektor ekonomi utama, antara lain industri,
perdagangan, dan administrasi pemerintahan, turut memberikan kontribusi
terhadap penerimaan pajak.
Kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan yang erat
antara aktivitas ekonomi dan kapasitas fiskal. Ketika kegiatan produksi,
perdagangan, serta aktivitas ekonomi lainnya bergerak, penerimaan negara ikut
memperoleh manfaat melalui perpajakan.
Bea dan Cukai: Perdagangan dan
Industri Tetap Bergerak
Dari sisi kepabeanan dan cukai, penerimaan Kanwil
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta juga
menunjukkan pertumbuhan pada sejumlah komponen.
Sampai dengan Agustus 2026, Bea Masuk mencapai
sekitar Rp1,92 triliun dan tumbuh 22,52 persen, sedangkan Bea Keluar
mencapai Rp59,95 miliar dan tumbuh 18,10 persen. Penerimaan cukai tercatat
sekitar Rp38,27 triliun.
Kenaikan Bea Masuk antara lain dipengaruhi oleh
peningkatan nilai impor dan perubahan kurs. Sementara itu, kenaikan Bea Keluar
berkaitan dengan perubahan harga referensi crude palm oil (CPO). Pada sisi
cukai, kinerja penerimaan antara lain dipengaruhi oleh produksi hasil tembakau
dan minuman mengandung etil alkohol.
Namun, dinamika perdagangan Jawa Tengah tetap perlu
dicermati. Secara kumulatif sampai dengan Agustus 2026, nilai ekspor Jawa Tengah
tercatat sekitar US$9,70 miliar, sedangkan impor mencapai US$11,84
miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan mengalami defisit sekitar US$2,14
miliar.
Menariknya, sektor nonmigas masih mencatat surplus
sekitar US$2,01 miliar, sementara defisit terutama berasal dari sektor
migas yang mencapai sekitar US$4,24 miliar.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa kinerja
ekspor nonmigas Jawa Tengah tetap memiliki peran penting, sekaligus menunjukkan
besarnya pengaruh kebutuhan impor energi terhadap neraca perdagangan daerah.
Ratusan Ribu Pekerja Terserap di
Perusahaan Penerima Fasilitas
Peran perdagangan dan industri juga tercermin dari
fasilitas kepabeanan yang diberikan kepada dunia usaha.
Sampai dengan 31 Agustus 2026, terdapat 397
perusahaan penerima fasilitas Tempat Penimbunan Berikat (TPB) dan Kemudahan
Impor Tujuan Ekspor (KITE) di wilayah kerja Kanwil DJBC Jawa Tengah dan
D.I. Yogyakarta.
Dari jumlah tersebut, 349 merupakan penerima
fasilitas TPB dan 48 penerima fasilitas KITE.
Yang tidak kalah penting adalah dampaknya terhadap
tenaga kerja. Perusahaan penerima fasilitas tersebut menyerap sekitar 700.735
tenaga kerja, terdiri atas 661.281 pekerja pada perusahaan TPB dan
39.454 pekerja pada perusahaan KITE.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan
kepabeanan tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara, tetapi juga memiliki
dimensi yang lebih luas, yaitu mendukung aktivitas produksi, investasi,
perdagangan, dan kesempatan kerja.
Di kawasan ekonomi khusus, dua kawasan di Jawa
Tengah, yakni KEK Kendal dan KEK Batang, mencatat total investasi
sekitar Rp49,97 triliun dengan 167 pelaku usaha dan penyerapan
sekitar 71.743 tenaga kerja hingga triwulan II 2026.
Kekayaan Negara Mendukung
Infrastruktur dan Program Pemerintah
Pengelolaan kekayaan negara juga memberikan
kontribusi terhadap pembangunan regional.
Di Jawa Tengah, realisasi pembebasan atau pengadaan
tanah untuk Proyek Strategis Nasional sampai dengan Agustus 2026 secara
kumulatif mencapai sekitar Rp29,842 triliun. Pada Agustus 2026 saja,
realisasi tercatat sekitar Rp24,675 miliar, antara lain untuk
pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak, Yogyakarta–Bawen, dan
Solo–Yogyakarta–Kulon Progo.
Di sisi lain, pengelolaan BMN juga diarahkan untuk
mendukung program prioritas pemerintah. Sebanyak 62 BMN dengan nilai sekitar
Rp32,03 miliar telah dipersiapkan untuk mendukung sejumlah program,
termasuk Sekolah Rakyat, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan Koperasi Desa/Kelurahan
Merah Putih (KDMP).
Sebanyak 21 BMN telah memperoleh persetujuan
pemanfaatan melalui skema sewa, dengan luas objek sekitar 9.470,05 meter
persegi dan nilai persetujuan pemanfaatan sekitar Rp359,2 juta
sampai dengan 14 Agustus 2026.
Sementara itu, terdapat 554 unit BMN dengan
nilai sekitar Rp58,54 triliun yang menjadi underlying asset Surat Berharga
Syariah Negara (SBSN) di Jawa Tengah. Aset tersebut menjadi bagian dari
dukungan pembiayaan pembangunan melalui instrumen surat berharga negara berbasis
syariah.
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah
Mencapai 5,71 Persen
Dari sisi perekonomian daerah, Jawa Tengah tumbuh 5,71
persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026, setelah tumbuh 5,89
persen pada triwulan I. Secara kumulatif semester I 2026, pertumbuhan ekonomi
Jawa Tengah mencapai 5,80 persen.
Dengan kontribusi sekitar 14,50 persen terhadap
perekonomian Pulau Jawa, Jawa Tengah menjadi salah satu kekuatan ekonomi
penting di kawasan tersebut.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada
triwulan II 2026 berasal dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang
tumbuh 15,80 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari
ekspor barang dan jasa, termasuk ekspor antardaerah, yang mencapai 15,85
persen.
Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut perlu dibaca
bersama indikator lainnya. Struktur perekonomian Jawa Tengah masih sangat
dipengaruhi oleh sektor manufaktur dan konsumsi rumah tangga.
Karena itu, perkembangan daya beli masyarakat
menjadi salah satu faktor penting yang perlu terus dipantau.
Inflasi Terkendali, tetapi Harga
Pangan Tetap Perlu Diperhatikan
Pada Agustus 2026, Jawa Tengah mengalami inflasi
sebesar 0,37 persen secara bulanan (mtm), 3,08 persen secara tahunan (yoy),
dan 1,75 persen secara tahun kalender.
Inflasi Jawa Tengah secara tahunan masih sedikit
lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,19 persen.
Meski demikian, kelompok makanan masih menjadi
salah satu sumber tekanan inflasi. Sejumlah komoditas yang memberikan andil
terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, bensin, daging ayam
ras, beras, dan minyak goreng.
Kondisi tersebut penting bagi masyarakat karena
inflasi bukan hanya persoalan statistik. Perubahan harga kebutuhan pokok secara
langsung memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Daya Beli dan Manufaktur Menjadi
Perhatian
Indikator lain menunjukkan adanya sinyal yang perlu
diperhatikan.
Indeks Keyakinan Konsumen Jawa Tengah pada Agustus
2026 berada pada level 117,8, meningkat dari 113,4 pada Juli dan masih
berada pada zona optimistis karena berada di atas 100.
Namun, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur
Indonesia pada Agustus 2026 berada pada level 49,8, turun dari 50,2 pada
Juli. Posisi di bawah 50 menunjukkan kontraksi aktivitas manufaktur
dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa optimisme
konsumen masih terjaga, tetapi sektor industri menghadapi tekanan permintaan
yang perlu dicermati, baik dari pasar domestik maupun global.
Di tengah situasi tersebut, sektor pertanian juga
menunjukkan perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah pada
Agustus 2026 mencapai 118,84, meningkat 0,68 persen dibandingkan bulan
sebelumnya. Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada pada level 105,59.
Kemiskinan Menurun, Ketimpangan
Perlu Terus Dijaga
Dari sisi kesejahteraan masyarakat, persentase
penduduk miskin Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat 9,21 persen, turun
dari 9,39 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 3,29
juta orang, turun sekitar 59,39 ribu orang dibandingkan September 2025.
Namun, penurunan kemiskinan tersebut berlangsung
bersamaan dengan peningkatan ketimpangan pengeluaran.
Gini Ratio Jawa Tengah pada Maret
2026 mencapai 0,354, meningkat 0,004 poin dibandingkan September 2025
yang sebesar 0,350.
Artinya, tantangan pembangunan tidak berhenti pada
bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan, tetapi
juga memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara lebih merata.
Indeks Pembangunan Manusia Jawa Tengah pada 2025
tercatat 74,77, meningkat 0,90 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didukung oleh perbaikan sejumlah indikator, antara lain
umur harapan hidup, pengeluaran per kapita yang disesuaikan, harapan lama
sekolah, dan rata-rata lama sekolah.
Belanja Pemerintah Perlu Terus
Didorong
Dari sisi fiskal daerah, terdapat ruang untuk
mempercepat realisasi belanja. Sampai dengan akhir Agustus 2026, realisasi
belanja daerah baru mencapai Rp57,33 triliun atau 52,20 persen dari target
Rp109,83 triliun.
Sementara itu, akumulasi kas daerah yang meningkat
akibat ketidakseimbangan antara penerimaan dan realisasi belanja perlu dikelola
secara cermat. Materi ALCo menekankan pentingnya penguatan cash forecasting
dan percepatan realisasi belanja pada periode akhir tahun agar pengelolaan kas
daerah lebih optimal.
Hal ini penting karena belanja pemerintah memiliki
fungsi ekonomi. Ketika anggaran yang telah dialokasikan terealisasi secara
tepat waktu dan tepat sasaran, belanja tersebut dapat menggerakkan aktivitas
ekonomi, mendukung pelayanan publik, serta memberikan manfaat langsung maupun
tidak langsung kepada masyarakat.
Sejumlah Isu Strategis Memerlukan
Perhatian
Di balik capaian tersebut, terdapat sejumlah isu
yang perlu mendapat perhatian.
Salah satunya berkaitan dengan Koperasi
Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dari 8.523 KDKMP yang tercatat, sekitar
63 persen telah beroperasi. Namun, terdapat 1.297 lokasi yang berdiri di
atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD) berdasarkan data spasial yang tersedia.
Persoalan tersebut berkaitan dengan kesesuaian tata
ruang, legalitas lokasi, serta keberlanjutan operasional aset. Penyelesaian
persoalan lahan menjadi penting agar pembangunan fasilitas tidak menimbulkan
persoalan hukum maupun fiskal di kemudian hari.
Isu lainnya adalah akses masyarakat berpenghasilan
rendah terhadap program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Materi ALCo mencatat masih terdapat persoalan perizinan, biaya pemecahan
sertifikat dan penerbitan BPHTB, serta kesiapan utilitas dasar seperti listrik
dan air.
Data yang sama mencatat terdapat 18.402 ASN
pemerintah daerah yang belum memiliki rumah, sementara persoalan perbedaan
domisili dengan alamat pada KTP menjadi salah satu kendala akses terhadap FLPP
di lokasi yang dekat dengan tempat bekerja.
APBN Bukan Sekadar Angka
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa kinerja
APBN dan perekonomian Jawa Tengah hingga Agustus 2026 memiliki banyak sisi.
Penerimaan negara tumbuh positif. Perdagangan dan
industri tetap bergerak. Investasi dan penyerapan tenaga kerja menunjukkan
aktivitas ekonomi yang cukup besar. Pertumbuhan ekonomi berada pada level 5,71
persen secara tahunan. Kemiskinan menurun dan pembangunan manusia terus
mengalami peningkatan.
Namun, angka-angka tersebut juga membawa pekerjaan
rumah: menjaga daya beli, mengantisipasi tekanan harga pangan, memperkuat
sektor manufaktur, mempercepat belanja pemerintah, mengurangi ketimpangan,
serta memastikan setiap program dan aset negara memiliki landasan hukum dan
manfaat yang jelas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengelolaan
fiskal tidak hanya tercermin dari seberapa besar penerimaan negara terkumpul
atau berapa persen anggaran telah dibelanjakan. Yang tidak kalah penting adalah
seberapa jauh uang negara mampu kembali kepada masyarakat dalam bentuk
pelayanan publik, kesempatan kerja, infrastruktur, perlindungan sosial, dan
peningkatan kualitas hidup.
Di titik inilah APBN dan APBD menjadi lebih dari
sekadar angka dalam laporan keuangan. Keduanya merupakan instrumen negara untuk
menjaga perekonomian tetap bergerak sekaligus memastikan manfaat pembangunan
dapat dirasakan oleh masyarakat Jawa Tengah secara luas dan
berkelanjutan.
Penulis :
Joko Surono, S.E.
Kasi
Informasi Bidang KIHI Kanwil DJKN Jateng dan DIY
Referensi
:
Laporan ALCO Kanwil DJKN Jateng dan DIY s.d bulan Agustus 2026;
Laporan ALCO Kanwil DJP Jateng dan DIY s.d bulan Agustus 2026;
Laporan ALCO Kanwil Bea dan Cukai Jateng dan DIY s.d bulan Agustus 2026;
Laporan ALCO Kanwil DJPB Jateng DIY s.d bulan Agustus 2026;
Rangkuman Ulasan PPT dari Local Expert Jateng dan DIY 22 September 2026
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel