Kanwil DJKN Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Artikel DJKN

Mengenal Kepemimpinan dan Model Kepemimpinan

Rabu, 05 September 2018   |   6261 kali

Kedua istilah tersebut sering kali kita temui baik itu dalam literature ataupun dalam perbincangan sehari-hari di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sementara itu diantara masyarakat itu sendiri banyak yang belum memahami artinya dengan benar. Penulis yakin apabila hal tersebut ditanyakan kepada orang-orang yang berada disekitar kantor kita, satu dengan yang lainnya tentu mempunyai penafsiran yang berbeda-beda yang tidak sesuai dengan definisi sebagaimana yang kita temui dalam literature manajemen. Marilah kita simak bersama-sama makna yang benar dari kedua istilah tersebut sesuai dengan ilmu manajemen.

 

Apa itu Kepemimpinan?

Dalam istilah umum khususnya di manajemen, kepemimpinan itu sering disebut dengan istilah Leader

Ada beberapa definisi dari kepemimpinan antara lain:

1.      Getting things done yaitu mencapai hasil melalui orang lain

2.      Menggerakkan orang lain untuk mencapai hasil kerja yang diinginkan

3.      Kepemimpinan itu adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang

4.      Kepemimpinan adalah satu kata yaitu Influence artinya mempengaruhi, memotivasi, mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi

 

Kesimpulan :  

Kepemimpinan itu adalah tentang bagaimana mempengaruhi orang lain, bawahan atau pengikut agar mau mencapai tujuan yang diinginkan sang pemimpin.

Apa itu Model Kepemimpinan ?

Dalam ilmu manajemen pada umumnya, dikenal 3 (tiga) model kepemimpinan. Pada umumnya ketiga model kepemimpinan ini sering kita lihat  pada diri para leader dalam praktek sehari-hari dalam memanage kantor atau perusahaan. Masing-masing model mempunyai warna tersendiri, ada yang timbulnya karena anugerah Tuhan YME, ada juga timbulnya sangat erat hubungannya dengan sifat atau karakter dari seseorang itu sendiri, bahkan ada yang timbul karena hasil dari proses pembelajaran.

Ketiga model kepemimpinan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1.      Kepemimpinan Karismatik adalah :

       Kepemimpinan yang berasal dari anugerah Tuhan, yang mana pemimpin tersebut mempunyai kemampuan luar biasa, magnit yang kuat dan adanya ketertarikan emosional yang kuat dari yang dipimpin kepada pemimpinnya.

       Contohnya : Bung Karno, Anwar Sadat, Mahatma Gandhi.

2.      Kepemimpinan Transaksional adalah :

a.   Kepemimpinan untuk mengendalikan bawahan dengan cara menggunakan kekuasaan untuk mencapai hasil.

b.   Mengelola bawahan dengan memberi reward dan punishment.

c.   Biasa menerapkan transaksi yang saling menguntungkan dengan bawahan.

3.      Kepemimpinan Transformasional adalah :

      Model kepemimpinan yang efektif dan telah diterapkan di berbagai organisasi internasional yang mengelola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya dengan menekankan pada beberapa factor antara lain perhatian (attention), komunikasi (communication), kepercayaan (trust), rasa hormat (respect) dan resiko (risk).

 

4 (empat) perilaku spesifik dari Kepemimpinan Transformasional

Seorang pemimpin dapat dikategorikan mempunyai sifat kepemimpinan trasformasional manakala memiliki perilaku sebagai berikut :

1.      Credible, artinya mempunyai sifat konsisten dan komitmen yang tinggi apa yang diucapkannya dengan yang diperbuat.

2.      Creation Opportunities, artinya menciptakan peluang bagi orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

3.      Carying, artinya menunjukkan kepedulian kepada orang lain sehingga membuat bawahan merasa diakui menjadi bagian dari organisasi.

4.      Communication, artinya mempunyai ketrampilan komunikasi yang baik dengan orang lain.

 

Terdapat 3 (tiga) aspek dalam Kepemimpinan Transformasional, yakni :

1.      Vision adalah kemampuan diri untuk menggambarkan, menjelaskan dan meyakinkan bawahan tentang kondisi masa depan yang diinginkannya sekaligus mewujudkannya.

2.      Power adalah memiliki pengaruh, kendali dan kuasa terhadap orang lain atau kelompok sehingga mendapatkan dukungan yang kuat untuk mencapai tujuannya.

3.      Self Confidence adalah kepercayaan diri untuk bertindak yang bersumber dari pengalaman atas hal-hal yang terjadi pada kehidupannya.

 

Power

Dalam bab ini akan dibahas lebih mendalam tentang Power daripada 2 aspek lainnya yaitu Vision dan self confidence. Pertimbangannya karena Power merupakan motif yang sangat kuat dan dibutuhkan bagi seorang manager atau leader agar mencapai keberhasilan dalam memimpin suatu organisasi ( need for power ).

Dengan memiliki power seorang manager atau leader akan mendapatkan dukungan dari orang lain. Ini berarti seorang manager atau leader membutuhkan pengaruh dan kekuasaan untuk bisa mencapai tujuannya.

 

4 (empat) jenis Power

Terdapat 4 (empat) jenis power pada  seorang leader atau manager pada umumnya,  yakni :

1.      Personalized Power

Lebih digunakan untuk menunjukkan bahwa kekuasaannya lebih besar dari orang lain, menunjukkan keistemewaan  statusnya.

Contoh : Minta lift khusus, tempat parkir khusus, kendaraan khusus dll

2.      Personal Power

Berasal dari keahlian tertentu, sering disebut Expert Power, dapat juga berasal karena persahabatan atau disebut Referet Power

3.      Position Power

Berasal dari otoritas yang sah atau Legitimate Power, secara formal memiliki kendali atas SDM, finansial dan fasilitas

4.      Prosocial Power

Kekuasaan tersebut tersebar diseluruh jenjang jabatan (tidak hanya di puncak jabatan), saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain, banyak memberikan keuntungan, pekerjaan mudah terselesaikan.

 

Unsur Kepeminpinan Transformasional

Terdapat 8 (delapan) unsur dalam Kepemimpinan Transformasional yang berpengaruh bagi seorang manajer atau leader dalam mencapai tujuan  organisasi. Kedelapan unsur tersebut adalah sebagai berikut

1.      Budaya Organisasi

       Yang dimaksud dengan budaya organisasi disini adalah :

a.   Nilai-nilai dominan yang didukung oleh organisasi

b.   Norma-norma yang mengarahkan bagaimana para anggota seharusnya berperilaku

c.   Nilai-nilai tentang apa yang seharusnya ada dan diterapkan di dalam organisasi

Contoh  budaya organisasi yang ada di Kementerian Keuangan : Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, Kesempurnaan. Contoh budaya organisasi yang ada di DJKN : Integritas, Komitmen, Ketulusan. Contoh ekstrim seperti bushido yang menjadi prinsip hidup para samurai di Jepang.

2.      Integrity

       Pengertian secara sederhana dari integrity adalah mempertahankan tingkat kejujuran dan etika yang tinggi dalam perkataan dan tindakan sehari-hari. Integrity ini memiliki 4 level, yakni :

a.   Dapat dipercaya ( sama dalam kata dan perbuatan ).

b.   Sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya kebenarannya.

c.   Konsisten menerapkan norma-norma yang ada.

d.   Bertindak sesuai kode etik dan prinsip moral.

Intinya adalah kualitas untuk bertindak jujur dan memiliki prinsip moral yang kuat

3.      Continuous Improvement

a.   Perbaikan yang berkesinambungan ( terus menerus ) yang bertujuan untuk peningkatan proses kerja organisasi, peningkatan kualitas, efisiensi, atau efektivitas .

b.   Seorang pemimpin harus secara aktif mampu mendorong setiap bawahan untuk melakukan peningkatan hasil dan proses kerja melalui perbaikan-perbaikan .

c.   Mampu menciptakan lingkungan yang terus menerus melakukan perbaikan proses kerja.

4.      Continuous Learning

a.   Pembelajaran berkesinambungan yakni belajar memperluas pengetahuan dan ketrampilan baik melalui proses pembelajaran formal maupun informal.

b.   Mampu memberi inspirasi kepada bawahan untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan pekerjaan

c.   Orang yang selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sepanjang masa kerja

Pemimpin ini mampu memberi contoh dan dorongan kepada orang lain untuk belajar terus menerus.

5.      Managing Others

a.   Mengarahkan dan memimpin orang lain untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi

b.   Pemimpin ini mampu secara efektif mengelola dan mengarahkan kegiatan orang lain

c.   Mereka bekerja melalui orang lain untuk mencapai tujuan dan mendorong kinerja melalui motivasi

d.   Pemimpin ini memberi kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan atau melakukan tugas-tugas yang menantang ini terjadi saat orang yang dipimpinnya sangat mampu dan termotivasi ( Laissez-Faire )

e.   Mereka  memiliki tipe pendidik dan pelatih.

6.      Interpersonal Communication

a.   Berkomunikasi secara jelas dan efektif dengan orang-orang di dalam dan di luar organisasi

b.   Menyampaikan informasi, pikiran, atau pendapat dengan jelas, singkat, dan tepat serta menggunakan tata bahasa yang baik

c.   Bersikap terbuka dan mendengarkan orang lain

d.   Menyampaikan suatu informasi yang sensitif dan/atau rumit dengan cara penyampaian dan kondisi yang tepat sehingga dapat dipahami pihak lain\

e.   Menyampaikan informasi kepada pihak lain dengan cara-cara menarik dan mudah dimengerti

7.      Stakeholder Service

a.   Stakeholder adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan perusahaan

b.   Stakeholder service adalah mengenali dan memahami kebutuhan pemangku kepentingan ( stakeholders ) dan menyampaiakn hasil yang melebihi harapan pemangku kepentingan

c.   Orang ini cenderung memiliki keinginan untuk menyenangkan pemangku kepentingan sebaik-baiknya dengan cara mengenali kebutuhan pemangku kepentingan dan memastikan bahwa pemangku kepentingan akan merasa puas

d.   Prinsip : Better, Faster, Newer, Cheaper, More Simple

8.      Mengelola Bawahan

Dalam mengelola bawahan pada dasarnya terdapat 4 (empat) tipe bawahan, yakni sebagai berikut : Tipe Konstruktif, Tipe Impulsif, Tipe Rutin, Tipe Subversi

Adapun penjelasan dari masing-masing tipe tersebut berikut tips cara mengelolanya adalah sebagai berikut :

a.   Tipe Bawahan Konstruktif

Berani mengemban tanggung jawab, dapat dipercaya, mampu memahami dan menginterpretasikan keinginan atasan, tidak sekadar meniru atasan, tetapi memiliki pemikiran kreatif, berpandangan kedepan, memiliki ambisi serta tanggap terhadap berbagai situasi.

TIPS    :

Bawahan tipe konstruktif sangat potensial untuk dikembangkan, berikan sasaran yang ingin dicapai, kemudian menyerahkan teknis pelaksanaan tugas kepada bawahan tersebut.

b.   Bawahan Tipe Rutin

Tingkat kemampuan intelektual dan daya imajinasi di bawah tipe konstruktif, kurang memiliki inisiatif, cenderung gamang jika tanpa petunjuk dan arahan yang jelas, namun jika diarahkan dengan benar, ia dapat bekerja dengan loyal dan sepenuh hati

TIPS    :

Bawahan tipe rutin dapat bekerja efektif jika diberi arahan yang jelas, berikan saran yang hendak dicapai, kemudian memberikan arahan dan prosedur yang jelas. Jika perlu dengan target waktu.

c.   Bawahan Tipe Impulsif

Cenderung mudah berubah mengikuti lingkungan (seperti bunglon), melakukan tugas atas dasar suka atau tidak suka pada pimpinan, sangat tidak imajinatif

TIPS    :

Utamakan pendekatan personal serta berikan arahan dan petunjuk yang lengkap beserta target, gar bekerja dengan baik pimpinan harus berikan perhatian dan teladan.

d.   Bawahan Tipe Subversif

     Sulit dikontrol, tidak memiliki prinsip yang kuat, cenderung memikirkan keuntungan pribadi, dapat menghalalkan berbagai cara untuk mencapai keinginan   ( misal: provokasi, menjilat, dsb

TIPS    :

Berikan tugas dengan penekanan pada sasaran yang hendak dicapai, jika memungkinkan, janjikan imbalan atau hukuman yang sesuai.

 

Bagaimana dengan Karakter Kepemimpinan & Model Kepemimpinan dalam Program Budaya Kerja & Nilai-Nilai di Lingkungan Kementerian Keuangan itu sendiri?

Pertanyaan tersebut diatas perlu kiranya disampaikan untuk mengetahui sejauh mana konsep kepemimpinan dan model kepemimpinan yang diatur pada institusi Kemenkeu

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak bersama Keputusan Menteri Keuangan nomor 312/KMK.01/2011 Tanggal 12 September 2011 Tentang Nilai-Nilai Kementerian Keuangan.

Pada Diktum Menimbang disebutkan bahwa dalam rangka mewujudkan Kemenkeu sebagai institusi pemerintah terbaik, berkualitas, bermartabat, terpercaya, dihormati/ disegani, mendukung peningkatan kinerja dan menjadi dasar atau pondasi yang kuat bagi institusi, pimpinan dan seluruh pegawai dalam mengabdi, bekerja dan bersikap, Menkeu sebagai Top Leader perlu menetapkan Nilai-Nilai Kemenkeu yang wajib dimiliki dan diimplementasikan oleh pimpinan dan seluruh pegawai dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari, yakni  sebagai berikut :

1.      Integritas

Dalam Integritas terkandung makna bahwa dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan baik dan benar serta selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.

2.      Profesionalisme

Dalam ProfesionaIisme terkandung makna bahwa dalam bekerja, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.

3.      Sinergi

Dalam Sinergi terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkuaIitas.

4.      Pelayanan

Dalam Pelayanan terkandung makna bahwa dalam memberikan pelayanan, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman.

5.      Kesempurnaan

Dalam Kesempurnaan terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

 

Selain dari hal tersebut, dalam rangka penguatan dan penyempurnaan terwujudnya Kepemimpinan dan Model Kepemimpian di Kemenkeu yang berorientasi pada Model Kepemimpian Transformasional, Menteri Keuangan selaku Top Leader juga telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor 127/KMK.01/2013 tanggal 3 April 2013 Tentang Program Budaya di Lingkungan Kemenkeu, yang mana dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut diharapkan seluruh jajaran pimpian di Kemenkeu dapat mengimplementasikan 5 (lima) program budaya dalam pelaksanaan tugas kepemimpinan sehari-hari untuk mendorong para pegawai mampu melaksanakan hal-hal sebagai berikut :

1.      Satu informasi setiap hari

2.      Dua menit sebelum jadual

3.      Tiga salam setiap hari

4.      Rencanakan, kerjakan, Monitor dan tindaklanjuti

5.      Ringkas, rapi, resik, rawat, rajin.

           

Kesimpulan :

Dari kelima nilai-nilai Kemenkeu dan program budaya tersebut diatas, kalau kita sandingkan dengan Teori Kepemimpinan dan Model Kepemimpinan yang telah diuraikan pada bahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.   Konsep kepemimpinan dan Model Kepemimpinan di Kemenkeu yang mengedepankan 5 (lima) Nilai-Nilai Kemenkeu & program budaya tersebut apabila ditinjau dari sisi perilaku spesifik dan unsurnya, ternyata telah sesuai dan selaras dengan kepemimpinan dan model kepemimpinan yang efektif & modern yakni Kepemimpinan Transformasional. Oleh karena itu, maka seluruh jajaran pimpinan di lingkungan Kemenkeu wajib menjalankan kepemimpinan dan model kepemimpinan Transformasional yang menrefleksikan  pada nilai-nilai Kemenkeu dan program budaya Kemenkeu.

2.   Nilai integritas, yang mempunyai makna bahwa pemimpin dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak itu harus baik dan benar serta selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip mora inil selaras dengan perilaku spesifik yang credible dan unsur integrity.

3.   Nilai profesionalisme, yang mempunyai makna bahwa dalam bekerja, Pimpinan harus melakukannya dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi telah selaras juga dengan perilaku yang credible dan unsur integrity.

4.   Sinergi, yang mempunyai makna Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkuaIitas ini telah selaras dengan perilaku spesifik Communication dan unsur interpersonal communication.

5.   Nilai Pelayanan, yang mempunyai makna bahwa dalam memberikan pelayanan, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman ini selaras dengan perilaku spesifik carrying dan unsur stakesholders service.

6.   Nilai kesempurnaan, yang memenuhi makna Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik ini selaras dengan perilaku spesifik creations oppurtunities dan unsur continuous improvement.

7.   Demikian pula dengan terlaksananya 5 (lima) program budaya di lingkungan Kemenkeu tersebut diatas, diharapkan  Kepemimpinan & Model Kepemimpinan yang diterapkan oleh para pimpinan di lingkungan Kemenkeu benar-benar sempurna membuktikan adanya 4(empat) perilaku spesifik dan 8 (delapan) unsur sebagaimana yang ada pada Kepemimpinan Transformasional,

 

Penutup

Kata-Kata Motivasi Menteri Keuangan Yang Kemudian Dipopulerkan Oleh Dirjen KN

“ Good Is Not Enough, When Better Is Expected “ ………

Mari  Kita  Berlomba Menuju Kesana !!!

Selamat bekerja dengan ikhlas dan amanah…….

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN :

1.    John C Maxwell, Laws of Leadership

2.    Prof Dr H Veithzal Rivai, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi,

3.    Sondag P. Siagian, Teori & Praktek Kepemimpinan

4.    BDK Magelang, Bahan Ajar Diklatpim III, Angkatan ke-50, Tahun 2013

 

 

                                                              Ditulis oleh : P. Soebagio

                                                             (Bidang Lelang Kanwil DJKN Jateng & DIY)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Kontak
Gedung Keuangan Semarang II Lantai 2-3, Jl. Imam Bonjol No. 1d Semarang - 50142
(024) 3545987, 3545919
(024) 3542283
kanwildjkn9@kemenkeu.go.id