Kanwil DJKN DKI Jakarta
Kilas Peristiwa DJKN

Hijrah Menggapai Akhir Yang Indah

Selasa, 25 September 2018   |   0 kali

Jakarta (25/9) – Memasuki tahun baru Islam 1440 H, Kantor Wilayah (Kanwil) DJKN DKI Jakarta menggandeng Kerukunan Pensiunan DJKN untuk perkuat silaturahmi mengisi bulan Muharram dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti sholat Dzuhur berjamaah, ceramah agama dan menyantuni anak yatim.

“Bertepatan dengan tahun baru 1440 H, mari kita menguatkan silaturahmi dan berlomba-lomba mencari kebaikan/barokah” ujar Kepala Kanwil DJKN DKI Jakarta Hady Purnomo saat memberikan sambutan. Hady berharap pada jemaah yang hadir agar kegiatan bersama Kerukunan Pensiunan DJKN tidak hanya saat Muharram, namun di bulan-bulan lain juga diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Hady berjanji melalui Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ikhlas, Kanwil DJKN DKI Jakarta akan memfasilitasi untuk bersinergi dengan program kerja Kerukunan Pensiunan DJKN.

Selanjutnya, pengajian digelar di Masjid Al Ikhlas menghadirkan penceramah ustadz DR.KH. Muhammad Haris Hakam,SH.MA. mengawali kajiannya, ustadz Haris menjelaskan makna hijrah.

“Hijrah dalam konteks histori adalah sesuatu peristiwa yang pernah terjadi dan tidak berulang.  1440 tahun lalu terjadi dan tidak pernah berulang lagi. Namun jika Hijrah dipahami sebagai sebuah konsep yang dinamis, konsep merubah sebuah tatanan untuk membentuk sebuah masyarakat madani, maka hijrah menjadi sebuah konsep yang terus hidup karena dapat digunakan kapan dan dimanapun kita berada” terang ustadz Haris.

Hal yang menarik pada tanggal 10 Muharram dimaknai sebagai lebaran anak yatim.  Terkait hal tersebut, Ustadz Haris mengingatkan bahwa sebaik-baiknya menyantuni anak yatim adalah dengan mendatangi mereka, bukan mengundang mereka untuk mendatangi kita. Hal itu telah dicontohkan nabi Muhammad SAW. “Konsep ‘blusukan’ itu konsep Nabi Muhammad” ujar Haris. “Nabi turun ke bawah, berangkat dan pulangnya melalui jalan yang berbeda agar lebih banyak melihat dan mendapatkan ilmu tentang kemasyarakatan”. Yang kedua, nabi mencontohkan agar mengusap kepala anak yatim dari belakang ke depan.

Selain konsep blusukan, nabi juga mengenalkan konsep pengasuhan sebagai orang tua asuh anak yatim.  Ustadz Haris menyarankan, hendaknya ada keterlibatan masjid Al Ikhlas seyogyanya mengambil 2 atau 3 anak yatim dan menyantuninya secara rutin.  Tidak hanya disantuni secara simbolik sesekali.

Di dalam Al Qur’an sudah sangat jelas bahwa sebagai seorang muslim yang taat hendaknya menyantuni anak yatim. Janji Allah bagi mereka yang bertaqwa seperti dengan mengasihi dan menyayangi anak yatim, maka surgalah tempat terbaik bagi mereka. Bagi mereka yang berlaku sewenang – wenang dengan anak yatim bahkan sampai menyakiti hatinya, jangan harap mereka akan mendapatkan surga-Nya Allah Swt. Karena salah satu tuntunan, himbauan dan perintah yang ditekankan dalam hal mengupayakan untuk selalu memuliakan anak yatim adalah dengan menghindarkan diri mereka dari perilaku atau pun tindakan sewenang-wenang. “Jangan pernah membuat anak yatim menangis.  Saat menyantuni anak yatim, buat mereka tersenyum. Senyum tulus yang keluar dari hati, hingga dalam hatinya terucap syukur dan terima kasih dengan ikhlas”.

Di akhir ceramah, Haris menekankan agar umat muslim selalu istikhomah, konsisten dalam melakukan kebaikan. Teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan ridho Allah Ta’ala(teks/foto : Asya, Hanum/KIHI)

Penulis : HERI ASYA
Tanggal ditulis : Selasa, 25 September 2018
Terakhir diedit : Rabu, 26 September 2018
Foto Terkait Kilas Peristiwa
Pengumuman
Kontak
Jl. Prajurit KKO Usman dan Harun No. 10 Jakarta Pusat 10410
+62 21 34835141
+62 21 3441403
bidang.hi@gmail.com