Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN DKI Jakarta
Phishing dan Kebiasaan Klik Tanpa Pikir Panjang

Phishing dan Kebiasaan Klik Tanpa Pikir Panjang

Ridha Setiyati Muthmainnah
Selasa, 30 Juni 2026 |   257 kali

Apa Itu Phishing?

Phishing adalah salah satu bentuk penipuan siber yang cukup sering terjadi belakangan ini. Sederhananya, phishing adalah usaha memancing seseorang agar memberikan informasi pribadi atau data penting seperti password, PIN, atau nomor rekening, dengan cara menyamar sebagai pihak yang dipercaya, misalnya bank, instansi pemerintah, atau layanan digital populer.

Modusnya bisa lewat email, SMS, link palsu, bahkan tampilan website yang sangat mirip dengan aslinya. Tujuan akhirnya adalah agar korban tergoda untuk “klik” lalu tanpa sadar mengisi data yang sebenarnya langsung dikirim ke pelaku.

 

 Mengapa Kita Sering Tertipu Phishing?

Salah satu penyebab utama orang tertipu phishing adalah kebiasaan kita yang terburu-buru. Sering kali, kita menerima email atau pesan masuk dan langsung mengklik tautan tanpa berpikir panjang. Apalagi jika isi pesannya bersifat mendesak, seperti “Akun Anda akan dinonaktifkan” atau “Segera perbarui data Anda”.

Desain pesan phishing juga sekarang semakin rapi dan profesional sehingga membuat kita susah membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Ditambah lagi, tidak semua orang terbiasa untuk memeriksa URL atau tanda-tanda kecil yang menunjukkan kalau itu jebakan. Akibatnya? Data bocor, akun diretas, atau bahkan kerugian finansial.

 Dampak Phishing Terhadap Instansi dan Individu

Kalau bicara dampak, phishing bukan sekadar membuat kita kehilangan akun media sosial. Di level instansi, phishing bisa membuka celah keamanan besar. Akses ke sistem internal bisa dimanfaatkan untuk mencuri dokumen penting, merusak data, atau bahkan menjatuhkan nama baik lembaga. Di sisi lain, individu yang menjadi korban juga bisa mengalami kerugian besar: mulai dari pencurian data pribadi, penyalahgunaan identitas, sampai kehilangan uang di rekening.

  Membangun Kebiasaan Aman dalam Mengakses Informasi

 Kebiasaan klik tanpa pikir panjang sebenarnya bisa diubah, asal ada kesadaran dan kemauan untuk lebih berhati-hati. Tindakan preventif yang sederhana, jika dilakukan secara konsisten, bisa sangat membantu dalam mencegah terjadinya insiden phishing.  Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1.  Periksa URL Sebelum Login

Sebelum mengetikkan username dan password, selalu periksa alamat website di address bar. Pastikan domain-nya resmi dan tidak ada huruf aneh atau tambahan yang mencurigakan. Situs resmi umumnya menggunakan protokol https:// dan kadang memiliki ikon gembok di sebelah kiri.

 2.  Jangan Langsung Percaya Pesan Mendesak

Phishing sering menyamarkan niatnya lewat pesan yang tampak darurat, misalnya: “Akun Anda akan diblokir dalam 1 jam”, atau “Klik di sini untuk menghindari penalti”. Hindari bereaksi terburu-buru. Ambil jeda untuk mengecek apakah pengirimnya resmi, dan kalau perlu, konfirmasi melalui saluran resmi (misalnya call center atau email instansi).

 3.  Jangan Sembarangan Mengisi Formulir Online

Jika kamu mendapatkan tautan untuk mengisi data pribadi atau rahasia, pastikan formulir tersebut berasal dari sumber terpercaya. Jangan pernah isi password, nomor rekening, atau OTP jika kamu tidak yakin siapa pengirimnya. Formulir yang benar biasanya berada di domain resmi instansi atau perusahaan.

 4.  Aktifkan Verifikasi Dua Langkah (2FA)

Verifikasi dua langkah memberikan lapisan keamanan tambahan. Jadi meskipun password kamu bocor, akun tetap aman karena membutuhkan kode verifikasi tambahan yang dikirim ke perangkat pribadi. Banyak layanan seperti Google, WhatsApp, hingga akun perbankan sudah mendukung fitur ini.

 5.  Gunakan Password yang Kuat dan Berbeda

Hindari memakai password yang sama di banyak akun. Gunakan kombinasi huruf besar-kecil, angka, dan simbol. Jika sulit mengingat, gunakan password manager untuk menyimpannya secara aman.

 6.  Waspadai Lampiran dan Link di Email

Jangan langsung membuka file atau klik link dalam email jika kamu tidak yakin siapa pengirimnya. Bahkan jika terlihat seolah-olah dari rekan kerja atau atasan, tetap perlu cek ulang karena akun mereka bisa saja diretas.

 7.  Edukasi dan Sosialisasi Internal Secara Berkala

Bagi instansi, penting untuk menyelenggarakan pelatihan rutin, simulasi serangan phishing, dan membuat materi edukasi seperti infografis, video pendek, atau poster. Informasi yang ringan dan rutin bisa menjaga kesadaran seluruh pegawai terhadap ancaman ini.

               Pada akhirnya, keamanan informasi tidak hanya bergantung pada sistem dan teknologi, tetapi juga sangat bergantung pada perilaku dan kebiasaan manusia. Membangun budaya "berpikir sebelum klik" adalah investasi penting dalam menjaga data pribadi dan data instansi tetap aman.


Referensi:

Ardy, M., dkk. (2024). Analisis Kejahatan Online Phishing pada Keamanan Data Pribadi dan Peran Masyarakat dalam Pencegahan. Leuser Computer Journal, 3(1), 75-85.

Budi, A., dkk. (2021). Analisis Serangan Phising dan Dampaknya pada Keamanan Informasi di Indonesia. PubMedia Journal of Information Systems and Engineering, 2(2), 2672-2710.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). (2025). Laporan Tahunan Anomali Trafik dan Keamanan Siber Indonesia. Jakarta: BSSN.

IBM Security. (2024). What is Phishing? - Insights into Social Engineering Threats. Diakses dari IBM Think Topics.

Kaspersky Lab. (2025). Anatomi Serangan Cybercrime: Taktik Pencegahan Phishing Sejak Dini. Diakses dari Kaspersky Resource Center.

Suharto, B., & Kurniawan, A. B. (2022). Tindak Pidana Cybercrime bagi Pelaku Pemalsuan Data pada Situs E-Commerce (Phising). Jurnal Hasil Penelitian (JHP), 17(1), 12-25.

Zensec Global Security. (2026). 2025-2026 Phishing Statistics: The Alarming Rise in AI-Powered Social Engineering. Diakses dari Zensec Blog.

 

 

Penulis:

Rafli Fadhlurrohman

Mahasiswa Magang pada Kanwil DJKN DKI Jakarta 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon