Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN DKI Jakarta
Peran Psikologi dalam Gaya Bicara dan Budaya Kerja

Peran Psikologi dalam Gaya Bicara dan Budaya Kerja

Rina Marlina
Kamis, 15 Mei 2025 |   1748 kali

PENDAHULUAN

Instansi pemerintahan merupakan organisasi publik yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya organisasi ini memiliki struktur birokrasi yang hierarkis, prosedural dan berorientasi kepada aturan. Oleh karena itu, komunikasi menjadi aspek yang sangat penting agar informasi dapat tersampaikan dengan baik dan jelas sehingga tugas-tugas dapat dijalankan secara efektif. Salah satu bentuk komunikasi yang paling dominan dalam lingkungan kerja adalah gaya bicara, yaitu cara seseorang menyampaikan pesan yang melibatkan aspek verbal seperti kata-kata atau intonasi dan non verbal seperti ekspresi, wajah, gestur dan postur tubuh. 

Dari sudut pandang psikologi komunikasi, gaya bicara tidak hanya dipengaruhi oleh konteks eksternal seperti jabatan atau tugas yang sedang dijalankan, tetapi juga kondisi internal individu. Sarwono (2010) menjelaskan bahwa respons verbal dan non verbal merupakan representasi dari proses psikologis, seperti persepsi,emosi dan evaluasi terhadap lawan bicara, contohnya ketika seseorang mengalami tekanan kerja dapat menunjukan gaya bicara yang cepat terburu-buru atau bahkan agresif. Sebaliknya, ketika individu merasa nyaman akan berbicara dengan ritme yang tenang dan artikulasi yang jelas. 

Lebih jauh lagi, pola gaya bicara yang digunakan dalam keseharian turut membentuk budaya kerja organisasi. Budaya kerja didefinisikan sebagai nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang diyakini dan dijalankan bersama anggota organisasi (Robbins & Judge, 2017). Ketika komunikasi yang terjadi bersifat terbuka, sopan dan saling menghargai, maka akan tumbuh budaya kerja yang positif, kolaboratif dan partisipatif. Namun apabila gaya bicara yang dominan, bersifat kasar, merendahkan atau memerintah tanpa ruang diskusi, maka akan berkembang budaya kerja yang tertutup, penuh tekanan dan minim inovasi. 

Pentingnya komunikasi yang sehat di lingkungan instansi pemerintahan juga terkait dengan misi pelayanan publik, Pelayanan publik yang efektif hanya dapat diwujudkan apabila organisasi internak berfungsi secara harmonis. Oleh karena itu, pemahaman terhadap aspek psikologi gaya bicara menjadi modal penting bagi pengembangan sumber daya manusia di sektor publik. 

Artikel ini berupaya memberikan pemahaman mendalam tentang keterkaitan antara psikologi komunikasi, gaya bicara dan budaya kerja di instansi pemerintahan. Dengan landasan teori yang ada diharapkan pembaca memperoleh wawasan yang dapat di terapkan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, produktif dan berorientasi pada kepuasan masyarakat. 

 PEMBAHASAN


1.        Psikologi Komunikasi dan Gaya Bicara 

Gaya bicara merupakan bagian komunikasi interpersonal yang mencerminkan struktur psikologis seseorang. Dalam psikologi komunikasi, gaya bicara dipandang sebagai hasil dari proses kognitif (pemrosesan informasi) dan afektif  pengalaman emosional ). Setiap individu memiliki karakteristik gaya bicara yang unik, bergantung pada bagaimana individu tersebut menyaring, memahami  dan mengekspresikan informasi dalam interaksi social (Devito, 2016). Komponen gaya bicara meliputi aspek verbal seperti pemilihan kata, struktur kalimat dan kejelasan pesan serta aspek nonverbal seperti intonasi, ritme, ekspresi wajah dan kontak mata.

Dalam lingkungan kerja birokratis, gaya bicara sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi yang hierarkis. Pegawai perlu menyesuaikan gaya bicara mereka berdasarkan posisi jabatan, hubungan antarindividu, serta norma-norma komunikasi yang berlaku. Ini sejalan dengan teori konstruksi sosial oleh Berger dan Lukman (1996), yang menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui interaksi berulang, termasuk  melalui pola komunikasi sehari-hari.

Di instansi pemerintahan, seringkali ditemukan bahwa komunikasi formal cenderung mendominasi. Namun, terlalu kaku dalam gaya bicara dapat menghambat terciptanya hubungan yang akrab dan suportif antarpegawai. Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan antara kesopanan birokratis dengan kehangatan komunikasi interpersonal. Gaya bicara yang responsive dan empatik terbukti lebih efektif dalam membangun kepercayaan dan kolaborasi tim 

2.    Pengaruh Gaya Bicara terhadap Budaya Organisasi 

Gaya bicara yang digunakan secara konsisten oleh anggota organisasi akan membentuk iklim komunikasi yang kemudian berkembang menjadi budaya organisasi. Menurut Robbins dan Judge (2017) menjelaskan bahwa budaya organisasi merupakan sistem makna bersama yang dianut oleh anggota organisasi, yang membedakan satu organisasi dari yang lain. Dalam konteks ini, gaya bicara merupakan salah satu indicator utama dalam pembentukan dan penguatan budaya tersebut. Apabila gaya bicara yang bersifat terbuka mendukung dan mendorong partisipasi, maka akan terbentuk budaya kerja yang positif. Para karyawan akan merasa dihargai, lebih berani mengemukakan ide, dan merasa memiliki terhadap tugas-tugas organisasi. Hal ini berdampak pada meningkatnya kepuasan kerja dan loyalitas pegawai. Sebaliknya, jika gaya bicara yang intimidatif, penuh tekanan atau menyudutkan dapat menciptakan rasa tidak aman, menurunkan motivasi dan memperbesar sebuah konflik. 

Dalam konteks kepemimpinan, gaya bicara juga menjadi indicator utama kualitas hubungan antara atasan dan bawahan. Teori kemampuan Transformasional yang dikemukakan oleh Bass (1985), menekankan pentingnya komunikasi yang menginspirasi, visioner dan penuh empati untuk membentuk budaya organisasi yang inovatif dan adaptif. Pemimpin yang komunikatif, terbuka dan peduli terhadap kondisi emosional bawahannya akan lebih muda membangun kepercayaan dan loyalitas tim kerja. 

3.    Faktor Psikologis yang mempengaruhi gaya bicara 

   Beberapa faktor psikologis yang memengaruhi gaya bicara diantaranya : 

a)     Kepribadian 

Teori Big Five oleh McCrae dan Costa (1992) mengidentifikasi lima dimensi kepribadian utama yaitu : openness, conscientiousness, extraversion,agreeableness dan neroticism . Individu dengan tingkat extraversion yang tinggi cenderung berbicara dengan antusias dan terbuka, sedangkan individu dengan neurotism yang tinggi cenderung menunjukan ketegangan atau kecemasan dalam cara berbicaranya. 

b)     Kecerdasan Emosi ( Emotional Intelligence ) 

Goleman (1995) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional ini meliputi kemampuan mengenali, mengelola dan mengekspresikan emosi diri serta memahami emosi orang lain. Individu dengan EQ tinggi mampu memilih kata dan nada bicara yang sesuai dengan situasi, serta menghindari konflik yang tidak perlu. 

c)     Motivasi dan Tujuan Komunikasi 

Gaya bicara juga dipengaruhi oleh niat atau tujuan komunikasi itu sendiri. Jika seseorang ingin membujuk, menyampaikan keluhan, atau memberikan apresiasi, maka gaya bicaranya akan disesuaikan agar pesan yang disampaikan efektif. Menurut teori komunikasi persuasive, pilihan kata dan intonasi harus disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik audiens. 

d)     Budaya Organisasi 

Lingkungan kerja tempat individu berada turut membentuk kebiasaan komunikasi. Organisasi dengan budaya keterbukaan dan penghargaan terhadap dialog akan menumbuhkan gaya bicara yang inklusif dan suportif, Begitu pun sebaliknya, budaya organisasi yang menekankan formalitas ekstrem atau kewenangan absolut dapat mengekang ekspresi dan mempersempit ruang komunikasi dua arah. 

4. Dampak Gaya Bicara terhadap Loyalitas dan Kinerja Pegawai 

Gaya bicara yang positif berkontribusi terhadap meningkatnya loyalitas dan kinerja pegawai. Loyalitas terbentuk saat pegawai merasa dihargai, diakui kontribusinya, dan diperlakukan secara manusiawi dalam komunikasi sehari-hari. Gaya bicara yang suportif dan terbuka mendorong keterikatan emosional pegawai terhadap organisasi, yang dalam jangka panjang berdampak pada keinginan untuk bertahan dan berkembang didalamnya.  Dari sisi kinerja, gaya bicara yang jelas, tegas namun tetap menghargai, akan membantu menciptakan koordinasi yang baik , mempercepat proses kerja, dan menghindari kesalahpahaman. Komunikasi yang buruk, sebaliknya dapat menyebabkan disinformasi, konflik internal dan turunnya produktivitas. Studi yang dilakukan oleh Eisenberger (2002) menunjukan bahwa persepsi dukungan organisasi yang tercermin dalam komunikasi, berkorelasi positif dengan performa kerja dan komitmen pegawai. 


5. Strategi Pengembangan Budaya Komunikasi Positif 

a.      Pelatihan Komunikasi 

        Menyelenggarakan pelatihan berbasis kecerdasan emosional dan komunikasi efektif. 

b.      Role Model dari Pimpinan

Pimpinan harus menjadi contoh dalam menerapkn gaya bicara yang terbuka dan mendukung. 


c.      Sistem Umpan Balik 

Menciptakan mekanisme komunikasi dua arah yang aman 

d.      Evaluasi Budaya Organisasi 

                Melibatkan psikolog organisasi untuk merancang intervensi komunikasi 

 

PENUTUP 

Dalam organisasi pemerintahan, keberhasilan pelaksanaan tugas dan pelayanan publik sangat bergantung pada kualitas komunikasi antarindividu maupun antar bagian. Gaya bicara sebagai salah satu bentuk nyata komunikasi memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk suasana kerja, hubungan antarpegawai dan persepsi terhadap kepemimpinan. Dari sudut pandang psikologi, gaya bicara mencerminkan kondisi internal individu mulai dari kepribadian, emosi, kecerdasan emosional hingga motivasi yang semuanya berkontribusi terhadap terbentuknya dinamika sosial dalam lingkungan kerja. Artikel ini telah menunjukan bahwa gaya bicara yang positif, terbuka dan menghargai tidak hanya memperkuat hubungan interpersonal, tetapi juga mendukung terciptanya budaya kerja yang sehat, partisipatif dan kolaboratif. Ketika komunikasi dalam organisasi dilakukan dengan empati dan kesadaran akan kondisi psikologis lawan bicara, maka akan muncul rasa saling percaya, rasa memiliki dan loyalitas terhadap institusi. Sebaliknya jika gaya bicara yang kasar, otoriter atau tidak komunikatif dapat memunculkan konflik, mengurangi produktivitas dan meningkatkan tingkat stress serta turnover kepada pegawai. Dalam konteks instansi pemerintah, penting untuk menyadari bahwa budaya kerja tidak dapat dibentuk hanya melalui kebijakan tertulis atau aturan formal, tetapi juga melalui praktik sehari-hari, termasuk cara berbicara dan berinteraksi. Maka dari itu, pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal, pelatihan kecerdasan emosional, dan juga penciptaan lingkungan kerja yang mendukung komunikasi dua arah menjadi strategi yang krusial. Dengan demikian, pemahaman tentang psikologi di balik gaya bicara tidak hanya menjadi topik teoritis, melainkan juga sebuah kebutuhan praktis untuk membangun organisasi pemerintahan yang adaptif, efisien dan berorientasi pada pelayanan prima. Investadi pada komunikasi yang sehat adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia dan keberhasilan reformasi birokrasi secara keseluruhan. 

 

 DAFTAR PUSTAKA 

Bass, B. M. (1985). Leadership and Performance Beyond Expectations. New York: Free Press.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Garden City, NY: Anchor Books.

DeVito, J. A. (2016). The Interpersonal Communication Book (14th ed.). Boston: Pearson.

Eisenberger, R., Stinglhamber, F., Vandenberghe, C., Sucharski, I. L., & Rhoades, L. (2002). "Perceived Supervisor Support: Contributions to Perceived Organizational Support and Employee Retention." Journal of Applied Psychology, 87(3), 565–573.

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

McCrae, R. R., & Costa, P. T. (1992). Revised NEO Personality Inventory (NEO-PI-R) and NEO Five-Factor Inventory (NEO-FFI): Professional Manual. Odessa, FL: Psychological Assessment Resources.

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Boston: Pearson.

Sarwono, S. W. (2010). Psikologi Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers. 


Penulis: Nadia Rizma Tania Putri, Mahasiswa magang pada BIdang Penilaian Kanwil DJKN DKI Jakarta, Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon