Peran Psikologi dalam Gaya Bicara dan Budaya Kerja
Rina Marlina
Kamis, 15 Mei 2025 |
1748 kali
Instansi pemerintahan merupakan
organisasi publik yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam menjalankan tugasnya organisasi ini memiliki struktur birokrasi yang
hierarkis, prosedural dan berorientasi kepada aturan. Oleh karena itu,
komunikasi menjadi aspek yang sangat penting agar informasi dapat tersampaikan
dengan baik dan jelas sehingga tugas-tugas dapat dijalankan secara efektif.
Salah satu bentuk komunikasi yang paling dominan dalam lingkungan kerja adalah
gaya bicara, yaitu cara seseorang menyampaikan pesan yang melibatkan aspek
verbal seperti kata-kata atau intonasi dan non verbal seperti ekspresi, wajah,
gestur dan postur tubuh.
Dari sudut pandang psikologi
komunikasi, gaya bicara tidak hanya dipengaruhi oleh konteks eksternal seperti
jabatan atau tugas yang sedang dijalankan, tetapi juga kondisi internal
individu. Sarwono (2010) menjelaskan bahwa respons verbal dan non verbal
merupakan representasi dari proses psikologis, seperti persepsi,emosi dan
evaluasi terhadap lawan bicara, contohnya ketika seseorang mengalami tekanan kerja
dapat menunjukan gaya bicara yang cepat terburu-buru atau bahkan agresif.
Sebaliknya, ketika individu merasa nyaman akan berbicara dengan ritme yang
tenang dan artikulasi yang jelas.
Lebih jauh lagi, pola gaya bicara
yang digunakan dalam keseharian turut membentuk budaya kerja organisasi. Budaya
kerja didefinisikan sebagai nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang diyakini dan
dijalankan bersama anggota organisasi (Robbins & Judge, 2017). Ketika
komunikasi yang terjadi bersifat terbuka, sopan dan saling menghargai, maka
akan tumbuh budaya kerja yang positif, kolaboratif dan partisipatif. Namun
apabila gaya bicara yang dominan, bersifat kasar, merendahkan atau memerintah
tanpa ruang diskusi, maka akan berkembang budaya kerja yang tertutup, penuh
tekanan dan minim inovasi.
Pentingnya komunikasi yang sehat
di lingkungan instansi pemerintahan juga terkait dengan misi pelayanan publik,
Pelayanan publik yang efektif hanya dapat diwujudkan apabila organisasi
internak berfungsi secara harmonis. Oleh karena itu, pemahaman terhadap aspek
psikologi gaya bicara menjadi modal penting bagi pengembangan sumber daya
manusia di sektor publik.
Artikel ini berupaya memberikan
pemahaman mendalam tentang keterkaitan antara psikologi komunikasi, gaya bicara
dan budaya kerja di instansi pemerintahan. Dengan landasan teori yang ada
diharapkan pembaca memperoleh wawasan yang dapat di terapkan dalam menciptakan
lingkungan kerja yang lebih manusiawi, produktif dan berorientasi pada kepuasan
masyarakat.
PEMBAHASAN
1. Psikologi Komunikasi dan Gaya Bicara
Gaya bicara merupakan bagian komunikasi interpersonal yang
mencerminkan struktur psikologis seseorang. Dalam psikologi komunikasi, gaya
bicara dipandang sebagai hasil dari proses kognitif (pemrosesan informasi)
dan afektif pengalaman emosional ). Setiap individu memiliki karakteristik
gaya bicara yang unik, bergantung pada bagaimana individu tersebut menyaring,
memahami dan mengekspresikan informasi
dalam interaksi social (Devito, 2016). Komponen gaya bicara meliputi aspek
verbal seperti pemilihan kata, struktur kalimat dan kejelasan pesan serta aspek
nonverbal seperti intonasi, ritme, ekspresi wajah dan kontak mata.
Dalam lingkungan kerja birokratis, gaya bicara sangat
dipengaruhi oleh struktur organisasi yang hierarkis. Pegawai perlu menyesuaikan
gaya bicara mereka berdasarkan posisi jabatan, hubungan antarindividu, serta
norma-norma komunikasi yang berlaku. Ini sejalan dengan teori konstruksi sosial
oleh Berger dan Lukman (1996), yang menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk
melalui interaksi berulang, termasuk
melalui pola komunikasi sehari-hari.
Di instansi pemerintahan, seringkali ditemukan bahwa
komunikasi formal cenderung mendominasi. Namun, terlalu kaku dalam gaya bicara
dapat menghambat terciptanya hubungan yang akrab dan suportif antarpegawai.
Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan antara kesopanan birokratis
dengan kehangatan komunikasi interpersonal. Gaya bicara yang responsive dan
empatik terbukti lebih efektif dalam membangun kepercayaan dan kolaborasi
tim
Gaya bicara yang digunakan secara konsisten oleh anggota
organisasi akan membentuk iklim komunikasi yang kemudian berkembang menjadi
budaya organisasi. Menurut Robbins dan Judge (2017) menjelaskan bahwa budaya
organisasi merupakan sistem makna bersama yang dianut oleh anggota organisasi,
yang membedakan satu organisasi dari yang lain. Dalam konteks ini, gaya bicara
merupakan salah satu indicator utama dalam pembentukan dan penguatan budaya
tersebut. Apabila gaya bicara yang bersifat terbuka mendukung dan mendorong
partisipasi, maka akan terbentuk budaya kerja yang positif. Para karyawan akan
merasa dihargai, lebih berani mengemukakan ide, dan merasa memiliki terhadap
tugas-tugas organisasi. Hal ini berdampak pada meningkatnya kepuasan kerja dan
loyalitas pegawai. Sebaliknya, jika gaya bicara yang intimidatif, penuh tekanan
atau menyudutkan dapat menciptakan rasa tidak aman, menurunkan motivasi dan
memperbesar sebuah konflik.
Dalam konteks kepemimpinan, gaya bicara juga menjadi
indicator utama kualitas hubungan antara atasan dan bawahan. Teori kemampuan
Transformasional yang dikemukakan oleh Bass (1985), menekankan pentingnya
komunikasi yang menginspirasi, visioner dan penuh empati untuk membentuk budaya
organisasi yang inovatif dan adaptif. Pemimpin yang komunikatif, terbuka dan
peduli terhadap kondisi emosional bawahannya akan lebih muda membangun
kepercayaan dan loyalitas tim kerja.
Beberapa faktor psikologis yang memengaruhi gaya bicara diantaranya
:
a) Kepribadian
Teori Big Five oleh McCrae dan Costa (1992)
mengidentifikasi lima dimensi kepribadian utama yaitu : openness,
conscientiousness, extraversion,agreeableness dan neroticism . Individu dengan
tingkat extraversion yang tinggi cenderung berbicara dengan antusias dan
terbuka, sedangkan individu dengan neurotism yang tinggi cenderung menunjukan
ketegangan atau kecemasan dalam cara berbicaranya.
b) Kecerdasan
Emosi ( Emotional Intelligence )
Goleman (1995) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional ini
meliputi kemampuan mengenali, mengelola dan mengekspresikan emosi diri serta
memahami emosi orang lain. Individu dengan EQ tinggi mampu memilih kata dan
nada bicara yang sesuai dengan situasi, serta menghindari konflik yang tidak
perlu.
c) Motivasi
dan Tujuan Komunikasi
Gaya bicara juga dipengaruhi oleh niat atau tujuan
komunikasi itu sendiri. Jika seseorang ingin membujuk, menyampaikan keluhan,
atau memberikan apresiasi, maka gaya bicaranya akan disesuaikan agar pesan yang
disampaikan efektif. Menurut teori komunikasi persuasive, pilihan kata dan
intonasi harus disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik audiens.
d) Budaya
Organisasi
Lingkungan kerja tempat individu berada turut membentuk
kebiasaan komunikasi. Organisasi dengan budaya keterbukaan dan penghargaan
terhadap dialog akan menumbuhkan gaya bicara yang inklusif dan suportif, Begitu
pun sebaliknya, budaya organisasi yang menekankan formalitas ekstrem atau
kewenangan absolut dapat mengekang ekspresi dan mempersempit ruang komunikasi
dua arah.
Gaya bicara yang positif berkontribusi terhadap
meningkatnya loyalitas dan kinerja pegawai. Loyalitas terbentuk saat pegawai
merasa dihargai, diakui kontribusinya, dan diperlakukan secara manusiawi dalam
komunikasi sehari-hari. Gaya bicara yang suportif dan terbuka mendorong
keterikatan emosional pegawai terhadap organisasi, yang dalam jangka panjang
berdampak pada keinginan untuk bertahan dan berkembang didalamnya. Dari sisi kinerja, gaya bicara yang jelas,
tegas namun tetap menghargai, akan membantu menciptakan koordinasi yang baik ,
mempercepat proses kerja, dan menghindari kesalahpahaman. Komunikasi yang
buruk, sebaliknya dapat menyebabkan disinformasi, konflik internal dan turunnya
produktivitas. Studi yang dilakukan oleh Eisenberger (2002) menunjukan bahwa
persepsi dukungan organisasi yang tercermin dalam komunikasi, berkorelasi
positif dengan performa kerja dan komitmen pegawai.
a. Pelatihan Komunikasi
Menyelenggarakan pelatihan berbasis kecerdasan emosional dan komunikasi efektif.
b. Role
Model dari Pimpinan
Pimpinan harus menjadi contoh dalam menerapkn gaya bicara yang terbuka dan mendukung.
c. Sistem
Umpan Balik
Menciptakan mekanisme komunikasi dua arah
yang aman
d. Evaluasi
Budaya Organisasi
Melibatkan psikolog organisasi untuk
merancang intervensi komunikasi
PENUTUP
Dalam organisasi pemerintahan,
keberhasilan pelaksanaan tugas dan pelayanan publik sangat bergantung pada
kualitas komunikasi antarindividu maupun antar bagian. Gaya bicara sebagai
salah satu bentuk nyata komunikasi memainkan peran yang sangat penting dalam
membentuk suasana kerja, hubungan antarpegawai dan persepsi terhadap
kepemimpinan. Dari sudut pandang psikologi, gaya bicara mencerminkan kondisi
internal individu mulai dari kepribadian, emosi, kecerdasan emosional hingga
motivasi yang semuanya berkontribusi terhadap terbentuknya dinamika sosial
dalam lingkungan kerja. Artikel ini telah menunjukan bahwa gaya bicara yang
positif, terbuka dan menghargai tidak hanya memperkuat hubungan interpersonal,
tetapi juga mendukung terciptanya budaya kerja yang sehat, partisipatif dan
kolaboratif. Ketika komunikasi dalam organisasi dilakukan dengan empati dan
kesadaran akan kondisi psikologis lawan bicara, maka akan muncul rasa saling
percaya, rasa memiliki dan loyalitas terhadap institusi. Sebaliknya jika gaya
bicara yang kasar, otoriter atau tidak komunikatif dapat memunculkan konflik,
mengurangi produktivitas dan meningkatkan tingkat stress serta turnover kepada
pegawai. Dalam konteks instansi pemerintah, penting untuk menyadari bahwa
budaya kerja tidak dapat dibentuk hanya melalui kebijakan tertulis atau aturan
formal, tetapi juga melalui praktik sehari-hari, termasuk cara berbicara dan
berinteraksi. Maka dari itu, pengembangan keterampilan komunikasi
interpersonal, pelatihan kecerdasan emosional, dan juga penciptaan lingkungan
kerja yang mendukung komunikasi dua arah menjadi strategi yang krusial. Dengan
demikian, pemahaman tentang psikologi di balik gaya bicara tidak hanya menjadi
topik teoritis, melainkan juga sebuah kebutuhan praktis untuk membangun
organisasi pemerintahan yang adaptif, efisien dan berorientasi pada pelayanan
prima. Investadi pada komunikasi yang sehat adalah investasi pada kualitas
sumber daya manusia dan keberhasilan reformasi birokrasi secara
keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA
Bass,
B. M. (1985). Leadership and Performance
Beyond Expectations. New York: Free Press.
Berger,
P. L., & Luckmann, T. (1966). The
Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge.
Garden City, NY: Anchor Books.
DeVito, J. A. (2016). The Interpersonal Communication Book (14th ed.). Boston: Pearson.
Eisenberger, R., Stinglhamber, F., Vandenberghe, C.,
Sucharski, I. L., & Rhoades, L. (2002). "Perceived Supervisor Support:
Contributions to Perceived Organizational Support and Employee Retention."
Journal of Applied Psychology, 87(3),
565–573.
Goleman,
D. (1995). Emotional Intelligence: Why It
Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
McCrae,
R. R., & Costa, P. T. (1992). Revised
NEO Personality Inventory (NEO-PI-R) and NEO Five-Factor Inventory (NEO-FFI):
Professional Manual. Odessa, FL: Psychological Assessment Resources.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Boston: Pearson.
Sarwono, S. W. (2010). Psikologi Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Penulis: Nadia Rizma Tania Putri, Mahasiswa magang pada BIdang Penilaian Kanwil DJKN DKI Jakarta, Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |