Memahami Strategi dan Peran Pendirian Special Mission Vehicle Dalam Pembangunan Infrastruktur Di Indonesia
Ridha Setiyati Muthmainnah
Kamis, 19 Desember 2024 |
1183 kali
A.
PENDAHULUAN
Indonesia telah
melalui beberapa peristiwa penting dalam dunia ekonomi, yaitu beberapa
peristiwa krisis ekonomi dan keuangan. Peristiwa terakhir adalah krisis ekonomi
dan keuangan yang terjadi karena COVID 19 sejak tahun 2020. Mungkin dampaknya bagi
ekonomi dan kehidupan masyarakat masih dapat dirasakan hingga saat ini.
Tercatat, ekonomi nasional pada waktu itu, tepatnya pada tahun 2020, mengalami
pertumbuhan negatif sebesar -2,05% (BPS.2021). Selanjutnya, beberapa tahun kemudian,
BPS (2024) melaporkan ekonomi nasional mengalami pemulihan dengan mencatatkan
pertumbuhan ekonomi sebesar 3,70% pada tahun 2021, sebesar 5,31% pada 2022, dan
sebesar 5,05% pada tahun 2023. Sementara
itu, pada tahun berjalan (2024) ekonomi tumbuh 5,03% (c to c) pada triwulan 3
tahun 2024.
Seiring dengan
berjalannya waktu dan pengalaman dalam menghadapi krisis yang terjadi,
Pemerintah banyak belajar serta menghasilkan strategi-strategi yang efektif
dalam mendongkrak dan memulihkan ekonomi nasional. Salah satu strategi yang
pernah dan masih berjalan hingga saat ini adalah didirikannya special
mission vehicle (SMV), yaitu didirikannya beberapa badan usaha milik negara
(BUMN) yang pembinaanya di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Beberapa BUMN
tersebut diantaranya adalah PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI),
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT PII), dan PT Sarana
Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF).
Berangkat pada
uraian dalam paragraf di atas, artikel ini bermaksud mengurai secara ringkas
latar belakang perlunya pendirian SMV dan peran dari masing-masing SMV
tersebut seperti PT SMI dan PT PII. Artikel ini juga bermaksud untuk menambah
literasi masyarakat tentang bagaimana strategi kebijakan keuangan publik dibangun,
dan sekaligus sebagai ajang diskusi dalam perbaikan dan penyempurnaan strategi.
B.
URGENSI PENDIRIAN SPECIAL
MISSION VEHICLE
Pendirian SMV tidak
dapat terlepas dari minimal 2 alasan utama. Yang pertama adalah dibutuhkannya pertumbuhan
ekonomi yang terus tumbuh untuk penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan
kesejahteraan masyarakat, dan lainnya. Alasan kedua adalah dibutuhkannya daya
dukung sumber pembiayaan/pendanaan untuk pembangunan infrastruktur di tengah
kondisi keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam sejarah Indonesia, tercatat beberapa krisis ekonomi dan keuangan telah dialami oleh Indonesia. Pada tahun 1998, BPS (1999) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1998 menurun dari tahun sebelumnya hampir 14%, dengan tingkat inflasi yang mencapai 77,63%, dan jumlah penduduk miskin pada waktu itu diperkirakan mencapai 49,5 juta orang atau 24,2 persen dari total penduduk Indonesia. Perkembangan ekonomi tergambar dalam grafik-1.

Sumber : CNBC Indonesia. 2022.
Grafik-1
: Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sebagai upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja baru, dan seterusnya,
ekonomi harus terus tumbuh. Salah satu cara agar ekonomi terus tumbuh adalah
meningkatkan investasi. Peran investasi dalam pencapaian ekonomi dapat terlihat
dari kontribusi pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) pada produk
domestik bruto (PDB). Pada tahun 1998 kontribusi PMTDB terhadap PDB harga
konstan sebesar 24,9%, beberapa tahun kemudian mencapai 31,0% di 2010, 32,4% di
2015, 31,9% di 2020, dan 31,3% di 2023 (BPS. 2024). Angka-angka kontribusi ini
menunjukan besarnya peran investasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena
itu, sangatlah rasional bila Pemerintah mendorong investasi untuk
mempertahankan atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Investasi tidak sekedar
untuk mencapai pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan
dasar atau umum masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah
mengkombinasikan antara investasi untuk tujuan ekonomi dan untuk pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakat. Melalui RPJMN, Pemerintah mentargetkan kebutuhan
investasi untuk membangun infrastruktur sebesar Rp4.796,2 triliun selama
periode 2015-2019, dan mentargetkan investasi sebesar Rp6.445 triliun untuk
periode 2020-2024 (Jusron, 2022).
Tentunya, besarnya
target investasi memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sumber dana investasi
tersebut berasal. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1998, APBN dalam kondisi
terbatas, dan terus menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif untuk meraih
pertumbuhan ekonomi. Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB pada tahun
1998 mencapai angka yang besar yaitu sebesar 57,7%, kemudian terus meningkat
menjadi 85,4% di 1999 dan 88,77% di 2000. Beberapa tahun berikutnya rasio
tersebut mengalami penurunan, dan baru mencapai di bawah 50% pada tahun 2005
yaitu sebesar 47,3%.
Kebutuhan dana
investasi yang besar dan kondisi APBN yang terbatas ini menjadi poin penting
yang melatarbelakangi berdirinya SMV. Di samping harus mendorong investasi, Pemerintah
dituntut mengelola utang dengan kredibel, akuntabel, dan sesuai
prinsip-prinsip tata Kelola yang baik. Termasuk mengendalikan rasio utang
terhadap PDB pada posisi yang ideal. Pemerintah, melalui SMV, diharapkan
menciptakan leveraging (daya ungkit) dana investasi atau pembiayaan yang
optimal. Oleh karena itu, dari target kebutuhan investasi sebagaimana tersebut
di atas, direncanakan akan dipenuhi dari berbagai pihak. Untuk target kebutuhan
investasi pendanaan infrastruktur sebesar Rp4.796,2 triliun (2015-2019)
direncanakan akan dipenuhi dari APBN/D sebesar 1.978,6 triliun, BUMN/D sebesar
Rp1.066,2 triliun, dan Swasta Rp1.751,4 triliun. Sementara itu, target
kebutuhan dana sebesar Rp6.445 triliun untuk periode 2020-2024, akan dipenuhi
melalui APBN/D sebesar Rp2.385 triliun, BUMN/D sebesar Rp1.353 triliun, dan
Swasta Rp2.707 triliun.
C. Peran SMV Dalam Mendorong Investasi
Telah disebutkan di
atas, salah satu strategi Pemerintah dalam mendorong investasi, khususnya untuk
infrastruktur, adalah mendirikan SMV. Di bawah ini akan diuraikan secara
ringkas kemampuan leveraging PT SMI dan PT PII.
PT SMI didirikan
pada tahun 2009 dengan maksud sebagai katalis dalam pembiayaan pembangunan
infrastruktur. Makna katalis disini dapat diartikan sebagai alat atau media
yang berfungsi mempercepat. Oleh karena itu, PT SMI diharapkan mampu sebagai
katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur khususnya dalam penyediaan
pendanaan investasi dengan mendorong partisipasi investasi dari investor
swasta.
PT SMI dapat bekerjasama
secara langsung maupun tidak langsung dengan sektor swasta dalam mendanai
pembangunan infrastruktur. Kerjasama secara langsung dapat dilakukan dengan
cara mendirikan atau menyetorkan ekuitas (modal saham) dan atau memberikan
pinjaman secara bersama-sama pada badan usaha perseroan terbatas (PT) yang
nantinya PT tersebut yang akan membangun infrastruktur. Sementara itu,
kerjasama tidak langsung dapat dilakukan dengan cara investor swasta memberikan
pinjaman dan atau membeli obligasi PT SMI. Selanjutnya dana dari pinjaman dan
atau obligasi tersebut digunakan PT SMI untuk mendirikan dan atau memberikan
pinjaman kepada PT pemilik proyek infrastruktur.
Pertanyaan bagaimana kemampuan leveraging PT SMI ? Berdasarkana laporan tahunan tahun 2023, PT SMI (2024) telah mendanai proyek senilai Rp981,3 triliun untuk periode s.d Desember 2023. Dibandingkan dengan nilai modal disetor maka leveraging mencapai 32,2 kali. Hal ini dapat diartikan Rp1 yang ditempatkan pada modal oleh Pemerintah dapat dilipatgandakan pendanaan dari pihak ketiga menjadi sebesar Rp32,2.
Sumber
: PT SMI. 2024
Grafik-2
: Perkembangan Nilai Proyek Yang Didanai PT SMI
PT PII didirikan
pada tahun 2009. Beberapa bidang usaha utama yang dijalankan oleh PT PII antara
lain : 1) memberikan penjaminan Pemerintah (sovereign guarantee) di
bidang infrastruktur dan bidang lainnya selain infrastruktur, dan 2)
melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan implementasi penjaminan
Pemerintah dan kegiatan lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan
proyek yang mendukung perekonomian nasional (PT PII, 2024). Bila bidang usaha
PT PII dikaitkan dengan kegiatan investasi yang ditargetkan oleh Pemerintah,
maka dapat dikatakan bahwa tugas PT PII adalah mereduksi risiko investasi yang
dilakukan oleh investors, khususnya investor swasta. Penurunan risiko investasi
sangat penting untuk menstimulus investor swasta agar berani menanamkan dananya
pada pembangunan infrastruktur, dengan kata lain meningkatkan kelayakan kredit (creditworthiness)
dari proyek infrastruktur.
Peran PT PII sebagai
penjamin dalam kegiatan investasi in line dengan risiko yang dihadapi oleh
investor ketika berinvestasi di Indonesia. Allianz (2024) melaporkan beberapa
kelemahan yang dimiliki oleh Indonesia diantaranya adalah sistem hukum yang
lemah, administrasi pajak yang tidak efisien, ekonomi informal yang kuat,
ketergantung ekspor pada komoditas, dan kesenjangan infrastruktur yang serius
dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Oleh karena, fungsi penjaminan
relevan untuk lebih memberikan kepastian dalam berinvestasi di Indonesia.
Selanjutnya, sejak
didirikan sampai dengan akhir 2023, PT PII telah melakukan akumulasi penjaminan
terhadap proyek dengan nilai Rp497 triliun dengan nilai eksposure penjamian
sebesar Rp91 triliun. Bila dibandingkan dengan nilai ekuitas yang mencapai
Rp15,96 triliun maka penjaminan yang dilakukan cukup efektif, namun perlu
didorong untuk lebih optimal lagi.
PENUTUP
Berdasarkan
uraian di atas dapat terlihat bahwa SMV mempunyai peran yang sangat penting
dalam mendorong peningkatan investasi di Indonesia. Kemampuan leveraging perlu
didorong terus sehigga tercapai pada posisi ideal atau maksimal. Selain itu,
ketidakpastian atau risiko investasi perlu dikelola dengan baik agar pada
posisi yang wajar bagi investor ketika berinvestasi di Indonesia.
Daftar Referensi
Allianz. 2024. Indonesia : Resilient growth amidst improved fundamentals. Diakses 2 Desember 2024. https://www.allianz.com/en/economic_research/country-and-sector-risk/country-risk/indonesia.html.
CNBC Indonesia. 2022. Indonesia Pernah Diterjang Tiga Resesi, Mana yang Terburuk ? Dibaca 2 Desember 2024. https://www.cnbcindonesia.com/market/20221012140255-17-379180/indonesia-pernah-diterjang-tiga-resesi-mana-yang-terburuk
Jusron D. 2022. Global Infrastructure Hub (GIH) dan Penyediaan Infrastruktur. Diakses 1 Desember 2024. https://kpbu.kemenkeu.go.id/read/1160-1476/umum/kajian-opini-publik/global-infrastructure-hub-gih-dan-penyediaan-infrastruktur
PT SMI. 2024. Laporan Tahunan 2023. Diakses 1 Desember 2024. https://www.ptsmi.co.id/annual-reports
PT PII. 2024. Laporan Tahunan 2023. Diakses 1 Desember 2024. https://www.ptpii.co.id/annual-report.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |