Pertimbangan Profesional dalam Penilaian: Kapan Judgment Diperlukan dan Bagaimana Menjaga Alasannya Tetap Dapat Dipertanggungjawabkan?
Arie Susanto
Kamis, 01 Oktober 2026 |
43 kali
KANWIL DJKN
JAWA BARAT | Artikel Seri Praktik Penilaian
Pertimbangan
Profesional dalam Penilaian: Kapan Judgment Diperlukan dan Bagaimana Menjaga
Alasannya Tetap Dapat Dipertanggungjawabkan?
Telaah praktis
mengenai ruang pertimbangan Penilai Pemerintah ketika regulasi, data, konteks,
dan metodologi tidak menyediakan satu jawaban mekanis tunggal.
Tulisan ini
merupakan pendapat pribadi penulis, tidak dimaksudkan sebagai norma baru, bukan
nasihat hukum, dan tidak mencerminkan kebijakan resmi institusi tempat penulis
bekerja.
Seri sebelumnya
membahas kertas kerja sebagai jejak analisis yang membuat opini nilai dapat
ditelusuri dan diuji. Tulisan seri 11 ini bergerak satu lapis lebih dalam:
bagaimana alasan profesional itu dibentuk ketika aturan dan metode memberi
koridor, tetapi tidak selalu memberi satu jawaban otomatis.
Penilaian bukan
proses yang seluruhnya dapat diselesaikan dengan memilih rumus lalu memasukkan
angka. Regulasi memberi batas, metode memberi kerangka, dan data memberi bahan.
Namun, pada banyak titik, Penilai masih harus menentukan data mana yang paling
relevan, seberapa jauh suatu informasi dapat dipercaya, pendekatan atau metode
atau teknik mana yang paling sesuai, dan bagaimana membaca indikasi yang tidak
sepenuhnya seragam.
Di titik itulah
pertimbangan profesional (professional judgment) bekerja. Persoalannya,
pertimbangan profesional mudah disalahpahami. Di satu sisi, ia dapat dianggap
sebagai ruang kebebasan Penilai. Di sisi lain, ia dapat diperlakukan seolah
tidak diperlukan karena semua keputusan dianggap dapat ditentukan oleh tabel,
formula, atau sistem. Kedua pandangan tersebut sama-sama berisiko.
Pertimbangan
profesional bukan kebebasan untuk memilih tanpa dasar. Ia bekerja di dalam
pagar regulasi, bukti, metodologi, dan tujuan penilaian ketika proses penilaian
tidak menghasilkan satu jawaban mekanis tunggal.
PMK Nomor 99
Tahun 2024 menempatkan penilaian sebagai rangkaian yang mencakup pengumpulan
data dan informasi, analisis, penentuan pendekatan dan metode, penyusunan simpulan
nilai, laporan, kendali mutu, kaji ulang, dan tahapan pascapenilaian. PMK
tersebut juga menegaskan tanggung jawab Penilai Pemerintah atas simpulan nilai
dalam laporan yang dihasilkannya. Pada lapisan teknis, pembacaan dilakukan
bersama PER-1/KN/2025 dan petunjuk teknis yang relevan sesuai objek dan tujuan
penilaian, termasuk PER-2/KN/2025, PER-5/KN/2025, dan PER-6/KN/2025.
Ketentuan
tersebut tidak perlu dibaca seolah setiap keputusan teknis memiliki satu angka
atau satu pilihan yang selalu identik untuk setiap kasus. Sebaliknya, regulasi
membentuk koridor: apa yang wajib, apa yang diperbolehkan, apa syarat
penerapannya, dan bukti apa yang perlu mendukung input maupun simpulan. Di
dalam koridor itulah Penilai menggunakan kompetensi dan pertimbangannya.
Prinsip
pentingnya sederhana: diperbolehkan oleh ketentuan belum otomatis berarti
pilihan konkret yang digunakan telah memiliki dasar yang memadai. Suatu teknik,
faktor, atau parameter dapat tersedia secara normatif, tetapi alasan memilih
data, besaran, perlakuan, atau alternatif tertentu tetap perlu ditopang bukti
dan penalaran yang dapat dijelaskan.
Pertimbangan
profesional yang sehat tidak dimulai dari pertanyaan "angka mana yang saya
inginkan?", melainkan dari pertanyaan "pilihan mana yang paling dapat
dipertanggungjawabkan berdasarkan bukti, tujuan penilaian, dan ketentuan yang
berlaku?" Karena itu, ruang pertimbangan profesional tidak berada di luar
aturan, tetapi justru muncul setelah Penilai memahami aturan dan membaca
kekuatan serta keterbatasan bukti yang tersedia.
Dalam praktik,
pertimbangan profesional dapat muncul pada banyak titik: menilai kecukupan dan
relevansi informasi, memilih pendekatan atau metode ketika lebih dari satu
pilihan secara teknis tersedia, menentukan perlakuan terhadap bukti yang
kekuatannya berbeda, menilai kebutuhan analisis tambahan, hingga merekonsiliasi
indikasi yang tidak sepenuhnya seragam. Semakin besar pengaruh suatu keputusan
terhadap proses atau simpulan, semakin kuat pula alasan dan bukti yang
seharusnya menopangnya.
Hal ini juga
membedakan pertimbangan profesional dari intuisi. Intuisi dapat membantu
Penilai mengenali pola, anomali, atau area yang perlu diuji lebih jauh. Namun,
intuisi saja tidak cukup menjadi dasar opini nilai. Pengalaman boleh membimbing
pertanyaan; bukti tetap harus menopang keputusan.
Salah satu cara
sederhana membaca proses ini adalah melalui lima lapis: aturan, bukti,
alternatif, pertimbangan, dan akuntabilitas. Aturan menentukan pagar. Bukti
menunjukkan apa yang benar-benar diketahui. Alternatif menunjukkan pilihan
teknis yang masih masuk akal. Pertimbangan profesional memilih pilihan yang
paling dapat dipertanggungjawabkan. Akuntabilitas memastikan alasan pilihan
tersebut dapat dijelaskan, dicatat, dan diuji kembali.
Dengan kerangka
ini, pertimbangan profesional tidak menjadi ruang gelap di antara data dan
simpulan. Yang penting justru membuat hubungan antara bukti, alternatif, dan
keputusan tetap terlihat. Dua Penilai dapat saja memberi penekanan berbeda pada
unsur tertentu tanpa otomatis berarti salah satunya keliru. Namun, perbedaan
hanya dapat dipertanggungjawabkan jika alasan pilihan tetap konsisten dengan
ketentuan, tujuan penilaian, dan bukti yang tersedia.
Bayangkan suatu
properti komersial dinilai untuk tujuan tertentu. Data pasar tersedia, tetapi
tidak sepenuhnya kuat: sebagian berupa penawaran yang perlu verifikasi lebih lanjut
dan sebagian transaksi berada pada kondisi yang berbeda. Di sisi lain, data
pendapatan objek cukup tersedia dan dapat dianalisis, tetapi proyeksi tetap
memerlukan asumsi mengenai tingkat hunian, pendapatan, biaya, dan tingkat imbal
hasil. Secara teknis, lebih dari satu jalur analisis masih mungkin
dipertimbangkan.
Pada situasi
seperti ini, aturan dan petunjuk teknis memberi koridor mengenai pendekatan dan
metode yang dapat digunakan sesuai objek, tujuan, data, dan informasi. Namun
koridor tersebut tidak otomatis menjawab jalur mana yang seharusnya menjadi
dasar utama, data apa yang paling dapat diandalkan, atau analisis tambahan apa
yang masih diperlukan sebelum simpulan dibuat.
Pertanyaan
profesionalnya bukan "metode mana yang paling mudah dihitung?", melainkan
"jalur analisis mana yang paling sesuai dengan karakter objek, tujuan
penilaian, dan kekuatan bukti yang benar-benar tersedia?" Penilai perlu
membaca kecukupan data, relevansi pasar, kualitas asumsi, keterbatasan
masing-masing analisis, serta konsistensi hasil sebelum menentukan peran setiap
pendekatan dalam pembentukan simpulan.
Di sinilah kertas
kerja kembali penting, tetapi bukan sebagai topik utama. Pertimbangan tanpa
dokumentasi sulit diuji; dokumentasi tanpa pertimbangan hanya merekam langkah.
Yang perlu terlihat adalah alternatif yang dipertimbangkan, alasan pilihan,
bukti yang mendukungnya, dan bagaimana keputusan tersebut terhubung dengan
simpulan.
Pertimbangan
profesional juga perlu dibedakan dari skeptisisme profesional. Pertimbangan
membantu memilih keputusan yang paling dapat dipertanggungjawabkan; skeptisisme
membantu menguji apakah bukti yang mendukung keputusan tersebut benar-benar
cukup. Ringkasnya: pertimbangan memilih, skeptisisme menguji.
Karena itu,
Penilai tidak seharusnya menerima data, model, atau narasi hanya karena tampak
rapi. Sebaliknya, Penilai juga tidak perlu mencari keraguan tanpa dasar. Sikap
yang sehat adalah menguji bukti pendukung, memperhatikan informasi yang
berpotensi menyangkal pilihan awal, lalu menilai apakah alasan yang tersisa
masih cukup kuat.
Sebelum suatu
pertimbangan dianggap cukup kuat, Penilai dapat menguji dirinya dengan lima
pertanyaan berikut.
Pertama, apa
aturan atau batas teknis yang mengikat keputusan ini?
Kedua, bukti apa
yang benar-benar mendukung pilihan saya?
Ketiga,
alternatif masuk akal apa yang telah saya pertimbangkan, dan mengapa tidak
dipilih?
Keempat, seberapa
besar pengaruh keputusan ini terhadap proses atau simpulan sehingga alasannya
perlu dijelaskan lebih kuat?
Kelima, apakah
Penilai lain, penelaah, atau pengkaji ulang dapat memahami alasan saya tanpa
harus menebak apa yang ada di kepala saya?
Lima pertanyaan
tersebut bukan checklist normatif baru. Ia merupakan alat bantu untuk
memastikan bahwa pertimbangan tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi,
melainkan dapat dibaca sebagai keputusan profesional yang mempunyai bukti,
penalaran, dan jejak yang cukup.
Ada beberapa
pagar yang perlu dijaga. Pertama, pertimbangan profesional tidak boleh
digunakan untuk mengabaikan ketentuan yang jelas. Kedua, pengalaman tidak boleh
berdiri sendiri sebagai pembenaran. Ketiga, alternatif yang masuk akal tidak
boleh diabaikan tanpa alasan, terutama bila keputusan tersebut berpengaruh
besar terhadap simpulan. Keempat, formula, model, spreadsheet, database, atau
alat bantu lain tidak memindahkan tanggung jawab keputusan dari Penilai.
Kelima, alasan harus proporsional dengan pentingnya keputusan: semakin besar
pengaruhnya, semakin jelas bukti dan penjelasan yang diperlukan. Keenam,
perbedaan pertimbangan tidak otomatis membenarkan semua perbedaan hasil; alasan
tetap harus koheren dengan bukti, metodologi, dan tujuan penilaian.
Demikian pula,
penelaah atau pengkaji ulang tidak semestinya mengganti pertimbangan Tim
Penilai hanya karena secara pribadi mungkin akan memilih alternatif yang
berbeda. Yang relevan untuk diuji adalah apakah pilihan Tim Penilai berada
dalam koridor ketentuan, mempunyai dasar faktual, diterapkan secara konsisten,
memperhitungkan bukti yang relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan dari
dokumentasi yang tersedia.
Penilaian yang
baik membutuhkan lebih dari sekadar kepatuhan pada langkah dan ketepatan
hitung. Ia membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan ketika bukti tidak
sempurna, alternatif lebih dari satu, atau metode tidak memberikan satu jawaban
otomatis.
Di situlah
pertimbangan profesional memperoleh maknanya. Pertimbangan yang kuat bukan
pertimbangan yang kebal dari pertanyaan, melainkan pertimbangan yang tetap
dapat dijelaskan ketika ditantang. Ia tidak menggantikan aturan, tidak
menggantikan bukti, dan tidak boleh bersembunyi di balik pengalaman. Ia
menghubungkan aturan, bukti, konteks, alternatif, dan metode menjadi keputusan
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip paling
aman untuk diingat adalah ini: ketika aturan dan metode tidak memberi satu
jawaban mekanis, alasan profesional harus mulai berbicara - dan alasan itu
harus cukup kuat untuk dibaca, diuji, dan dipertanggungjawabkan.
Tulisan ini
bertumpu pada kerangka penilaian oleh Penilai Pemerintah yang berlaku, terutama
PMK Nomor 99 Tahun 2024, PER-1/KN/2025, serta petunjuk teknis sesuai objek dan
tujuan penilaian, termasuk PER-2/KN/2025, PER-5/KN/2025, dan PER-6/KN/2025
sepanjang relevan.
Sebagai pengayaan
profesi, pembacaan juga mempertimbangkan International Valuation Standards
(IVS) dan RICS Valuation - Global Standards (Red Book), keduanya efektif sejak
31 Januari 2025, terutama pada aspek kualitas proses, kompetensi, objektivitas,
dokumentasi, dan pertimbangan profesional. Rujukan internasional tersebut bukan
pengganti ketentuan DJKN.
Seri 10 membahas
di mana alasan profesional disimpan dan ditelusuri; Seri 11 membahas bagaimana
alasan tersebut dibentuk sebelum direkam, diuji, dan dipertanggungjawabkan.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |