Press Release: Realisasi APBN di Provinsi Bali s.d. 31 Mei 2026
Dedy Widia H.
Rabu, 24 Juni 2026 |
49 kali
Denpasar, Juni 2026 – Pertumbuhan ekonomi Bali periode triwulan I tahun 2026
mencapai 5,58% yoy lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun
demikian, data inflasi menunjukkan nilai yang masih aman sebesar 2,99% yoy atau
0,42% mtm. Dari sisi neraca perdagangan, sebesar US$36,66 juta berhasil
terealisasi secara kumulatif. Berdasarkan indeks kesejahteraan, Nilai Tukar
Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menunjukkan angka di atas 100,
meskipun masih lebih rendah dibandingkan nasional. NTP turun 0,15 poin menjadi
105,90, sedangkan NTN berhasil naik 1,47 poin menjadi 103,46.
Kinerja Pelaksanaan APBN Regional Bali hingga Mei 2026
Kinerja fiskal
di Bali ditandai dengan pertumbuhan dari sisi pendapatan dan belanja negara.
Capaian Pendapatan dan Hibah mencapai Rp9,36 triliun atau 30,79?ri target
dan tumbuh 7,89% yoy. Pertumbuhan ini secara dominan disumbangkan oleh komponen
perpajakan termasuk bea cukai, sedangkan komponen Pendapatan Negara Bukan Pajak
(PNBP) terkontraksi sebesar -3,16% yoy. Adapun penurunan PNBP berasal dari realisasi
PNBP Lainnya yang terkontraksi -20,52% yoy dengan nilai RP855,80 miliar atau
38,83?ri target. Di sisi lain, PNBP BLU tumbuh sebesar 20,33% yoy dengan
nilai Rp957,37 miliar (41,49?ri target).
Realisasi
penerimaan perpajakan didominasi oleh capaian PPh sebesar Rp5,44 triliun atau
31,30?ri target. Realisasi tertinggi berikutnya disumbangkan oleh Pajak PPN
dan PPnBM sebesar Rp1,77 triliun atau 29,77?ri pagu diikuti oleh realisasi
Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp6,50 miliar. Adapun capaian Pajak Lainnya
masih bersifat negative sebesar -Rp173,07 triliun akibat reklasifikasi deposit
pajak periode sebelumnya. Kontribusi pajak terbesar s.d. Mei 2026 berasal dari
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar Rp1,24 triliun tumbuh 5,65% yoy. Dari sisi
kepabeanan dan cukai, didominasi oleh capaian cukai sebesar Rp460,52 miliar
tumbuh 6,38% yoy. Capaian ini turut didukung oleh kinerja penerimaan bea
masuk sebesar Rp57,92 miliar dan bea keluar sebesar Rp493 ribu. Berdasarkan
data komoditi ekspor impor, nilai ekspor tertinggi disumbangkan oleh daging
ikan sebesar Rp20,98 juta diikuti perhiasan sebesar Rp16,55. Adapun dari sisi
impor didominasi oleh importasi parts mesin sebesar Rp5,68 juta, barang
dari kulit sebanyak Rp3,55 juta dan perhiasan sebesar RP3,22 juta.
Belanja Negara
di Provinsi Bali s.d. Mei 2026 mencapai Rp8,68 triliun tumbuh 7,31% yoy.
Pertumbuhan ini secara dominan berasal dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar
20,19% yoy dengan nilai Rp3,83 triliun. Realisasi tertinggi disumbangkan oleh
Belanja Pegawai sebesar Rp2,30 triliun atau 43,96?ri pagu. Dari sisi belanja
barang terealisasi sebesar Rp1,24 triliun tumbuh 14,42% yoy yang didominasi
oleh pembayaran remunerasi BLU besar maupun belanja operasional BLU. Pertumbuhan
tertinggi disumbangkan oleh Belanja Modal sebesar 64% yoy atau Rp287,39 miliar
didominasi realisasi pembangunan gedung sekolah rakyat. Adapun belanja yang
terkontraksi di Provinsi Bali hanyalah belanja bantuan sosial sebesar -64,79%
yoy atau Rp3,64 miliar untuk pemberian bantuan ATENSI di beberapa wilayah Jawa
Timur.
Realisasi Transfer
ke Daerah (TKD) mendominasi Belanja Negara sebesar Rp4,85 triliun, meskipun terkontraksi
sebesar -1,06% yoy. Kontraksi ini didorong oleh penurunan pagu TKD tahun 2026. Berdasarkan
komponen TKD, kinerja realisasi tertinggi disumbangkan oleh Dana Desa sebesar
92,60?ri pagu atau Rp199,04 miliar dan terkontraksi -49,77% yoy. Kontraksi
realisasi terdalam disumbangkan oleh Dana Bagi Hasil sebesar -65,06% yoy atau Rp58,98
miliar. Adapun realisasi DBH Bali untuk Bulan Mei hanya disumbangkan oleh DBH
SDA Perikanan di seluruh kabupaten/kota di Bali. Berdasarkan kinerja tersebut,
sampai dengan akhir Mei 2026, APBN di Provinsi Bali mencatatkan surplus sebesar
Rp679,98 miliar.
Di samping
pelaksanaan APBN, Kementerian Keuangan juga melaksanakan pengelolaan Barang
Milik Negara (BMN) di Provinsi Bali. Nilai BMN yang dikelola di Provinsi Bali s.d.
31 Mei 2026 mencapai Rp127,16 triliun. Nilai BMN di Provinsi Bali didominasi dalam
bentuk tanah senilai Rp97,70 triliun disusul Gedung dan bangunan senilai Rp11,20
triliun. Nilai PNBP BMN tertinggi berasal dari PNBP Pengelolaan BMN sebesar
RP5,64 miliar disumbangkan oleh Pemanfaatan Sewa dan Pemindahtanganan BMN,
disusul Penjualan Rampasan dan Pendapatan BLU lainnya. Hingga 31 Mei 2026, dukungan
terhadap Program Strategis Nasional di Provinsi Bali diwujudkan dalam hal
Pembangunan jalan tol Gilimanuk-Negara-Pekutatan-Soka-Mengwi dan Bendungan
Sidan.
Kinerja Pelaksanaan APBD Regional Bali hingga Mei 2026
Berdasarkan data konsolidasi seluruh pemda di Provinsi Bali, kinerja
pendapatan daerah mencapai Rp12,38 triliun tumbuh
7,38% yoy yang didominasi oleh peningkatan PAD sebesar 10,25% yoy atau mencapai
realisasi Rp7,60 triliun. Penurunan terdalam terdapat di komponen Lain-Lain
Pendapatan Daerah yang Sah sebesar -72,28% yoy akibat penurunan pagu dan
realisasi di beberapa daerah. Realisasi Pajak Daerah mencapai Rp5,65 triliun
yang dominan disumbangan oleh PBJT sebesar Rp3,32 triliun disusul Pajak
Kendaraan Bermotor sebesar Rp669,47 miliar.
Dari sisi belanja konsolidasi mencapai realisasi Rp9,78 triliun tumbuh
17,42% yoy. Nominal tertinggi disumbangkan oleh Belanja Operasi sebesar Rp7,49
triliun yang berasal dari Belanja Pegawai sebesar Rp4,63 triliun disusul
Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp1,95 triliun. Adapun pertumbuhan termasif dalam
Belanja Operasi berasal dari realisasi Belanja Bunga sebesar 95,25% yoy atau
mencapai Rp1,95 triliun. Selanjutnya Adapun belanja daerah dengan pertumbuhan
tertinggia dalah Belanja Modal sebesar 231,43% yoy atau terealisasi Rp1,02
triliun yang menunjukkan akselerasi belanja setelah kebijakan efisiensi
tahun 2025.
Kinerja Penyaluran Kredit Program Provinsi Bali hingga Mei 2026
Penyaluran kredit program di Bali mencapai Rp4,52 triliun (tumbuh 38,74% yoy) kepada 52.915 debitur (naik 14,12% yoy). Kinerja penyaluran kredit program Provinsi Bali berhasil menduduki posisi ke-6 sebagai penyalur terbesar tingkat nasional. Nilai ini tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan nilai penyaluran tertinggi berada di Kota Denpasar sebesar Rp773,81 miliar kepada 6.526 debitur. Kabupaten dengan debitur terbanyak adalah Kab. Buleleng sebanyak 9.820 debitur, dengan nilai penyaluran sebesar Rp527,88 miliar. Penyaluran kredit program dominan berada pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 33,62%, sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 20,14% maupun sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya sebesar 12,33%. Skema penyaluran dengan debitur terbanyak adalah Kredit Mikro dengan jumlah 41.712 debitur, sebesar Rp2,71 triliun.