Siaran Pers: Kinerja APBN Terjaga, Mendukung Program Prioritas Nasional dan Menjadi Katalis Pertumbuhan
Dedy Widia H.
Kamis, 09 Oktober 2025 |
236 kali
Jakarta,
22 September 2025
A. Perkembangan APBN hingga 31 Agustus 2025
1.
Realisasi
Pendapatan Negara mencapai Rp1.638,7 triliun (57,2?ri outlook berdasarkan
Lapsem 2025). Penerimaan Pajak mencapai Rp1.135,4 triliun (54,7?ri outlook).
Penerimaan Pajak bruto s.d. Agustus 2025 untuk jenis pajak PPh Orang Pribadi,
PPh Badan dan PBB tumbuh seiring aktivitas ekonomi yang terus membaik, dan
ditopang kinerja sektor utama seperti pertambangan, perdagangan, pertanian,
industri, dan perbankan.
2.
Penerimaan
Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp194,9 triliun (62,8?ri outlook), tumbuh 6,4%
(yoy). Bea Keluar tumbuh didorong kenaikan harga dan volume ekspor sawit, Cukai
tumbuh sebagai dampak perubahan kebijakan penundaan pelunasan pita cukai.
Sementara itu, kinerja Bea Masuk dipengaruhi kebijakan perdagangan di bidang
pangan.
3.
Realisasi
PNBP mencapai Rp306,8 triliun (64,3?ri outlook). Kinerja PNBP SDA Migas
dipengaruhi fluktuasi harga minyak dan gas bumi, sementara realisasi PNBP SDA
Nonmigas mayoritas dipengaruhi Harga Batubara Acuan (HBA) dan volume produksi
Batubara. Realisasi PNBP BLU dipengaruhi penurunan pendapatan penyediaan jasa
dan layanan telekomunikasi dan perbankan. Sementara PNBP lainnya disumbang
kenaikan Pendapatan Minyak Mentah (DMO) dan pendapatan layanan PNBP K/L.
4.
Belanja
Negara terealisasi sebesar Rp1.960,3 triliun (55,6?ri outlook), tumbuh 1,5%
(yoy). Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp1.388,8 triliun (52,1?ri outlook), tumbuh 1,5% (yoy). Realisasi Belanja K/L sebesar Rp686,0 triliun
(53,8?ri outlook), antara lain dipengaruhi oleh penyaluran Bansos (PBI JKN,
PKH, kartu sembako, PIP, dan KIP Kuliah) yang semakin tepat sasaran melalui
validasi Data Tunggal Ekonomi Nasional (DTSEN) serta pelaksanaan program
prioritas Pemerintah. Belanja Non-K/L terealisasi sebesar Rp702,8 triliun
(50,6?ri outlook), antara lain dipengaruhi oleh pembayaran manfaat pensiun
dan subsidi yang dibayarkan sesuai jadwal.
5.
Transfer
ke Daerah (TKD) terealisasi Rp571,5 triliun (66,1?ri outlook), tumbuh 1,7%
yoy. Realisasi TKD lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya karena
adanya perbaikan penyampaian dan pemenuhan syarat salur oleh Pemda. Peningkatan
penyaluran TKD belum dibarengi kinerja belanja daerah. Optimalisasi pelaksanaan
APBD perlu terus didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan
kesejahteraan masyarakat.
6.
Berbagai
program prioritas terus berlanjut dan memberi manfaat kepada masyarakat di
seluruh Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 8 September 2025
telah terealisasi sebesar Rp13 triliun dan menjangkau 22,7 juta penerima
manfaat. Sekolah Rakyat yang telah beroperasi mencapai 100 sekolah dan
memberikan akses pendidikan bagi 9.780 siswa aktif, sementara Program
Revitalisasi Sekolah telah terealisasi Rp9,6 triliun untuk 10.440 satuan
pendidikan dan 2.120 madrasah. Dukungan APBN untuk program prioritas 2/3 akan
memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjadi
penopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah-panjang.
7.
APBN
sampai dengan 31 Agustus mencatat defisit yang terjaga sebesar Rp321,6 triliun
(1,35% PDB), dengan keseimbangan primer positif sebesar Rp22,0 triliun.
Pembiayaan anggaran terealisasi Rp425,7 triliun. Pemenuhan pembiayaan APBN
dilakukan hati-hati dan terukur di tengah dinamika pasar keuangan.
B. Perkembangan Perekonomian
1.
PMI
Manufaktur global bulan Agustus 2025 kembali ekspansif di level 50,9 (Juli
49,7). Eropa mengalami ekspansi pertama kalinya sejak Juni 2022. Negara lain
yang juga berada di zona ekspansi antara lain India, Australia, AS, dan
Indonesia. PMI Manufaktur Indonesia bulan Agustus sebesar 51,5. Sementara
Jepang, Turki, Brazil dan Inggris masih berada di zona kontraksi.
2.
Prospek
ekonomi global membaik, namun ketidakpastian dan risiko eksternal perlu tetap
diantisipasi. Dampak rambatan terhadap perekonomian domestik perlu terus dimitigasi
dengan kebijakan yang tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan. APBN yang sehat
dan prudent diperlukan sebagai enabler untuk mencapai pertumbuhan ekonomi
tinggi ke depan.
3.
Harga
komoditas masih fluktuatif akibat konflik geopolitik dan prospek ekonomi global
yang dinamis. Per 19 September 2025, harga minyak Brent naik 1,4% month over
month (mom) namun turun 14,8% year over year (yoy), harga Batubara turun 7,0%
(mom) dan turun 21,1% (yoy). Harga tembaga naik 2,6% (mom) dan 3,6% (yoy),
nikel naik 1,8% (mom) namun turun 10,9% (yoy), sementara harga CPO naik 1,3%
(mom) dan 16,6% (yoy).
4.
Kinerja
perdagangan Indonesia tetap kuat di tengah perang tarif. Perkiraan surplus
Neraca Perdagangan Agustus 2025 sebesar USD5,3 miliar (data internal Kemenkeu).
Neraca perdagangan Januari s.d. Agustus 2025 (kumulatif) diperkirakan tumbuh
52,3% (yoy), dipengaruhi oleh meningkatnya surplus non migas seiring penguatan
ekspor sektor industri dan pertanian. Di tengah meningkatnya risiko
perdagangan, pemerintah terus memperluas kerja sama global untuk menjaga
resiliensi sektor perdagangan Indonesia.
5.
Di
tengah volatilitas pasar keuangan global, kinerja instrumen keuangan domestik
tetap positif, ditopang oleh kepercayaan investor yang terus membaik. Risiko
Indonesia terjaga dengan currency risk yang turun dan country risk yang stabil.
Pada 19 September 2025, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.498 per USD
atau melemah 3,0% (ytd). Yield SBN berdenominasi rupiah turun dari 6,97% di
awal 2025 menjadi 6,28%, sementara spread terhadap UST menyempit dari 240 bps
menjadi 216 bps, sebuah pencapaian yang baik dan merefleksikan cepatnya
pemulihan kepercayaan investor. Stabilitas country risk tercermin dari yield
SBN USD tenor 10 tahun yang turun dari 5,45% menjadi 4,92%, dengan spread
terhadap UST juga menurun dari 88 bps menjadi 79 bps. Angka ini termasuk salah
satu level terendah secara historis, dan diperkirakan akan terus membaik
seiring perbaikan ekonomi ke depan. Dari sisi arus dana, pasar SBN mencatat
inflow sebesar Rp42,6 triliun (ytd), sementara SRBI dan Saham masih mengalami
outflow masing-masing sebesar Rp119,6 triliun (ytd) dan Rp58,7 triliun (ytd).
6.
Inflasi
Agustus 2025 di level 2,31 (yoy), stabil menopang daya beli masyarakat. Inflasi
volatile food terus dikendalikan dengan kebijakan intervensi harga dan
penguatan peran Bulog, sementara inflasi administered price terjaga didukung
kebijakan harga energi nasional yang mendukung daya beli masyarakat.
7.
Berbagai
indikator dini perekonomian domestik menunjukkan kinerja positif pada bulan 3/3
Agustus 2025. Tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi terjaga di
level 117,2. Pertumbuhan penjualan ritel mencapai 2,7% (yoy), sedikit menurun
dampak normalisasi pasca masa liburan, Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur
kembali ke level ekspansi pada level 51,5, didorong oleh pertumbuhan produksi
dan permintaan. Konsumsi listrik tumbuh positif (bisnis 4,7% yoy dan industri
4,1% yoy), mencerminkan aktivitas ekonomi terjaga.
8.
Pemerintah
berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi melalui optimalisasi
peran sektor keuangan. Salah satu langkah konkret adalah penempatan kas negara
sebesar Rp200 triliun pada bank-bank BUMN untuk menambah likuditas pasar.
Penempatan dana pemerintah tersebut diharapkan memperluas ruang penyaluran
kredit, dan mempercepat transmisi penurunan suku bunga. Kebijakan ini selaras
dengan pemangkasan suku bunga BI sebesar 25 bps pada RDG 16-17 September.
Peningkatan likuiditas dan turunnya cost of fund diproyeksikan dapat mendorong
konsumsi dan investasi, sehingga multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi
semakin kuat. Pemerintah juga terus mendorong iklim usaha yang kondusif dan
memperkuat peran Danantara sebagai katalis untuk me-leverage investasi swasta
utamanya pada sektor-sektor strategis yang memiliki nilai tambah tinggi.
9.
Pemerintah
meluncurkan 8 Program Paket Ekonomi Semester II 2025 yang mencakup program
magang fresh graduate lulusan Perguruan Tinggi, perluasan insentif PPh 21 DTP,
bantuan pangan, diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan
Kematian (JKM) bagi Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) transportasi online
(termasuk Ojek Pangkalan, Supir, Kurir, dan Logistik), manfaat layanan tambahan
perumahan BPJS ketenagakerjaan, padat karya tunai, percepatan deregulasi
(implementasi PP28/2025) dan program peningkatan kualitas permukiman dan
penyediaan tempat untuk Gig Economy.
10. Meskipun telah menurun dibandingkan
periode semester I, ketidakpastian global akibat perang dagang, volatilitas
pasar keuangan dan harga komoditas, serta tensi geopolitik perlu terus
diantisipasi dan dimitigasi. Perekonomian Indonesia masih resilien baik dari
sisi sektor ekonomi, sisi permintaan, maupun kontribusi masing-masing daerah
dan akan terus diperkuat dengan berbagai stimulus pemerintah. Kinerja APBN
hingga Agustus 2025 tercatat on track, dan akan terus dioptimalkan untuk
mendukung program prioritas nasional dan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi.
Kualitas Belanja Negara terus ditingkatkan dan dipercepat realisasinya,
sementara produktivitas Kas Negara terus dioptimalkan. Kinerja Pendapatan
Negara terus dijaga dan diperbaiki sejalan perkembangan kondisi ekonomi