Siaran Pers: RAPBN Tahun Anggaran 2026: Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi Menuju “Indonesia Tangguh, Mandiri, dan Sejahtera”
Dedy Widia H.
Kamis, 09 Oktober 2025 |
1097 kali
Jakarta,
15 Agustus 2025 – Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan
disrupsi perdagangan internasional, peran sentral APBN menjadi sangat strategis
guna meredam tekanan eksternal sekaligus tetap mendorong agenda pembangunan
nasional. Pada tahun 2026, ketidakpastian global diperkirakan masih terus
berlanjut dan semakin kompleks. Risiko eskalasi ketegangan geopolitik seperti
konflik dan ancaman siber (cyber) dan perang di berbagai kawasan semakin
mengikis tatanan internasional yang dilandaskan pada aturan dan kesepahaman
untuk kepentingan bersama. Meskipun demikian, tensi ketidakpastian global
diharapkan mereda sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja perekonomian
global. Berdasarkan kondisi tersebut, International Monetary Fund (World
Economic Outlook, Juli 2025) memproyeksikan ekonomi global pada tahun 2026
tumbuh 3,1 persen (yoy). Pertumbuhan ekonomi global 2026 sedikit membaik jika
dibandingkan outlook 2025 sebesar 3,0 persen, namun masih lebih rendah jika dibandingkan
pertumbuhan ekonomi 2024 yang sebesar 3,3 persen.
Laju inflasi tetap terkendali yang mencerminkan terjaganya daya beli masayarakat. Kinerja neraca perdagangan mencatatkan surplus 62 bulan berturut-turut di tengah perekonomian dunia yang relatif stagnan sementara cadangan devisa pada Maret 2025 menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, dalam 10 (sepuluh) bulan pertama Kabinet Merah Putih, berbagai program prioritas strategis menunjukkan capaian sebagai modal penting menyongsong agenda pembangunan ke depan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ibu hamil/menyusui, serta balita dan anak prasekolah di berbagai daerah. Sementara Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah melayani masyarakat melalui Puskesmas dan sekolah/madrasah. Di bidang pendidikan,159 Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi pada tahun 2025 dan pembangunan SMA Unggul Garuda dimulai di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Tengah. Melanjutkan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk pencapaian target 3 Juta Rumah, serta penguatan ekonomi rakyat dilakukan melalui pembentukan lebih dari 80 ribu Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih.
Di sektor pangan, optimasi 500 ribu hektar sawah dan 225 ribu hektar cetak sawah baru terus dilakukan untuk menjaga swasembada pangan. Modernisasi Alutsista dan intelijen dilanjutkan untuk memperkuat pertahanan semesta dan menjaga kedaulatan nasional. Berbagai capaian tersebut akan diakselerasi untuk memenuhi target tahun 2025 serta dilanjutkan dan dioptimalkan dalam agenda pembangunan tahun 2026. Selanjutnya, menghadapi dinamika global tahun 2026, Pemerintah Indonesia berfokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan melindungi dunia usaha serta kelompok rentan. Strategi ekonomi dan fiskal akan diselaraskan dengan pelaksanaan agenda prioritas pembangunan nasional tahun 2026. Upaya dalam menjaga daya beli akan dilakukan melalui pengendalian inflasi serta optimalisasi program perlindungan sosial dan program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Sekolah Unggul Garuda, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Upaya meningkatkan investasi akan difokuskan pada sektor strategis bernilai tambah, sedangkan penguatan ekspor didorong melalui hilirisasi dan diversifikasi pasar. Sementara itu, dari sisi suplai, Pemerintah mendorong penguatan rantai pasok pertanian, hilirisasi industri, dan proyek strategis nasional (PSN).
Berpijak atas proyeksi perekonomian global tahun 2026, stabilitas ekonomi domestik, capaian pembangunan nasional tahun berjalan, serta strategi ekonomi dan fiskal tahun 2026, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 ditargetkan akan mencapai 5,4 persen. Akselerasi pertumbuhan ekonomi terus diarahkan supaya lebih inklusif melalui pencapaian sasaran dan target indikator pembangunan. Pemerintah berupaya menurunkan tingkat kemiskinan mencapai rentang 6,5-7,5 persen. Rasio gini diupayakan menurun hingga rentang 0,377-0,380. Sementara itu, tingkat kemiskinan ekstrem ditargetkan mendekati 0 (nol) persen. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan menurun ke kisaran 4,44-4,96 persen. Sementara itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) terus ditingkatkan dalam mewujudkan Indonesia yang maju, sehingga Indeks Modal Manusia (IMM) ditargetkan membaik mencapai 0,57. Selain itu, sasaran pembangunan nasional juga diupayakan semakin meningkat melalui indeks kesejahteraan petani yang ditargetkan mencapai 0,7731 dan proporsi penciptaan lapangan pekerjaan formal mencapai 37,95 persen. Dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional, Pemerintah menyusun RAPBN tahun 2026 sebagai instrumen untuk melaksanakan 8 (delapan) agenda pembangunan (Asta Cita). Program Asta Cita mencakup penguatan ideologi Pancasila dan demokrasi, pemantapan sistem pertahanan keamanan serta mendorong kemandirian melalui swasembada pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pembangunan SDM unggul, hilirisasi dan industrialisasi, pembangunan dari desa, reformasi birokrasi dan hukum, serta harmonisasi kehidupan sosial dan lingkungan. APBN memainkan peran penting sebagai instrumen negara dalam mencapai tujuan tersebut, dengan mengedepankan prinsip alokasi adil, distribusi merata, serta stabilisasi ekonomi. Di tengah gejolak global yang dinamis dan tantangan struktural domestik, kebijakan fiskal 2026 difokuskan untuk mewujudkan “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi” menuju Indonesia tangguh, mandiri, dan sejahtera. Strategi jangka pendek diarahkan untuk: pertama, memperkuat daya tahan ekonomi dan fiskal dalam meredam gejolak dengan menjaga stabilisasi ekonomi melalui diplomasi ekonomi terkait perdagangan dan investasi dengan negosiasi, deregulasi, dan perluasan pasar ekspor. Upaya tersebut termasuk memperkuat strategi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Kedua, melindungi dunia usaha dan daya beli masyarakat melalui pemberian insentif fiskal dan berbagai program perlindungan sosial. Ketiga, menjaga APBN tetap sehat dan kredibel dengan mengendalikan defisit serta melakukan pembiayaan inovatif dan berkelanjutan (sustainable), efisiensi, dan fokus belanja untuk agenda prioritas, optimalisasi pendapatan negara, serta mengoptimalkan fiscal buffer dan fleksibilitas. Sementara itu, strategi jangka menengah diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan sosial. Strategi jangka menengah membutuhkan konsistensi kebijakan untuk mendukung transformasi ekonomi dan sosial dengan ditopang pengelolaan fiskal yang sehat dan berkelanjutan. Sejalan dengan hal tersebut, maka strategi jangka menengah difokuskan melalui 8 (delapan) strategi, yaitu (1) ketahanan pangan; (2) ketahanan energi; (3) Makan Bergizi Gratis (MBG); (4) program pendidikan bermutu; (5) program kesehatan berkualitas; (6) pembangunan desa, koperasi, dan UMKM; (7) penguatan pertahanan semesta; serta (8) akselerasi investasi dan perdagangan global. Selanjutnya, berbagai bauran strategi tersebut dibingkai dalam kebijakan fiskal yang tercantum dalam RAPBN tahun 2026 yang akan dijaga tetap sehat, kredibel, dan produktif. Langkah-langkah kebijakan akan ditempuh di bidang Pendapatan Negara, Belanja Negara, serta Pembiayaan Anggaran.
Untuk itu, Pemerintah hari ini kembali mengajukan RUU APBN Tahun Anggaran 2026 berserta Nota Keuangan kepada DPR RI yang selanjutnya akan dibahas bersama mengenai pokok-pokok kebijakan sebagai berikut:
ASUMSI
DASAR EKONOMI MAKRO 2026
Perekonomian
global diproyeksikan masih bergejolak dengan tingkat ketidakpastian tinggi.
Eskalasi perang tarif dan meluasnya konflik geopolitik menimbulkan
ketidakstabilan yang berpotensi menghambat prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Meningkatnya ketegangan, fragmentasi, serta kecenderungan proteksionisme akan
mendorong ekonomi biaya tinggi, mengganggu kelancaran rantai pasok global, dan
memperlambat kinerja perdagangan internasional, khususnya ekspor dan impor. Di
tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia masih terjaga sepanjang
periode 2022-2024. Pertumbuhan ekonomi stabil di level 5 persen dengan inflasi
terkendali pada periode tersebut. Tahun 2025, di tengah ketidakpastian global
yang semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi pada semester I dapat dijaga
sebesar 4,99 persen (yoy), salah satu tertinggi di antara negara-negara G20.
Inflasi pada bulan Juli 2025 relatif terkendali sebesar 2,37 persen (yoy),
sehingga menjaga tingkat konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor
signifikan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Pemerintah juga berhasil dalam
menurunkan tingkat kemiskinan dari 10,14 persen tahun 2021 menjadi 8,47 persen
tahun 2025, bahkan kemiskinan ekstrim dapat di turunkan dari 2,14 persen
menjadi 0,85 persen dalam periode yang sama. Tingkat ketimpangan juga berkurang
dari 0,384 pada tahun 2021 menjadi 0,375 pada tahun 2025. Pemerintah juga terus
memperbaiki upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan
indikator yang lebih mencerminkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam tahun 2025, Pemerintah menggunakan Indeks Modal Manusia sebagai target dalam mengukur secara komprehensif kemampuan dan kualitas daya saing SDM Indonesia dengan target sebesar 0,56. Sebagai instrumen kebijakan fiskal, APBN memiliki peran strategis dalam memengaruhi perekonomian. Besaran APBN dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap sektor riil (permintaan agregat), sektor moneter, dan sektor eksternal (neraca pembayaran). Dalam RAPBN 2026, dampak APBN terhadap sektor-sektor ekonomi di evaluasi dalam tiga tahun terakhir untuk mendapat gambaran bagaimana APBN memberi manfaat dan dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Evaluasi terhadap dampak tersebut juga dapat memberi gambaran berapa potensi pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai di tahun 2026 yang memengaruhi penyusunan target asumsi dasar ekonomi makro yang menjadi acuan dalam RAPBN 2026.
Prospek ekonomi global untuk tahun 2025 diproyeksikan membaik dibandingkan proyeksi sebelumnya, namun masih dibayangi risiko. IMF dalam WEO Juli 2025 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0 persen, meningkat 0,1 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Perbaikan prospek ekonomi global didorong oleh kondisi sektor keuangan yang lebih longgar termasuk pelemahan dolar AS, tercapainya kesepakatan dagang beberapa negara dengan AS, ekspansi fiskal di beberapa negara yang meningkatkan permintaan, percepatan aktivitas ekonomi di awal periode (front-loading), serta penurunan inflasi global yang memperkuat daya beli dan stabilitas ekonomi. Sementara itu, risiko pelemahan tetap perlu diwaspadai, terutama yang didorong oleh meningkatnya hambatan perdagangan, tingginya ketidakpastian, volatilitas keuangan yang membesar, serta melemahnya kepercayaan pelaku usaha. Mengawali 2025, ekonomi Indonesia tumbuh resilien sebesar 4,87 persen (yoy) pada triwulan I di tengah peningkatan tekanan global. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mendekati 5 persen, didukung stimulus fiskal seperti THR, diskon listrik dan tol, serta stabilisasi harga pangan. Investasi tumbuh moderat, sementara konsumsi Pemerintah terkontraksi akibat efek basis tinggi pasca-Pemilu. Ekspor tumbuh stabil 6,46 persen (yoy), ditopang ekspor komoditas sawit dan besi baja yang tumbuh masing-masing 36,0 persen dan 6,6 persen (yoy). Dari sisi produksi, sektor pertanian tumbuh impresif di atas 10 persen berkat perbaikan distribusi pupuk yang mendorong optimalisasi panen raya. Industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan solid, memperkuat fondasi transformasi ekonomi berbasis hilirisasi. Perekonomian Indonesia kembali tumbuh positif pada triwulan II sebesar 5,12 persen (yoy) ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan juga kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,97 persen (yoy), mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Hal ini didukung oleh berbagai insentif Pemerintah, seperti pemberian gaji ke-13, diskon tarif transportasi dan tol, penebalan bantuan sosial dan pangan, serta bantuan subsidi upah. Peningkatan mobilitas masyarakat pada periode libur Lebaran, hari besar keagamaan, dan liburan sekolah juga turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat selama periode tersebut. Di sisi lain, konsumsi Pemerintah pada triwulan II masih sedikit terkontraksi sebesar 0,33 persen (yoy), seiring dengan pertumbuhan belanja barang yang masih tumbuh negatif 9,7 persen (yoy). Berbagai kebijakan stimulus untuk menjaga daya beli dan stabilisasi ekonomi pada triwulan II diarahkan untuk menjaga pengeluaran masyarakat pada kebutuhan pokok. Belanja negara penopang kinerja konsumsi Pemerintah seperti belanja pegawai, belanja modal, dan belanja bantuan sosial pada triwulan II terserap lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III dan IV 2025, diperkirakan serapan belanja barang akan terakselerasi seiring dengan pelaksanaan program nasional seperti MBG, perumahan, koperasi, dan sekolah rakyat.
ASUMSI
DASAR EKONOMI MAKRO 2025 – 2026
Prioritas Pembangunan
Pemerintah
mendesain RAPBN tahun anggaran 2026 untuk mewujudkan delapan agenda pembangunan
(Asta Cita) melalui berbagai kebijakan fiskal menuju Indonesia tangguh,
mandiri, dan sejahtera. Dengan mengusung tema “Kedaulatan Pangan, Energi, dan
Ekonomi”, strategi kebijakan dalam RAPBN tahun anggaran 2026 ditempuh melalui
berbagai bidang prioritas pembangunan, yaitu:
Prioritas
anggaran bidang ketahanan pangan dengan anggaran yang direncanakan sebesar
Rp164,4 triliun akan diarahkan antara lain untuk:
1)
mendorong
produktivitas pangan, antara lain melalui ekstensifikasi dan intensifikasi
lahan pertanian, modernisasi sistem pertanian/ perikanan, penguatan
infrastruktur pertanian, serta pembangunan pergaraman nasional;
2)
menjaga
stabilitas harga pangan, antara lain melalui penguatan lumbung pangan dan
cadangan pangan serta penguatan rantai pasok dan distribusi yang efektif; dan
3)
meningkatkan
kesejahteraan petani/nelayan, antara lain melalui bantuan sarana-prasarana
pertanian/perikanan serta akses permodalan dan perlindungan usaha.
Prioritas
bidang ketahanan energi dengan arah kebijakan dalam mencapai prioritas tersebut
antara lain untuk:
1)
peningkatan
lifting migas;
2)
program
energi hijau melalui antara lain Transisi Energi dalam Ekosistem
Ketenagalistrikan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL),
Pengembangan Program Biodiesel dalam rangka Mendukung Energi Hijau; dan
3)
Subsidi
Energi dan Kompensasi Lebih Tepat Sasaran.
Makan
Bergizi Gratis untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat yang diberikan kepada
ibu hamil, ibu menyusui, dan balita hingga usia sekolah. Makanan yang disajikan
dalam program ini dirancang sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi
penerima manfaat serta menggunakan bahan makanan yang diolah dari sumber pangan
lokal. dengan tetap menjamin kecukupan kandungan gizi, keberagaman, kualitas,
keamanan dan keterjangkauan makanan.
Kerja
sama dengan petani dan pelaku UMKM juga sangat diperlukan untuk mendukung
terlaksananya program ini sehingga kebutuhan pangan dapat tersedia dengan cepat
dan efisien.
Prioritas
bidang Pendidikan dengan anggaran yang direncanakan sebesar Rp757,8 triliun,
dan diarahkan antara lain untuk:
1)
peningkatan
akses Pendidikan yang merata bagi seluruh masyarakat antara lain melalui PIP
dan KIP Kuliah;
2)
pembangunan
sekolah unggulan terintegrasi tingkat SMA (Sekolah Unggul Garuda) dan sekolah
rakyat;
3)
percepatan
revitalisasi sekolah dan madrasah serta penyediaan prasarana dan sarana
pendukungnya;
4)
peningkatan
kualitas pembelajaran melalui Makan Bergizi Gratis (MBG);
5)
penguatan
pendidikan vokasi dengan pasar tenaga kerja (link and match) antara lain
melalui penguatan teaching industry dan SMK Pusat Keunggulan;
6)
mendorong
penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); dan
7)
pemenuhan
hak pendidikan dasar secara bertahap, selektif, dan afirmatif.
Prioritas
bidang Kesehatan dengan anggaran yang direncanakan sebesar Rp244,0 triliun akan
diarahkan antara lain untuk:
1)
meningkatkan
akses, kualitas, dan perlindungan keuangan bidang kesehatan melalui efektivitas
program Jaminan Kesehatan;
2)
peningkatan
cakupan CKG;
3)
percepatan
penuntasan tuberkulosis;
4)
peningkatan
kuantitas dan kualitas FKTP dan revitalisasi rumah sakit lengkap berkualitas di
daerah;
5)
pemberian
beasiswa serta perluasan dan pemerataan pendidikan kedokteran dan tenaga
kesehatan; dan
6)
pencegahan
dan percepatan penurunan prevalensi stunting.
Pembangunan
Desa, Koperasi, dan UMKM dengan arah kebijakan pada tahun 2026 antara lain
sebagai berikut: (1) peningkatan produktivitas koperasi dan UMKM melalui
pengembangan sektor produksi; (2) peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM
UMKM; (3) penguatan sistem pengawasan; (4) perluasan akses terhadap perizinan,
pembiayaan, pelatihan berbasis kompetensi, dan digitalisasi koperasi dan UMKM;
(5) mendorong peningkatan mutu produk; (6) penyediaan ekosistem kewirausahaan
yang kondusif; (7) inkubasi usaha, penyediaan platform digital, serta pelatihan
dan pendampingan berkelanjutan; (8) pemutakhiran regulasi yang mendukung iklim
usaha; dan (9) integrasi dan pembaruan Basis Data Tunggal UMKM.
Pertahanan
Semesta tahun 2026 direncanakan antara lain untuk: (1) Bidang Pertahanan,
antara lain (a) pengadaan/harwat alutsista strategis; (b)
pengadaan/harwat/peningkatan non-alutsista;
(c)
pembangunan/pengadaan sarana prasarana pertahanan dan keamanan; dan (d)
penguatan kapasitas industri pertahanan; dan (e) penguatan komponen utama,
cadangan dan pendukung termasuk penambahan batalyon dan Komando Daerah Militer
(Kodam). (2) Bidang Ketertiban dan Keamanan, antara lain melalui: (a) sistem
deteksi dini untuk ketertiban dan keamanan; (b) sistem keamanan negara di
wilayah perbatasan dan pulau terluar; (c) pencegahan, penanganan, dan
deradikalisasi terorisme; dan (d) peningkatan keamanan teknologi informasi
telekomunikasi dalam rangka penguatan ketahanan siber dan sandi nasional. Dan
(3) Bidang Hukum, antara lain melalui: (a) pencegahan pelanggaran hukum dan
penanganan kriminalitas; (b) penindakan pidana narkotika dan obat terlarang;
dan (c) penindakan tindak korupsi dan pencucian uang.
Percepatan
Investasi dan Perdaganan Global, kebijakan percepatan investasi dan perdagangan
global saat ini telah memandatkan bahwa Danantara menjadi driver pendorong
investasi produktif dengan terus memperkuat peran Indonesia dalam global value
chain. Kebijakan ini juga didukung dengan peningkatan peran K/L strategis untuk
mendorong penguatan kebijakan tersebut.
Prioritas
Perlindungan Sosial dengan anggaran yang direncanakan sebesar Rp508,2 triliun
akan dimanfaatkan antara lain untuk: (1) meningkatkan ketepatan sasaran melalui
pemanfaatan DTSEN; (2) penyaluran bansos yang terintegrasi serta sinergi dengan
program pemberdayaan; (3) mendorong kemandirian ekonomi melalui akses
permodalan, pelatihan, pendampingan usaha dan kemitraan; serta (4) mendorong
perlindungan sosial adaptif dan inklusif.
Prioritas
Swasembada Air dengan kebijakan yang diarahkan diarahkan untuk meningkatkan
akses air minum rumah tangga yang disertai dengan pengelolaan dan pengawasan
kualitas air minum dengan memperhatikan aspek teknis, kelembagaan, regulasi dan
kebijakan, pendanaan, dan masyarakat. TKD juga turut mendukung swasembada air
melalui DAK Fisik bidang air minum yang dimanfaatkan antara lain untuk
perluasan, peningkatan, dan pembangunan baru SPAM Jaringan Perpipaan.
Pendapatan
Negara
Pendapatan
negara pada RAPBN tahun 2026 ditargetkan sebesar Rp3.147,7 triliun, yang
terdiri dari:
Penerimaan
perpajakan sebesar Rp2.692,0 triliun dengan kebijakan yang antara lain
diarahkan untuk: (1) Perluasan basis perpajakan melalui intensifikasi dan
ekstensifikasi untuk mendukung fiskal yang kuat, peningkatan ekonomi, dan
perlindungan masyarakat; (2) Peningkatan kepatuhan melalui pengawasan berbasis
teknologi informasi, memperkuat sinergi dan joint program, serta penegakan
hukum untuk mendukung perbaikan sistem administrasi dan organisasi perpajakan;
(3)
Penguatan keberlanjutan reformasi perpajakan dan harmonisasi kebijakan
perpajakan internasional untuk mendorong peningkatan penerimaan dan rasio
perpajakan; dan (4) Pengelolaan pemberian insentif perpajakan yang semakin
terarah dan terukur untuk mengakselerasi investasi, serta hilirisasi industri
yang menciptakan nilai tambah tinggi.
PNBP
sebesar Rp455,0 triliun dengan kebijakan antara lain berupa: (1) Pemanfaatan
SDA yang lebih optimal melalui langkah seperti penyempurnaan kebijakan,
perbaikan pengelolaan SDA, dan peningkatan nilai tambah dalam negeri dengan
tetap memperhatikan kelestarian lingkungan;
(2)
Peningkatan inovasi, evaluasi kebijakan untuk perbaikan tata kelola yang lebih
baik, pelaksanaan pengawasan PNBP untuk meningkatkan kepatuhan dan tata kelola
PNBP, serta optimalisasi PNBP termasuk pemanfaatan aset/BMN; dan (3)
Peningkatan sinergi antarinstansi pemerintah, termasuk perluasan pemanfaatan
teknologi dan informasi (digitalisasi).
Penerimaan
hibah sebesar Rp0,7 triliun dengan kebijakan yang ditujukan antara lain untuk:
dukungan ekonomi yang berkelanjutan, keanekaragaman hayati dan pelestarian
hutan, percepatan penanganan stunting, transformasi kesehatan, penanganan
perubahan iklim, dan pengurangan emisi, konservasi ekosistem terumbu karang dan
manajemen sumber daya perikanan, pengelolaan kawasan lindung laut terpilih dan
perikanan terumbu karang yang berkelanjutan, keanekaragaman hayati dan
pelestarian hutan, serta program pengembangan desa dan kewirausahaan program
pengembangan desa dan kewirausahaan. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah akan
menjaga agar penerimaan Hibah baik terencana maupun langsung dengan memenuhi
prinsip transparan, akuntabel, efisien, efektif, kehati-hatian, tanpa ikatan
politik, dan tidak mengganggu stabilitas keamanan negara.
Belanja
Negara
Belanja
negara pada RAPBN Tahun Anggaran 2026 direncanakan sebesar Rp3.786,5 triliun
atau 14,7 persen terhadap PDB, yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat
sebesar Rp3.136,5 triliun (82,8 persen terhadap Belanja Negara) dan Transfer ke
Daerah (TKD) sebesar Rp650,0 triliun (17,2 persen terhadap Belanja Negara).
Kebijakan Belanja Negara tahun 2026 secara umum diarahkan pada program-program
prioritas yang mendukung kemandirian ekonomi dan sosial untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas guna mewujudkan Indonesia berdaulat, adil, dan makmur.
Belanja Negara akan difokuskan untuk mendukung tema kebijakan fiskal tahun 2026
yaitu “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi” dengan kebijakan yang diarahkan
antara lain untuk: (1) meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja pusat dan
daerah dengan mengarahkan ke belanja yang lebih produktif; (2) memperkuat
belanja modal untuk mendukung program strategis dalam rangka peningkatan daya
saing dan kemandirian bangsa antara lain: ketahanan pangan, ketahanan energi,
sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan; (3) mengoptimalkan belanja
pegawai untuk peningkatan kualitas layanan publik dengan tetap menjaga
kesejahteraan aparatur negara; (4) melanjutkan reformasi subsidi dan bansos
agar lebih efektif dan tepat sasaran, dengan tetap menjaga daya beli
masyarakat; serta (5) memperkuat sinergi dan harmonisasi kebijakan pusat dan
daerah.
Pada
tahun 2026 untuk mendukung tema kebijakan fiskal “Kedaulatan Pangan, Energi,
dan Ekonomi”, Belanja Pemerintah Pusat akan diarahkan untuk meningkatkan
kualitas belanja Pemerintah dengan kebijakan antara lain: (1) mengoptimalkan
Belanja Pegawai untuk mendukung peningkatan kualitas layanan publik agar lebih
efektif, responsif, dan mendukung program pembangunan; (2) memprioritaskan
Belanja Barang untuk mendukung kebijakan pemerintah, mendorong pertumbuhan
ekonomi, dan menjaga daya beli masyarakat; (3) mendorong pembangunan sarana dan
prasarana yang mendukung pencapaian Prioritas Nasional; dan (4) mengakselerasi
penurunan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem; serta (5) melanjutkan
reformasi subsidi dan perlindungan sosial agar lebih tepat sasaran dan
berkeadilan.
Transfer
ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2026 diarahkan untuk mendorong belanja daerah yang
efektif dan efisien untuk menciptakan kesejahteraan di daerah. Pokok-pokok
kebijakan TKD tahun 2026 sebagai berikut: (1) meningkatkan sinergi dan
harmonisasi belanja pusat dan daerah melalui penggunaan TKD yang terarah,
terukur, akuntabel, dan transparan; (2) mendukung daya saing daerah melalui
belanja produktif, sinergi dengan pembiayaan inovatif, dan penguatan local
taxing power; (3) meningkatkan efektivitas peran TKD agar sejalan dengan
Prioritas Nasional utamanya pendidikan, kesehatan, Koperasi Merah Putih, dan
ketahanan pangan; (4) menyeimbangkan fiskal pusat dan daerah (vertical balance)
serta antardaerah (horizontal balance); (5) dukungan untuk program prioritas
Pemerintah dan belanja pemerintah daerah utamanya belanja gaji dan tunjangan
melekat Aparatur Sipil Negara Daerah (ASND), operasional kantor, dan pelayanan
publik;
(6)
memperkuat sinergi pemanfaatan TKD dan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD)
untuk pemerataan kualitas layanan publik di daerah; (7) Dana Desa untuk
membangun desa dan memberdayakan masyarakat serta mendukung implementasi
Koperasi Desa Merah Putih; dan
(8)
mendorong pembiayaan kreatif/inovatif untuk pembangunan daerah.
Pembiayaan
Anggaran
Pembiayaan
anggaran tahun 2026 direncanakan sebesar Rp638,8 triliun (2,48 persen dari
PDB). Dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi melalui counter cyclical yang
efektif, melindungi dunia usaha dan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan
fiskal, arah kebijakan pembiayaan anggaran tahun 2026 tetap dijaga secara
pruden, inovatif dan sustainable, untuk mendorong peningkatan produktivitas
perekonomian, yang ditempuh dengan: (1) mengendalikan defisit dan pembiayaan
dalam batas aman, (2) memberdayakan Special Mission Vehicle (SMV), dan Badan
Layanan Umum (BLU) serta sinergi dengan Danantara; (3) memanfaatkan SAL untuk
mengantisipasi ketidakpastian; (4) meningkatkan ketahanan fiskal melalui
penyediaan fiscal buffer yang handal dan efisien; (5) meningkatkan akses
pembiayaan bagi MBR, UMKM, dan UMi.
***
Deni
Surjantoro
Kepala
Biro Komunikasi dan Layanan Informasi
Kementerian
Keuangan