Press Release: Realisasi APBN di Provinsi Bali s.d. 30 Juni 2025
Dedy Widia H.
Senin, 04 Agustus 2025 |
236 kali
Denpasar,
Juli 2025 –
Perekonomian regional Provinsi Bali pada triwulan I 2025 mengalami pertumbuhan
sebesar 5,52% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Capaian ini
melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,87%. Kondisi inflasi
periode Juni 2025 masih terjaga dalam rentang target 2,5 % ± 1%, pada angka
2,94% yoy. Ditinjau dari kinerja perdagangan luar negeri, nilai ekspor dan impor
meski mengalami penurunan, masih menunjukkan kinerja positif dengan
menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$40,35 juta. Capaian positif
ini selaras dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, seperti penurunan
persentase penduduk miskin sebesar 0,08% hingga kondisi ketimpangan pendapatan
masyarakat Provinsi Bali yang masih berada di kategori rendah.
Pengelolaan
APBN Regional Bali: Optimalisasi Fiskal untuk Pembangunan
Hingga
30 Juni 2025, penerimaan pajak oleh Kanwil DJP Bali mencapai Rp7,62 triliun
atau 42,38?ri target tahunan sebesar Rp17,99 triliun. Penerimaan ini
mengalami pertumbuhan cukup signifikan sebesar 11,50% yoy. Secara nominal,
realisasi penerimaan pajak tertinggi berasal dari Pajak Penghasilan (PPh)
dengan kontribusi mencapai Rp5,38 triliun atau sekitar 70,50%. Kontribusi atas
capaian PPh terbesar berasal dari pertumbuhan realisasi PPh 25/29 Badan yang
meningkat sebesar 28,34% yoy atau Rp2,21 triliun. Adapun realisasi pajak dengan
pertumbuhan yang sangat tinggi adalah komponen Pajak Lainnya sebesar 10.663?ri tahun sebelumnya, yang disebabkan adanya deposit pajak dalam komponen ini.
Selanjutnya,
penerimaan pajak per sektor usaha didominasi oleh sektor usaha perdagangan
besar dan eceran sebesar 18,61% atau Rp1,42 triliun dan diikuti sektor
penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum sebesar 16,28%, yang mampu
tumbuh 21,65% yoy. Peningkatan ini sebagai tanda pemulihan sektor pariwisata
sebagai penggerak utama perekonomian Bali. Sektor-sektor lainnya yang
menunjukkan kinerja positif antara lain aktivitas profesional, ilmiah dan
teknis, serta real estat, yang mencerminkan diversifikasi basis ekonomi di luar
sektor pariwisata.
Penerimaan
Bea Cukai juga menunjukkan kinerja positif. Hingga Juni 2025, penerimaan Bea
Cukai telah mencapai Rp586,05 miliar, atau 39,66?ri target tahunan.
Realisasi Bea Masuk mencapai Rp64,63 miliar atau 52,85?ri target, meskipun
terkontraksi sebesar Rp10,75 miliar (14,26% yoy) akibat penghentian impor beras
dalam mendukung swasembada pangan, serta penurunan impor parts mesin yang
terkait dengan selesainya pembangunan smelter tembaga PT AMNT sebagai bagian
dari hilirisasi industri tambang. Kontribusi cukai terbesar berasal dari
Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) sebesar Rp511,11 miliar, meningkat 6,47?rkat kenaikan produksi di sektor tersebut. Adapun penerimaan dari cukai Hasil
tembakau (HT) masih mengalami penurunan sebesar 30,67%, namun cukai lainnya
justru melonjak sebesar 159,66%.
Total
penerimaan negara bulan pajak (PNBP) Provinsi Bali hingga Juni 2025 yang tediri
dari PNBP BLU dan PNBP Lainnya adalah Rp2,21 triliun. Besaran ini mengalami
kontraksi sebesar 5,33% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian,
hingga periode triwulan II, kinerja PNBP telah mencapai 56,90?ri total pagu
tahun 2025. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN),
realisasi PNBP Aset, Piutang Negara, dan Lelang hingga 30 Juni 2025, telah
mencapai Rp52,89 miliar atau 96,06?ri target tahunannya sebesar Rp55,06
miliar. Dari PNBP Aset, Piutang Negara, dan Lelang, kontribusi terbesar berasal
dari kegiatan lelang yang menyumbang Denpasar, Juli 2025 – Perekonomian
regional Provinsi Bali pada triwulan I 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,52%
dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Capaian ini melebihi
tingkat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,87%. Kondisi inflasi periode
Juni 2025 masih terjaga dalam rentang target 2,5 % ± 1%, pada angka 2,94% yoy.
Ditinjau dari kinerja perdagangan luar negeri, nilai ekspor dan impor meski
mengalami penurunan, masih menunjukkan kinerja positif dengan menghasilkan
surplus neraca perdagangan sebesar US$40,35 juta. Capaian positif ini selaras
dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, seperti penurunan persentase penduduk
miskin sebesar 0,08% hingga kondisi ketimpangan pendapatan masyarakat Provinsi
Bali yang masih berada di kategori rendah. Rp38,5 miliar atau sekitar 72,78
persen, diikuti oleh PNBP dari pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) sebesar
Rp14,31 miliar.
Belanja Pemerintah Pusat Provinsi Bali dimanfaatkan untuk membiayai 4 (empat) jenis belanja, yaitu:
Penyaluran
komponen Transfer ke Daerah, s.d. Juni 2025 telah terealisasi sebesar Rp6,05
triliun, turun 2,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi
terbesar secara nominal terdapat pada Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu Rp3,95
triliun (51,91?ri pagu), diikuti DAK Non-Fisik sebesar Rp1,27 triliun
(50,37?ri pagu). Adapun penyaluran dengan persentase terbesar terdapat pada
Dana Desa mencapai 63,12?ri pagu, senilai Rp421,12 miliar. Di sisi lain, DAK
Fisik baru mencatatkan realisasi sebesar Rp14,15 miliar.
Kinerja
APBD Provinsi Bali: Pendapatan Daerah Tercatat Tumbuh
Selanjutnya,
Kinerja pelaksanaan APBD Regional per 30 Juni 2025 menunjukkan posisi fiskal
relatif sehat. Realisasi pendapatan daerah tercatat sebesar Rp12,77 triliun
atau 38,75?ri pagu anggaran, sementara total belanja daerah terealisasi
sebesar Rp10,63 triliun atau 30,47%, sehingga menghasilkan surplus APBD sebesar
Rp2,14 triliun, dengan SILPA sebesar Rp2,70 triliun.
Kinerja
pendapatan Provinsi Bali s.d. Juni 2025 didominasi oleh Pendapatan Asli Daerah
(PAD) sebesar Rp8,13 triliun atau 63,69?ri total pendapatan daerah, dengan
pertumbuhan 18,20% yoy. Secara nominal, penyumbang utama adalah komponen pajak
daerah sebesar Rp6,11 triliun, dengan peningkatan terbesar berasal dari
komponen retribusi daerah sebesar 337,53%. Adapun kontribusi pajak daerah
terbesar adalah PBJT sebesar Rp3,68 triliun, meningkat sebesar 24,26% yoy.
Di
sisi belanja daerah, realisasi belanja operasi mendominasi dengan proporsi
79,32% atau Rp8,43 triliun dari total belanja. Hal ini menunjukkan fokus
pemerintah pada pemeliharaan layanan dasar dan operasional rutin. Belanja
operasi terbesar berasal dari Belanja Pegawai, diikuti oleh Belanja Barang dan
Jasa serta Belanja Transfer. Adapun belanja subsidi dan hibah merupakan dua
jenis belanja yang mengalami kontraksi.
Neraca
perdagangan Bali hingga akhir Juni 2025 mencatatkan surplus sebesar USD40,36
juta, meskipun terkontraksi sebesar 36,70% secara tahunan (yoy). Adapun dari
sisi ekspor, kinerja sampai dengan Juni 2025 tercatat sebesar USD111,05 juta,
mengalami penurunan 25,23% yoy. Penurunan ini cukup signifikan jika
dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai USD148,52 juta. Komoditas ekspor
utama Bali didominasi oleh produk-produk berbasis kelautan dan kerajinan.
Komoditas ekspor terbesar yaitu daging ikan sebesar USD29,90 juta. Sedangkan
komoditas impor terbesar yaitu parts mesin sebesar USD9,85 juta.
Penyaluran
Kredit Program: Dukungan Berkelanjutan untuk UMKM
Penyaluran
Kredit Program di Provinsi Bali hingga 30 Juni 2025 telah mencapai Rp5,07
triliun kepada 72.771 debitur. Angka ini mengalami penurunan nilai sebesar
14,46?n penurunan jumlah debitur sebesar 2,74%. Penurunan ini kemungkinan
besar disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi yang masih dirasakan oleh pelaku
usaha, sehingga cenderung lebih berhati-hati dalam mengajukan pinjaman.
Selanjutnya, apabila ditinjau dari skema, penyaluran terbesar terjadi pada
skema Mikro sebesar Rp2,9 triliun kepada lebih dari 57 debitur. Data ini
menunjukkan bahwa pelaku usaha berskala kecil masih menjadi tulang punggung
penerima manfaat. Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran terbesar mengalir ke
sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dengan porsi sebesar 40,21?ri total
penyaluran.
Secara
geografis, penyaluran tertinggi tercatat di Kota Denpasar dengan nilai mencapai
Rp855 miliar. Namun demikian, jumlah debitur terbanyak justru berasal dari
Kabupaten Buleleng, yaitu lebih dari 13 ribu debitur. Temuan ini memberikan
gambaran bahwa pengembangan strategi penyaluran pembiayaan perlu disesuaikan
dengan karakteristik masing-masing daerah. Pendekatan yang lebih adaptif dan
responsif terhadap kebutuhan lokal akan menjadi kunci dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat peran UMKM sebagai penggerak utama
pemulihan ekonomi nasional.
Komitmen
Terus Berlanjut
Kinerja
APBN dan APBD Provinsi Bali hingga Juni 2025 mencatat tren positif,
mencerminkan pengelolaan anggaran yang efektif serta komitmen berkelanjutan
dalam mendukung perekonomian daerah. Kementerian Keuangan Bali berkomitmen
memperkuat koordinasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk
memastikan pelaksanaan anggaran berjalan optimal hingga akhir tahun, dalam
rangka mendukung percepatan pembangunan di Bali. Komitmen ini diwujudkan
melalui pengelolaan fiskal yang transparan dan akuntabel, demi tercapainya
kesejahteraan masyarakat serta terjaganya stabilitas ekonomi, khususnya di
Provinsi Bali. Seluruh pihak diharapkan terus mengedepankan prinsip integritas,
akuntabilitas, dan efisiensi anggaran (value for money)