Press Release Pelaksanaan Anggaran di Provinsi Bali s.d. 30 Juni 2024
Dedy Widia H.
Selasa, 30 Juli 2024 |
404 kali
Denpasar, 26 Juli 2024 – Kondisi perekonomian
Bali pada bulan Juni 2024 terbilang cukup stabil. Pada indikator inflasi, tingkat
inflasi gabungan Bali pada Juni 2024 yang tercatat pada angka 2,71 persen yer-on-year
(y-on-y) masih dalam rentang sasaran inflasi Nasional pada rentang
2,5±1 persen. Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Bali
mengalami deflasi sebesar -0,55 persen (m-to-m) dibandingkan bulan
sebelumnya. Dari indikator kesejahteraan, Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali pada Juni
2024 tercatat 102,99 atau tumbuh 0,92 poin dibanding kondisi bulan sebelumnya. Indeks
Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat 93,52 atau tumbuh sebesar 1,19 poin dari
bulan sebelumnya. Selain itu, perbaikan kondisi kesejahteraan penduduk Bali
juga terlihat dari Persentase Penduduk Miskin yang pada Maret 2024 tercatat sebesar
4 persen, turun dari Maret 2023 yang tercatat 4,25 persen. Adapun persentase penduduk
miskin di Provinsi Bali merupakan angka terendah secara nasional. Dari sisi ketimpangan
pengeluaran masyarakat yang ditunjukkan dengan Gini Ratio, Gini Ratio Bali pada Maret 2024 tercatat 0,361, turun 0,001 poin dibandingkan dengan kondisi
Maret 2023 dan September 2022 yang tercatat sebesar 0,362. Penurunan Gini Ratio
mengisyaratkan adanya perbaikan pemerataan pendapatan di Provinsi Bali.
Stabilitas
perekonomian Bali tentu berimplikasi positif terhadap kinerja APBN. Secara
umum, kinerja APBN di Provinsi Bali s.d. Juni 2024 melanjutkan tren pertumbuhan
positif pada bulan-bulan sebelumnya. Pendapatan Negara tumbuh positif sebesar 24,3
persen (y-on-y) dan Belanja Negara tumbuh positif sebesar 14,3 persen (y-on-y).
Pertumbuhan Pendapatan Negara didukung oleh realisasi penerimaan pajak yang
telah mencapai Rp7.928,43 miliar atau 54,83 persen dari target, tumbuh positif 29,68
persen (y-on-y). Pajak Penghasilan tercatat sebagai penerimaan pajak
terbesar mencapai Rp5.881,43 miliar dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 33,99
persen, disusul PPN dan PPnBM yang tumbuh sebesar 19,44 persen dengan
penerimaan sebesar Rp1.976,37 miliar. Pertumbuhan penerimaan dari PPh yang
cukup tinggi didorong oleh peningkatan penerimaan dan penghasilan yang diterima
sehubungan dengan pekerjaan, kegiatan persewaan tanah dan/atau bangunan,
peningkatan dari nilai transaksi keuangan kripto serta meningkatnya pertumbuhan
perekonomian di Bali tahun 2024. Berdasarkan sektor usahanya, pertumbuhan pajak
tertinggi terdapat pada sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
dengan pertumbuhan 81,40 persen (y-on-y) dengan penerimaan sebesar Rp1,230,09
miliar.
Penerimaan Bea Cukai turut
mendukung Pendapatan Negara di Bali. Sampai dengan 30 Juni 2024, penerimaan Bea
dan Cukai tercatat sebesar Rp567,07 miliar, tumbuh 27,49 persen (y-on-y).
Penerimaan Bea Masuk s.d. Juni 2024 sebesar Rp75,38 miliar dan telah mencapai 66,31
persen dari target 2024. Penerimaan Bea Masuk yang tinggi akibat importasi
tidak rutin berupa beras oleh PT Bulog sebanyak 11.230 Ton. Sementara itu, realisasi
penerimaan Cukai s.d. 30 Juni 2024 tercatat sebesar Rp491,69 miliar, tumbuh 25,18
persen (y-on-y). Peningkatan produksi Minuman yang Mengandung Etil
Alkohol (MMEA) sebesar 10,78 persen menjadi faktor dominan penyumbang
pendapatan Cukai.
Pendapatan
Negara Bukan Pajak (PNBP) s.d. 30 Juni 2024 telah mencapai Rp2.330,39 miliar,
tumbuh 10,6 persen (y-on-y). Peerimaan PNBP terdiri dari penerimaan PNBP
Lainnya sebesar Rp1.421,53 miliar (67,8 persen dari target) dan Pendapatan BLU
Rp908,86 miliar (51,7 persen dari target). PNBP
Aset, Piutang dan Lelang, s.d. 30 Juni 2024 telah mencapai Rp25,07 miliar atau 44,32
persen dari target Rp48,57 miliar, tumbuh 44,32 persen dibandingkan periode
yang sama tahun lalu (y-on-y).
Stabillitas
perekonomian dan capaian tingkat kesejahteraan di Provinsi Bali salah satunya
didukung oleh kinerja Belanja Negara sebagai bagian APBN yang memiliki fungsi
alokasi, stabilisasi, dan distribusi. Belanja Negara terdiri dari Belanja Kementerian/Lembaga
(Belanja K/L) dan Transfer ke Daerah (TKD). Sampai dengan 30 Juni 2024, Belanja
K/L telah terealisasi sebesar Rp5.361,59 miliar dan Belanja TKD mencapai Rp6.197,07
miliar. Berdasarkan jenis belanjanya, realisasi Belanja K/L di Bali terdiri
dari Belanja Pegawai sebesar Rp2.444,00 miliar, Belanja Barang Rp2.120,43
miliar, Belanja Modal Rp782,69 miliar, dan Belanja Bantuan Sosial Rp14,47
miliar. Realisasi belanja di Provinsi Bali tercatat sebagai dampak adanya pembayaran
THR pada bulan Maret 2024 dan pembayaran Gaji ke-13 pada bulan Juni 2024
dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan tahun 2023 (kenaikan gaji PNS dan
PPPK sebesar 8 persen dan komponen Tunkin dalam THR sebesar 100 persen); realisasi
Tahapan Pemilu 2024 di bulan Februari 2024; realisasi pembangunan bendungan
Sidan dan pembangunan gedung dan bangunan pada Poltekpar Manado dan Solo Raya;
serta akselerasi realisasi bansos PIP pada Satker STAHN Mpu Kuturan Singaraja
dan UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar serta Satker Mahatmiya di Bali untuk
pembelian alat bantu disabilitas.
Penyaluran
Transfer ke Daerah (TKD) s.d. 30 Juni 2024 telah terealisasi sebesar Rp6.197,07
miliar atau 53,38 persen dari pagu, tumbuh 12,90 persen (y-on-y).
Penyaluran TKD terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU) Rp4,16 triliun, Dana
Alokasi Khusus Non Fisik (DAK Non Fisik) Rp1,24 triliun, Dana Desa Rp504,96
miliar, dan Dana Insentif Daerah Rp88,90 miliar. Penyaluran DBH lebih tinggi dibandingkan dengan 2023, hal ini disebabkan oleh pemenuhan
persyaratan pencairan oleh pemda dan percepatan rekomendasi penyaluran dari
DJPK dan Dit. PA. Pagu DBH
mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 36,58 persen (yoy) dengan realisasi
sebesar Rp170,51 M atau 38,01 persen dari pagu. Per 30 Juni 2024 Dana Transfer
menyumbang 41,29 persen dari total Pendapatan Daerah. Rasio kemandirian
Provinsi Bali cukup tinggi dengan rasio PAD terhadap Pendapatan Daerah sebesar
58,71 persen, lebih tinggi dari rasio Dana Transfer terhadap Pendapatan daerah.
Hal ini menunjukkan Provinsi Bali tidak bergantung sepenuhnya pada Pemerintah
Pusat melalui Dana Transfer untuk memenuhi kebutuhan Belanja Daerah.
Sedangkan
untuk kinerja APBD yang datanya diambil dari aplikasi Sistem Informasi Keuangan
Republik Indonesia (SIKRI), realisasi Pendapatan Daerah per 30 Juni 2024
mencapai Rp11,72 triliun atau 37,49 persen dari target pendapatan daerah tahun 2024,
terjadi pertumbuhan 22,95 persen secara y-on-y. Komposisi Realisasi
Pendapatan Daerah didominasi oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp6,88 triliun
atau 58,71 persen dari total pendapatan, 41,29
persen berasal dari pendapatan dari dana transfer sebesar Rp4,84 triliun serta 0,01
persen dari lain-lain pendapatan daerah sebesar Rp0,09 miliar. Sementara itu,
realisasi Belanja Daerah mencapai Rp11,16 triliun, tumbuh 17,33 persen y-on-y,
Dengan kondisi ini, maka per 30 Juni 2024 Provinsi Bali mencatatkan Surplus
Anggaran pada APBD sebesar Rp563 miliar.
Selanjutnya,
dalam rangka mendorong kinerja sektor usaha, pemerintah memperluas akses
pembiayaan terutama bagi UMKM melalui Kredit Program. Kredit Program di Bali
terdiri dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Pada
KUR, Pemerintah menanggung sebagian bunga yang ditanggung oleh debitur dalam
bentuk subsidi bunga. Total penyaluran Kredit Program di Provinsi Bali s.d. 30 Juni 2024 mencapai Rp5,77
triliun untuk 73.444 debitur. Penyaluran KUR masih didominasi
oleh KUR skema Mikro (dengan nilai kredit di atas Rp10 juta s.d. Rp100 juta)
yang mencapai Rp3,64 triliun kepada 61.585 debitur. Berdasarkan sektor
usahanya, penyaluran kredit program s.d. 30 Juni 2024
masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran (42,85 persen),
sektor pertanian (16,65 persen), dan sektor Industri Pengolahan (12,67 persen).
Sebagai penutup, Kementerian
Keuangan Regional Bali akan terus meningkatkan koordinasi
dan menguatkan sinergi dengan pihak-pihak terkait untuk mengawal dan menjaga stabilitas
inflasi serta agar pelaksanaan anggaran di Provinsi Bali terus berjalan dengan
baik hingga akhir tahun anggaran guna mendukung pembangunan Bali. Untuk itu,
diperlukan perhatian seluruh pihak terkait agar terus mengedepankan integritas,
akuntabilitas, dan prinsip value for money. Dengan demikian, diharapkan
perekonomian khususnya di Provinsi Bali semakin
pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat.