Turyapada Tower Destinasi Eduwisata Baru di Bali, Modern dan Berskala Internasional
Erwin Maulana Muhamad H.
Kamis, 25 Juni 2026 |
86 kali
Buleleng - Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali adalah menara ikonik setinggi 115 meter yang berdiri megah di atas perbukitan Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Menara ini berada di ketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga puncak tertingginya mencapai 1.636 mdpl. Mahakarya infrastruktur ini menggabungkan fungsi kemajuan teknologi penyiaran digital global dengan pelestarian nilai budaya lokal Sad Kerthi. Kehadiran Turyapada Tower ini menjadi magnet pariwisata baru yang akan menggerakkan roda ekonomi di kawasan Bali Utara.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali dilakukan pertama kali ada Sabtu, 23 Juli 2022. Prosesi peletakan batu pertama dilaksanakan langsung oleh Gubernur Bali saat itu, I Wayan Koster, bertempat di lokasi proyek di Banjar Dinas Amerta Sari, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Acara ini juga dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara keagamaan Hindu tradisional Bali berupa ngeruwak, nyapuh, awu, serta mulang dasar yang dipuput oleh Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun demi memohon keselamatan dan kelancaran proyek.
Menara yang digagas oleh Gubernur Bali Wayan Koster awalnya dibagun untuk memperkuat infrastruktur telekomunikasi. Wilayah pegunungan Buleleng selama ini kerap mengalami keterbatasan sinyal (blank spot). Pada awal April 2025, menara Turyapada resmi mengudara sebagai pusat pemancar siaran TV digital, radio, dan provider internet seluler. Layanan ini mampu menjangkau hingga 80% wilayah Buleleng, Jembrana, hingga Karangasem. Berkat optimalisasi ini, masyarakat Bali Utara kini dapat menikmati puluhan saluran digital tanpa perlu lagi bergantung pada antena parabola tradisional.
Nama "Turyapada" diambil dari filosofi kearifan lokal Bali yang melambangkan hubungan harmonis antara Akasa (angkasa) dan Pertiwi (bumi), serta penyatuan unsur Purusa dan Pradana sebagai sumber kekuatan kehidupan. Secara arsitektur, desain fisik menara ini mengadopsi bentuk Orti dan Bale Kul-kul, yang merupakan visualisasi alat komunikasi tradisional masyarakat Bali dalam aktivitas adat, tradisi, dan keagamaan. Perpaduan nilai sipritual dan teknologi ini melahirkan konsep "Loka Samasta Sakino Bhawana", sebuah doa agar infrastruktur ini menjadi sumber kesejahteraan yang mendunia.
Dibalik fungsi utamanya sebagai menara pemancar, Turyapada Tower dirancang sebagai sebagai destinasi eduwisata berskala internasional. Struktur menara ini terbagi menjadi 10 lantai dengan fasilitas rekreasi yang sangat variatif, antara lain:
Kawasan terpadu di sekitar badan menara juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti jalur kereta gantung (gondola) dari area parkir, taman bermain anak, area berkemah (glamping), ruang pameran UMKM lokal, serta museum keunggulan kebudayaan Bali.
Pembangunan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di kawasan perbukitan Sukasada dirancang dengan standar keamanan ekstra tinggi serta visi pemerataan ekonomi. Sebagai sebuah megaproyek, menara ini tidak hanya mengutamakan fungsi telekomunikasi dan keindahan visual semata. Menara ini mengintegrasikan mitigasi bencana modern dengan program pemberdayaan masyarakat lokal secara masif.
Mengingat letak geografis Buleleng yang berada di zona potensi gempa bumi, angin kencang, dan tanah longsor, perancang dari Tim Ahli Universitas Udayana bersama kontraktor pelaksana menerapkan struktur teknik khusus:
Jembatan Kaca
Wahana Jembatan Kaca terletak di lantai 5 menara pada ketinggian 16 meter dari permukaan tanah badan menara. Wahana ini menawarkan sensasi menantang dengan panorama langsung ke jurang perbukitan, pemukiman warga, serta Danau Buyan. Teknologi yang dikenalkan pada wahana ini yaitu;
Teknologi Restoran Putar 360 Derajat
Terletak di lantai 8 badan menara pada ketinggian 88 meter, fasilitas ini menawarkan pengalaman kuliner mewah di atas awan.
Kereta Gantung (Gondola) Khas Pegayaman
Pembangunan jalur gondola (kereta gantung) masuk dalam agenda pembangunan tahap II yang dikelola langsung oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik. Kontruksi ini menelan nilai pagu anggaran APBD sebesar Rp. 135,5 miliar rupiah. Jalur kereta gantung membentang sepanjang 940 meter degnan lebar jalur sekitar 20 meter, jalur ini menghubungkan terminal dekat area parkir/kuburan desa langsung menuju pelataran lobi utama menara. Gubernur Bali Wayan Koster memastikan bahwa seluruh perangkat kabin gondola diimpor langsung dari Tiongkok, dimana target pengerjaan fisik dijadwalkan rampung pada November 2026, sehingga kereta gantung siap beroperasi penuh bagi wisatawan pada akhir tahun 2026 bersamaan dengan fasilias planetarium dan convention hall.
Dampak Ekonomi Bagi Warga Sekitar
Kehadiran Turyapada Tower memicu transformasi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di Desa Pegayaman, Pancasari, dan sekitarnya. Dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat dengan kehadiran Turyapada Tower yakni :
Panduan Kunjungan Bagi Wisatawan
Pemerintah Provinsi Bali membuka akses kunjungan wisata secara berkala dan membatasi kuota kunjungan demi menjaga keamanan serta pemeliharaan fasilitas. Hal-hal yang perlu diperhatikan apabila wisatawan hendak berkunjung ke Turyapada Tower yakni :
Sumber :
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |