Hari Raya Galungan : Perayaan Kemenangan Dharma Melawan Adharma
Erwin Maulana Muhamad H.
Kamis, 18 Juni 2026 |
75 kali
Rabu (17/6) tahun 2026 seluruh umat Hindu di Indonesia khususnya di Pulau Dewata Bali merayakan Hari Raya Galungan. Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu, khususnya umat Hindu di Bali. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Pawukon, tepatnya pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan. Galungan menjadi simbol kemenangan Dharma (kebenaran, kebajikan, dan kesucian) atas Adharma (kejahatan, keburukan, dan ketidakbenaran).
Makna Filosofis Galungan
Secara filosofis, Hari Raya Galungan mengajarkan umat Hindu untuk senantiasa memenangkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan secara simbolis, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri untuk mengendalikan hawa nafsu, ego, dan sifat-sifat negatif yang dapat menjauhkan manusia dari jalan Dharma. Dalam ajaran Hindu, kemenangan Dharma atas Adharma merupakan perjuangan yang berlangsung terus-menerus dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, Galungan menjadi pengingat agar umat Hindu selalu menjaga keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai dengan ajaran agama.
Sejarah dan Asal Usul Galungan
Menurut berbagai sumber sastra Hindu Bali, perayaan Galungan telah dikenal sejak lama. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Galungan pertama kali dirayakan di Bali pada tahun Saka 804 atau sekitar tahun 902 Masehi. Beberapa lontar dan kitab yang menjadi rujukan mengenai Galungan antara lain Kidung Panji Malat Rasmi, Kitab Pararaton, Usana Bali, dan Lontar Sri Jaya Kasunu. Kata "Galungan" berasal dari kata "galung" yang berarti perang atau pertarungan. Pertarungan yang dimaksud bukan hanya peperangan fisik, melainkan perjuangan spiritual untuk mengalahkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Rangkaian Perayaan Galungan
Upacara Hari Raya Galungan merupakan rangkaian persiapan spiritual dan pembersihan yang dilakukan oleh umat Hindu. Rangkaian ini dimulai 25 hari sebelumnya hingga puncaknya sehari sebelum Galungan, yaitu Hari Penampahan.
Perayaan Galungan didahului oleh beberapa tahapan persiapan yang memiliki makna spiritual mendalam. Umat Hindu melakukan berbagai kegiatan seperti pembuatan penjor, penyediaan sarana upacara, serta persembahyangan bersama keluarga dan masyarakat. Penjor, yang terbuat dari bambu melengkung dan dihias dengan hasil bumi, melambangkan rasa syukur atas kemakmuran yang dianugerahkan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada Hari Raya Galungan, umat Hindu melaksanakan persembahyangan di rumah, pura keluarga, maupun pura umum sebagai bentuk bhakti kepada Tuhan serta penghormatan kepada leluhur. Dalam tradisi Bali, Galungan juga diyakini sebagai waktu ketika roh leluhur turun mengunjungi keluarganya di dunia. Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan dan kembalinya roh leluhur ke alam spiritual. Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai Galungan tetap relevan sebagai pedoman moral dan spiritual. Perayaan ini mengajarkan pentingnya integritas, pengendalian diri, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Galungan juga menjadi sarana mempererat hubungan keluarga, masyarakat, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Dengan demikian, Hari Raya Galungan bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan momentum bagi umat Hindu untuk memperkuat spiritualitas dan meneguhkan komitmen dalam menegakkan Dharma dalam setiap aspek kehidupan. (foto by ween)
artikel dikutip dari berbagai sumber
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |