Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Bali dan Nusa Tenggara
Pengerupukan: Tradisi Sakral Penyucian Diri Menyambut Hari Raya Nyepi

Pengerupukan: Tradisi Sakral Penyucian Diri Menyambut Hari Raya Nyepi

Erwin Maulana Muhamad H.
Kamis, 19 Maret 2026 |   471 kali

Dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali mengenal sebuah tradisi yang penuh makna dan semarak, yaitu pengerupukan. Tradisi ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada malam Tilem Kesanga, dan menjadi momen penting dalam upaya penyucian alam serta diri manusia secara lahir dan batin.

Pengerupukan bukan sekadar perayaan, melainkan ritual sakral yang bertujuan untuk mengusir unsur-unsur negatif atau roh jahat yang dikenal sebagai bhuta kala. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, keberadaan bhuta kala perlu dinetralisir agar tercipta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Hita Karana.

Salah satu ciri khas pengerupukan adalah pawai Ogoh-ogoh, yaitu patung raksasa yang melambangkan sifat-sifat buruk manusia seperti amarah, keserakahan, dan keangkuhan. Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau kota dengan iringan gamelan dan sorak warga. Suasana yang riuh dan penuh energi ini diyakini mampu mengusir roh-roh jahat dari lingkungan sekitar. Di akhir prosesi, ogoh-ogoh biasanya dibakar sebagai simbol pemusnahan sifat negatif tersebut.

Selain pawai ogoh-ogoh, pengerupukan juga diisi dengan pelaksanaan Tawur Kesanga, yaitu upacara persembahan kepada bhuta kala. Ritual ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam semesta dengan memberikan “korban suci” sebagai bentuk penyeimbangan energi. Tak jarang, masyarakat juga membunyikan kentongan, menyalakan obor, dan membuat suara gaduh sebagai simbol pengusiran energi negatif.

Pengerupukan bertujuan untuk:

  • Mengusir roh jahat (bhuta kala) dari lingkungan sekitar

  • Membersihkan alam secara niskala (spiritual) sebelum memasuki hari Nyepi

  • Menciptakan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (konsep Tri Hita Karana)

Beberapa kegiatan khas dalam pengerupukan antara lain:

  1. Pawai Ogoh-Ogoh
    Masyarakat mengarak patung raksasa yang disebut Ogoh-ogoh.

    • Ogoh-ogoh melambangkan sifat buruk atau energi negatif

    • Diarak keliling desa dengan iringan gamelan dan sorak ramai

    • Biasanya kemudian dibakar sebagai simbol penghancuran kejahatan

  2. Upacara Tawur Kesanga
    Ritual persembahan untuk menyeimbangkan alam dan meredakan kekuatan bhuta kala.

  3. Membunyikan Kentongan dan Api Obor
    Warga membuat suara gaduh dan menyalakan api untuk “mengusir” roh jahat dari lingkungan mereka.

    Pengerupukan bukan sekadar ritual meriah, tapi memiliki makna mendalam:

    • Mengajak manusia mengendalikan diri dari sifat negatif

    • Menjadi simbol pembersihan lahir dan batin

    • Persiapan menuju keheningan total saat Nyepi

      Setelah pengerupukan yang ramai dan penuh energi, keesokan harinya suasana berubah total menjadi sunyi saat Nyepi—melambangkan introspeksi diri.

Menariknya, pelaksanaan pengerupukan dapat berbeda di tiap daerah di Bali. Di wilayah perkotaan seperti Denpasar dan Badung, tradisi ini berkembang menjadi ajang kreativitas dengan lomba ogoh-ogoh yang megah dan inovatif. Sementara itu, di daerah yang lebih tradisional, pengerupukan cenderung dilaksanakan secara sederhana dengan penekanan pada nilai sakral dan ritual keagamaan.

Lebih dari sekadar tradisi, pengerupukan mengandung pesan moral yang mendalam. Masyarakat diajak untuk mengenali dan “membakar” sifat-sifat buruk dalam diri sebagai persiapan menyambut Nyepi, hari yang didedikasikan untuk introspeksi dan pengendalian diri. Setelah malam pengerupukan yang penuh hiruk-pikuk, suasana Bali berubah drastis menjadi hening total saat Nyepi—sebuah simbol keseimbangan antara dinamika dan keheningan dalam kehidupan.

Dengan demikian, pengerupukan tidak hanya menjadi warisan budaya yang kaya akan nilai seni dan spiritual, tetapi juga refleksi kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga harmoni kehidupan. Tradisi ini terus lestari dari generasi ke generasi, menjadi bukti kuatnya identitas budaya dan religius masyarakat Bali di tengah arus modernisasi.


Sumber Referensi dan gambar:

  • Wikipedia
  • punapiballi.com
  • tribunews.com
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon