Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Bali dan Nusa Tenggara
Banten Pejati dan Banten Sodaan, Sarana Persembahan untuk Mengingat Tuhan

Banten Pejati dan Banten Sodaan, Sarana Persembahan untuk Mengingat Tuhan

Dedy Widia H.
Selasa, 20 Agustus 2024 |   8694 kali

    Umat Hindu di Bali seringkali menggunakan simbol-simbol sebagai sarana ibadah untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta. Tak lepas dari itu, Kanwil DJKN Bali dan Nusa Tenggara mengadakan Bimbingan Mental Rohani Agama Hindu pada Jumat, 16 Agustus 2024, dengan praktek membuat sarana persembahyangan berupa Banten Sodaan dan Banten Pejati. Acara tersebut sekaligus dalam rangka memperkenalkan dan melestarikan budaya dan kearifan lokal Bali.

    Banten merupakan salah satu sarana dalam pelaksanaa upacara agama Hindu di Bali, berbentuk mirip "sesajen" jika dalam budaya Jawa. Banten disimbolkan sebagai wujud rasa syukur umat Hindu atas pemberian kehidupan, anugerah, dan segala perlindungan pada alam semesta ini kepada Sang Hyang Widhi//Tuhan Yang Maha Esa.

    Banten Pejati merupakan sarana upacara yang terdiri dari beberapa banten lainnya yang merupakan satu kesatuan sebagai sarana untuk simbol kesungguhan hati akan melaksanakan sesuatu dan berharap akan hadir-Nya dalam wujud manifestasi sebagai saksi dalam upacara tersebut. Banten Pejati dikategorikan sebagai banten pokok yang paling sering dipergunakan umat Hindu di Bali ketika melaksanakan upacara. Pada Banten Pejati, terdapat satu jenis banten lainnya yaitu Banten Sodaan. Banten Sodaan atau Banten Ajuman terdiri dari beberapa bagian. Alasnya berupa Ceper atau Taledan (kotak) maupun Tamas (bundar), berisi buah, pisang dan kue secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk yang dialasi tri kona/tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, dan canang sari. Nasi penek atau “telompokan” adalah nasi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk bundar dan sedikit pipih, adalah lambang dari keteguhan atau kekokohan batin dalam mengagungkan Tuhan. Sampyan Plaus/Petangas dibuat dari janur kemudian dilipat dan dirangkai berbentuk seperti kipas, memiliki makna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi manusia harus menyerahkan diri secara totalitas di pangkuan-Nya. Sedangkan Canang Sari berupa wadah terbuat dari janur yang diisi beberapa jenis bunga dan dupa sebagai sarana melakukan persembahyangan umat Hindu di Bali.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon