ANALISA GAYA KEPEMIMPINAN OTOKRATIS, DEMOKRATIS DAN LAISSEZ FAIRE DALAM BIROKRASI PEMERINTAHAN
Yuniantoro Sudrajad
Selasa, 25 Oktober 2022 |
404278 kali
Sumber
daya manusia mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting ketika suatu
organisasi bertransformasi. Pegawai merupakan salah satu dari alat produktivitas
untuk melaksanakan tujuan organisasi, sebab tanpa adanya pegawai maka suatu
organisasi tidak dapat mencapai tujuannya dengan baik. Mengingat pentingnya pegawai
yang didukung oleh peranan sang pemimpin, dimana pemimpin harus mampu melihat, mengamati dan memahami
keadaan dalam organisasi.
Gaya kepemimpinan dalam organisasi juga
memegang peranan yang sangat penting bagi pencapaian tujuan organisasi. Dalam organisasi
pemerintah , seorang pemimpin memegang peranan yang penting dalam perkembangan reformasi
birokrasi di Indonesia, dimana salah satu tujuan organisasi tersebut adalah melakukan
transformasi birokrasi menjadi lebih baik. Kepemimpinan sering dikaitkan dengan
keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Oleh
karena itu, sifat kepemimpinan tidak selamanya dimiliki oleh seorang
“pemimpin”. Orang yang tidak memiliki jabatan saja bisa memiliki sifat
kepemimpinan yang baik.
Menurut Thoha (2013:49) bahwa gaya kepemimpinan
merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut
mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Dalam artian, gaya
kepemimpinan yang digunakan pimpinan tersebut
digunakan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai. Dapat pula
dikatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku dan strategi yang
disukai dan sering diterapkan didalam memimpin suatu organisasi.
Franklyn (1951) dalam Onong Effendy
(1993: 200) mengemukakan ada tiga gaya pokok kepemimpinan, yaitu gaya
kepemimpinan otokratis (outoctatic/authoritarian leadership), kepemimpinan
demokratis (democratic/participative leadership), dan kepemimpinan yang bebas
(free-rein / laissez faire leadership).
a. Kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang
memiliki kriteria atau ciri yang selalu menganggap organisasi sebagai milik
pribadi, arogan, mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi,
menganggap bawahan sebagai alat semata, tidak mau menerima kritik dan saran,
terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya, dalam tindakan pergerakannya
sering mempergunakan pendekatan paksaan dan bersifat menghukum. Indikator dari
Gaya Kepemimpinan Otokratis: (1) Sentralisasi Wewenang (2) Produktivitas Kerja
(3) Manajemen setiap keputusannya dianggap sah, dan pengikut – pengikutnya wajib
menerima perintah tanpa pertanyaan.
b. Kepemimpinan
demokratis adalah gaya kepemimpinan yang
memiliki karakteristik sebagai berikut, menganggap bawahan sebagai makhluk yang
termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan
organisasi dalam kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang
menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahan; selalu berusaha menjadikan
bawahannya sukses dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadi sebagai
pemimpin. Indikator dari gaya
kepemimpinan demokratis : (1) Hubungan baik antara pimpinan dengan pegawai (2) Penghargaan terhadap pegawai (3) Manajemen yang mendengarkan aspirasi
bawahannya.
c. Kepemimpinan
bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire) Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan
dari tipe kepemimpinan otokratis. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin
biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan seringkali menghindar diri dari
tanggung jawab. Seorang pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran
yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Disini
seorang pemimpin mempunyai keyakinan bebas dengan memberikan kebebasan yang
seluas-luasnya terhadap bawahan dengan menganggap semua usahanya akan cepat
berhasil.
Dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut diatas,
yang paling banyak dijumpai didalam birokrasi pemerintahan adalah gaya otokratis. Gaya otokratis
merupakan gaya yang mengadopsi pada bakat/karakter seseorang yang dibawa
didalam kepemimpinannya. Otokratis ini merupakan sentralistik dan pemusatan
kekuasaan pada satu orang saja. Dalam gaya otokrasi seorang pemimpin merupakan
tokoh yang memberikan banyak pengaruh pada pengikutnya yang mendukungnya.
Pengaruh itu menjadikan sang pemimpin ditakuti,diikuti dan membuat orang lain
tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. Selain itu, pimpinan gaya
otokrasi menjadikan orang lain tergantung pada apa yang dimilikinya, tanpa itu orang
lain tidak akan bisa berbuat apa-apa. Hubungan ini akan berpotensi menjadikan
hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak merasa
saling diuntungkan. Dalam kepemimpinannya, seorang pemimpin yang bergaya
otokrasi memiliki wewenang yang dianggap tanpa batas. Wewenang disini dapat diartikan sebagai hak
yang diberikan kepada pemimpin untuk menetapkan sebuah keputusan dalam
melaksanakan suatu hal/ kebijakan baik itu keputusan yang bersifat memberikan
solusi maupun berpotensi merugikan kepentingan bawahannya / organisasi.
Agar tujuan organisasi pemerintahan
dapat tercapai dengan baik, maka dibutuhkan kepemimpinan yang efektif. Pemimpin
yang efektif menurut Made Pidarta (1988: 173) dalam Suwatno (2011: 155) ialah
pemimpin yang tinggi dalam kedua dimensi kepemimpinan. Begitu pula pemimpin
yang memiliki performa tinggi dalam perencanaan dan fungsi – fungsi manajemen
adalah tinggi pula dalam kedua dimensi kepemimpinan. Dua dimensi kepemimpinan
tersebut adalah:
a. Kepemimpinan
yang berorientasi kepada tugas adalah kepemimpinan yang hanya menekankan
penyelesaian tugas – tugas kepada para pegawainya dengan tidak memperdulikan
perkembangan bakat, kompetensi, motivasi, minat, komunikasi , tidak mempunyai
empati , belas kasihan dan tidak peduli kesejahteraan pegawainya. Para pegawai akan bekerja secara rutin, rajin, taat dan tunduk
dalam perintahnya. Pemimpin ini tidak mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman
sehingga organisasi menjadi usang dan ketinggalan jaman.
b. Kepemimpinan
yang berorientasi kepada hubungan antar manusia. Kepemimpinan ini hanya
menekankan perkembangan para pegawainya, kepuasan mereka, motivasi, kerjasama,
pergaulan dan kesejahteraan mereka. Pemimpin ini berasumsi bila para pegawainya
diperlakukan dengan baik, maka tujuan
organisasi kependidikan akan tercapai.
Tetapi pada kenyataannya banyak ditemui
pegawai tidak selalu beritikad baik, walaupun ia diperlakukan dengan baik. Hal
ini dapat menyebabkan organisasi mejadi stagnan. Oleh sebab itu kepemimpinan
yang baik adalah kepemimpinan yang mengintegrasikan hubungan antar manusia. Dengan mengintegrasikan
dan meningkatkan keduanya, kepemimpinan akan menjadi efektif, yaitu mampu
mencapai tujuan organisasi tepat pada waktunya. Kepemimpinan yang efektif dapat
melaksanakan fungsi – fungsi manajemen dengan baik termasuk melaksanakan
perencanaan dengan baik pula. Kepemimpinan yang efektif selalu memanfaatkan
kerja sama dengan anggotanya untuk mencapai cita – cita organisasi dan
mendengarkan keluh kesah pegawainya Dengan cara seperti ini, pemimpin akan
banyak mendapat bantuan pikiran, semangat, dan tenaga dari pegawainya yang akan menimbulkan semangat bersama dan
rasa persatuan, sehingga menimbulkan rasa memiliki dan empati didalam mengatasi
masalah dalam upaya memajukan organisasi pemerintahan. (Penulis Dr Yuniantoro Kasi Informasi)
Arcan. Suwatno,
Donni Juni Prinsa. 2011. Manajemen SDM dalam Organisasi Publik dan Bisnis.
Bandung:
Alfabeta. Thoha,
Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Alfabeta,
Bandung Torang, Syamsir. 2013. Organisasi dan Manajemen, cetakan pertama. Alfabeta,
Bandung
Effendi, Onong
Uchjana. 1993. Human Relations dan Public Relations. Bandung:
Mandar Maju
Kartono, Kartini. 2005. Kepemimpinan: Apakah kepemimpinan Abnormal itu?.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Mardalena. 2017. Efektivitas Kepemimpinan:
Sebuah kajian Teoritis.
Jurnal Pendidikan STKIP YPM Bangko. Diunduh 24
Juni 2019.
Peramesti, Ni
Putu Depi Yulia. Dedi Kusmana. 2018. Kepemimpinan Ideal pada Era Generasi
Milenial. Jurnal Transformasi Pemerintahan vol. 10 No. 1. Diunduh 27 Juni 2019.
Robbins, Stephen
P. 2006. Teori Organisasi: Struktur, Desain dan Aplikasi. Alih Bahasa: Yusuf
Udaya. Jakarta:
Tjutju,
Yuniarsih. Suwatno. 2008. Manajemen Sumber daya Manusia. Bandung: Alfabeta
Rivai, V. 2005.
Manajemen Sumber Daya Manusia. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Santoso, S.
2002. SPSS Versi 11.5 Cetakan Kedua: Gramedia, Jakarta.
Sugandi,
Suprayogi. 2011. Administrasi Publik, edisi pertama, cetakan pertama. Graha
Ilmu, Yogyakarta Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Manajemen, cetakan Pertama.
Tjiptono, Fandy.
2001. Total Quality Manajemen. Andi, Yogyakarta.
Winardi, 2000.
Kepemimpinan Dalam Manajemen, Cetakan Kedua, PT. Rineka Cipta, Jakarta
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |