Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Kanwil DJKN Bali dan Nusa Tenggara
Artikel DJKN

Cita Rasa Khas Kopi Bali

Senin, 21 Juni 2021   |   110 kali

Program Kedai Lelang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terus berlanjut. Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Singaraja, produk kopi yang menjadi andalan UMKM sekitar ditawarkan dalam lelang tersebut. Tentu saja, karena Kintamani, yang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Provinsi Bali, terletak di wilayah kerja KPKNL Singaraja.

Kopi Bali Kintamani dihasilkan dari tanaman kopi arabika yang ditanam di dataran tinggi Kintamani, dengan ketinggian  900mdpl. Berada di lereng gunung berapi batur, Kintamani memiliki udara yang dingin dan kering dengan curah hujan yang cukup tinggi. Kondisi ini yang membuat tanaman kopi arabika yang dihasilkan merupakan varietas-varietas yang unggul. Lebih jauh, pohon kopi dikombinasikan dengan tanaman lain. Dengan citarasa yang khas, yakni aroma citrus dan tingkat keasaman yang rendah, Kopi ini banyak diminati oleh konsumen mancanegara.

Rasa Kopi arabika Bali Kintamani dapat dikatakan tidak terlalu pahit, maupun sepat. Ini disebabkan karena kepedulian yang tinggi dari para petani Bali Kintamani tentang tata cara petik dan pilih selama panen. Menariknya lagi, pemanenan dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan tangan.Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas gelondong merah, yang merupakan kualitas biji yang terbaik bagi kopi Kintamani. Secara umum, jarang ditemui cacat rasa dari kopi kintamani ini.

Kopi Kintamani diolah secara basah atau disebut juga dengan istilah wet process (WP), cara ini merupakan cara tradisional Bali. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuang buah kopi sebelum bijinya mengering. Dengan menerapkan proses pengolahan tersebut akan menjadikan warna biji kopi Kintamani lebih terang dibandingkan dengan kopi-kopi lainnya di Indonesia.

Peran Subak dalam mengembangkan dan menjaga keaslian Kopi Kintamani cukup besar. Selain mengatur sistem tanam, subak juga memperhatikan kesejahteraan petani dengan mengatur harga pasar. Dalam subak juga melekat aturan adat yaitu petani memiliki kesepakatan, bahwa anggotanya harus bertani secara organik. Tak boleh ada anggota yang menggunakan bahan kimia. Pupuk dan pestisidanya juga organik. Selain untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produksi, juga agar memenuhi standar produk organik. Aturan lainnya adalah anggota dilarang panen kopi jika belum berwarna merah. Tujuannya agar kualitas kopi tetap bagus. Jika ada anggota yang melanggar, maka dia akan mendapat sanksi adat.

Ketatnya aturan adat itu sebagai hukum moral yang sudah diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak ada petani yang berani melanggarnya. Bahkan hasil kopi arabika hasil panenan petani di Kecamatan Kintamani ini juga diproses dengan baik menghasilkan kopi kualitas ekspor dan mampu menembus sejumlah pasar mancanegara.

Pengemasan kopi Kintamani Bali biasa menggunakan tiga lapis dengan katup satu arah. Untuk proses penyeduhan kopi Kintamani, dulunya dilakukan dengan menuangkan bubuk kopi dengan air panas langsung di cangkirnya dan menyisakan ampas di dasar cangkir. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi cara tersebut dianggap kurang modern dan kurang bisa menampilkan ciri khas cita rasa kopi Kintamani.

Kopi Bali terkenal akan citarasa yang khas, yang membuat anda tentu tidak ingin melewatkannya saat berlibur ke Bali. Jika kondisi belum memungkinkan untuk berkunjung ke Bali, anda dapat tetap mencicipi kopi kintamani bali ini dengan mengikuti kedai lelang UMKM yang diselenggarakan KPKNL Singaraja. Hubungi segera KPKNL Singaraja untuk informasi lebih lengkap.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Foto Terkait Artikel
Pengumuman
Kontak
Jl. Dr. Kusuma Atmaja Gedung Keuangan Negara I, Renon Lt.3 Denpasar - 80235
(0361) 238217
(0361) 226703
kihikanwil14@gmail.com
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |