Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
KPKNL Bekasi > Berita
Peringatan Hari Lahirnya Pancasila Sebagai Titik Awal Bangkit Bersama
Asnul
Selasa, 02 Juni 2020   |   2273 kali

Bekasi - Tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila seyogianya ditandai dengan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Namun, sayangnya 1 Juni 2020 ini masa pandemi belum berakhir sehingga pelaksanaan peringatan hari lahir Pancasila dilaksanakan secara virtual melalui tayangan yang disiarkan oleh televisi nasional dan atau melalui media on line lainnya. Walaupun berbeda dengan peringatan sebelumnya, namun acara tersebut dapat berlangsung dengan khidmat.

Setahun yang lalu, peringatan hari lahirnya Pancasila yang jatuh dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri 1440 H diperingati dalam situasi yang juga sedikit berbeda karena mudik Lebaran yang telah menjadi tradisi tengah berlangsung. Tradisi mudik Lebaran tersebut tak menghalangi para Aparatur Sipil Negara (ASN) terutama ASN Kementerian Keuangan untuk turut serta memperingati hari lahirnya Pancasila. ASN yang telah melakukan mudik Lebaran dapat mengikuti upacara dimana pun dia berada pada saat upacara berlangsung.

Peringatan hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2020 ini mengangkat tema “Pancasila Dalam Tindakan Melalui Gotong-Royong Menuju Indonesia Maju”. Tema ini dirasa tepat sesuai dengan kondisi saat ini. Saat Indonesia membutuhkan suatu tindakan bersama, bergotong-royong untuk bangkit dan menuju Indonesia lebih baik dan maju. Pada peringatan hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2020 tersebut, segenap ASN pada KPKNL Bekasi bersama-sama mengikuti upacara melalui aplikasi zoom meeting.

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) tak hanya merusak tubuh manusia bahkan membawa kematian, namun juga membunuh segala aktivitas di luar rumah. Banyak rencana dan program yang harus tertunda dan tak dapat dilaksanakan, bahkan mengakibatkan kerugian materil yang terjadi pada aspek perekonomian sehingga berimbas pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang harus mengalami pelebaran defisit di atas 3% karena stimulus yang harus diberikan pemerintah untuk menangani dampak Corona terhadap ekonomi Indonesia. Namun, kesaktian Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya tak pernah mati dari nurani bangsa Indonesia dengan komitmen pada tema peringatan hari lahir Pancasia tahun ini yang memiliki nilai inti gotong-royong yang sangat penting dalam perjuangan memenangkan tantangan COVID-19 yang merupakan titik awal untuk Indonesia bangkit.

Permasalahan yang tengah dialami oleh bangsa Indonesia akibat serangan COVID-19 sangat kompleks, mulai dari permasalahan kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan tatanan kehidupan lainnya, yang masih belum menunjukkan titik terang kapan akan berakhir.

Saat ini bangsa Indonesia selain membutuhkan imun tubuh guna kebal melawan virus Corona juga membutuhkan kerja sama, gotong-royong, dan sinergi dari seluruh elemen anak bangsa untuk melawan keterpurukan, serta bersama-sama kembali menumbuhkan dan membangkitkan semangat menuju Indonesia maju.

Perlunya kembali kita mengkaji nilai-nilai luhur dalam sila-sila Pancasila sebagai pondasi kita menentukan sikap untuk bertindak dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air kembali menguji kesetiaan kepada negara dan bangsa.

Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sebuah pengakuan atas keesaan Tuhan, Tuhan hanya satu. Sebagai negara yang memiliki beberapa agama kita harus menjunjung tinggi sila pertama ini. Sebagai orang yang beragama, harus bertakwa dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan agama. Ketaatan akan agama masing-masing akan melahirkan kemurnian dan kejernihan dalam hati setiap manusia.

Ketuhanan Yang Maha Esa juga memiliki nilai-nilai toleransi bagi semua individu dan toleransi terhadap agama masing-masing. Sikap toleransi dan saling menghormati itu akan melahirkan rasa persaudaraan dan rasa sebangsa dan setanah air, senasib, tidak memaksakan agama pada yang lain, serta tidak memandang suku bangsa. Setiap agama mengajarkan kebaikan termasuk membantu dan berempati terhadap saudara yang membutuhkan.

Sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” merupakan adanya pengakuan akan martabat dan harkat serta hak dan kewajiban setiap manusia. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang beradab dan berbudaya membutuhkan rasa keadilan, saling menghormati hak dan kewajiban, serta meningkatkan rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan ini akan menimbulkan empati sebagai saudara yang tengah mengalami kesulitan akibat pandemic. Ini saatnya kita mengimplementasikannya untuk saling membantu, peduli kepada sesama, dengan mengemukakan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Persatuan Indonesia” sebagai sila ketiga memiliki arti bahwa setiap bangsa Indonesia harus memiliki jiwa merasa memiliki nilai kebangsaan untuk bersatu, saling mendukung, saling membantu, mempunyai rasa persatuan memiliki negara ini, berpartisipasi, dan menjunjung tinggi rasa persatuan.

Indonesia terdiri dari gugusan pulau-pulau yang banyak tersebar di kepulauan nusantara, terdiri dari suku bangsa dan bahasa, namun semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah mengikatkan rasa kesatuan. Saling bahu-membahu bergotong-royong kembali membangun Indonesia sebagai elemen bangsa sebagai bukti kecintaan dan wujud dari Persatuan Indonesia.

Dalam masa pandemi yang membuat sebagian besar bangsa Indonesia tengah menghadapi situasi sulit, maka rasa persatuan dan rasa cinta tanah air akan memberikan empati rasa persatuan dan rasa persaudaraan untuk menumbuhkan kewajiban kita untuk saling menguatkan dan memberikan pertolongan. Dengan semangat merasa satu bangsa harus tumbuh empati untuk semua, tidak melihat dari suku bangsa dan agama, tetapi sebagai bangsa Indonesia. Satu bangsa, satu nusa.

Sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” yang menggambarakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Setiap warga negara Indonesaia memiliki kedudukan yang sama, berhak mengemukakan pendapat dan keputusan diambil secara musyawarah.

Sila kelima “Keadilan Soisial Bagi Seluruh Rakyat Indonesai” merupakan sebuah komitmen untuk memberi keadilan sosial yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadailan sosial yang memiliki unsur pemerataan, persamaan, dan kebebasan, yang merupakan cerminan dari sikap gotong-royong untuk hasil yang terbaik, untuk mencapai masyarakat yang makmur dan merata.

Norma-norma yang merupakan kandungan dari nilai-nilai luhur Pancasila tersebut merupakan cerminan dan suatu sikap yang sangat murni dan harus dijunjung tinggi serta dapat diimplemantasikan pada saat bangsa ini sedang terpuruk. Kekompakan dengan rasa persatuan dan memiliki rasa yang sama kita dapat bangkit kembali, kembali untuk meraih Indonesia yang lebih baik, maju, dan selalu bersatu.

 

(Tim Berita KPKNL Bekasi)

 

 

 

 

 

 

 

Foto Terkait Berita
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini