Berdaya atau Terancam? Ujian Integritas Perempuan Indonesia di Tengah Lonjakan Kekerasan
Yuliati
Kamis, 05 Maret 2026 |
139 kali
Penulis: Evelyn Linda Susanti
Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional sebagai momentum refleksi atas capaian dan tantangan kesetaraan gender. Tema tahun 2026, “Berdaya Bersama, Maju Bersama”, bukan sekadar slogan global, tetapi ajakan untuk membangun kolaborasi lintas gender dan generasi dalam menciptakan masyarakat yang adil dan inklusif.
Namun, bagi Indonesia, peringatan ini seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia harus menjadi ruang evaluasi jujur: sejauh mana perempuan Indonesia benar-benar telah berdaya, dan apa fondasi yang menopang keberdayaan tersebut?
Tantangan yang Masih Nyata
Data terbaru dari Komnas Perempuan menunjukkan angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Catatan Tahunan 2024 mencatat ratusan ribu kasus kekerasan berbasis gender, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga hingga pelecehan seksual. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan bahwa perjuangan kesetaraan belum selesai.
Di sisi lain, perempuan Indonesia juga masih menghadapi ketimpangan representasi dalam posisi kepemimpinan strategis. Di dunia politik, ekonomi, dan korporasi, partisipasi perempuan memang meningkat, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan proporsi demografis maupun kapasitas yang dimiliki.
Tantangan ini diperumit oleh norma sosial yang masih membatasi peran perempuan dalam ruang domestik dan publik. Kesetaraan gender sering kali disalahpahami sebagai “persaingan” antara laki-laki dan perempuan, padahal esensinya adalah keadilan akses dan kesempatan.
Peluang Besar di Era Digital
Kita hidup di era digital yang membuka peluang luar biasa. Perempuan kini memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan, informasi, jejaring profesional, dan peluang ekonomi berbasis teknologi. UMKM yang digerakkan perempuan tumbuh pesat, membuktikan bahwa perempuan bukan lagi sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi juga penggerak ekonomi nasional.
Namun, ruang digital juga menghadirkan risiko. Cyber harassment, body shaming, eksploitasi daring, hingga penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab menjadi ancaman nyata. Media sosial dapat menjadi ruang pemberdayaan, tetapi juga ruang perendahan martabat.
Di sinilah literasi digital berbasis nilai menjadi penting. Perempuan tidak cukup hanya cakap teknologi; ia perlu bijak, kritis, dan berintegritas dalam menggunakan ruang digital.
Belajar dari Sejarah, Bergerak ke Depan
Sejarah perjuangan perempuan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok Raden Ajeng Kartini. Melalui gagasannya tentang pendidikan, Kartini menanamkan keyakinan bahwa perempuan memiliki hak untuk berkembang dan berkontribusi dalam ruang publik.
Lebih dari seabad kemudian, semangat itu telah melahirkan generasi perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi, berkiprah dalam politik, memimpin perusahaan, menjadi akademisi, aktivis, hingga inovator teknologi. Kemajuan ini patut diapresiasi.
Namun, pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah perempuan bisa?”, melainkan “nilai apa yang menopang keberhasilan itu?”
Integritas sebagai Fondasi
Keberdayaan tanpa integritas berisiko melahirkan kemajuan yang rapuh. Integritas adalah keselarasan antara nilai dan tindakan—antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.
Integritas perempuan Indonesia hari ini dapat dimaknai dalam beberapa dimensi.
Pertama, integritas moral: kejujuran, tanggung jawab, empati, dan konsistensi sikap.
Kedua, integritas profesional: kompetensi, etos kerja, dan komitmen terhadap kualitas.
Ketiga, integritas digital: kebijaksanaan dalam bermedia sosial dan tidak terjebak dalam sensasi atau validasi semu.
Keempat, integritas kebangsaan: kesadaran bahwa keberhasilan individu tetap terikat pada tanggung jawab sosial terhadap bangsa.
Dalam kehidupan sehari-hari, integritas tampak dalam hal-hal sederhana: disiplin berlalu lintas, jujur dalam pekerjaan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan menjaga etika komunikasi di ruang publik. Nilai-nilai kecil inilah yang membangun karakter besar.
Berdaya Bersama, Bukan Sendiri
Tema “Berdaya Bersama, Maju Bersama” mengingatkan kita bahwa kesetaraan bukan perjuangan satu pihak. Laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam pembangunan. Generasi senior dan generasi muda saling melengkapi pengalaman dan inovasi.
Pemberdayaan perempuan bukan berarti menggeser peran laki-laki, melainkan membangun sinergi. Kolaborasi inilah yang akan mempercepat terwujudnya masyarakat inklusif dan berkeadilan.
Momentum Hari Perempuan Internasional 2026 seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat fondasi tersebut. Kita tidak hanya berbicara tentang angka partisipasi atau representasi, tetapi juga tentang kualitas karakter dan kontribusi nyata.
Perempuan Indonesia telah membuktikan bahwa mereka mampu. Kini, tantangannya adalah memastikan bahwa kemampuan itu ditopang oleh integritas yang kokoh. Karena pada akhirnya, perempuan yang berdaya dan perempuan yang berdaya dan berintegritas bukan hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga membentuk masa depan bangsa.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |