Mengenang Sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional
Atik Setyarini
Jum'at, 02 Mei 2025 |
15380 kali
Setiap tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia
memperingati Hari Pendidikan Nasional. Ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai
Hari Pendidikan Nasional tidak lain dikarenakan tanggal tersebut merupakan
tanggal kelahiran sosok yang sangat berjasa dalam kemajuan bangsa Indonesia
melalui jalur Pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi
Soerjaningrat pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman Yoyakarta. Beliau merupakan
putra dari GPH Soerjaningrat, seorang ningrat/bangsawan Kraton Pakualaman Yogyakarta.
Dengan latar belakang priyayi (sebutan bagi keluarga bangsawan Jawa), beliau berkesempatan menyelesaikan pendidikan dasar dan kemudian melanjutkan
belajar di STOVIA, sebuah sekolah di bidang kedokteran bagi penduduk pribumi
Indonesia namun gagal lulus dikarenakan menderita sakit. Selanjutnya beliau
bekerja sebagai jurnalis di beberapa media masa seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Indies, Kaoem Moeda, Tjahaja
Timoer, and Poesara.
Selain bekerja sebagai jurnalis, Soewardi
Soerjaningrat juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Semenjak didirikannya organisasi Budi Utomo pada
tahun 1908, beliau ikut aktif dalam mensosialisasikan dan mempromosikan
kesadaran rakyat Indonesia (khususnya di Jawa) akan pentingnya persatuan
bangsa.
Beliau juga menyampaikan kritik-kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Hal ini mengakibatkan pada tahun 1913 beliau bersama dengan 2 orang kolega yaitu Douwer Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Belanda. Di Belanda, beliau tetap aktif berorganisasi dengan pemuda Indonesia di Belanda.
Tahun 1919 Soewardi Soerjaningrat kembali ke
Indonesia. Pada masa itu hanya anak-anak keturunan Belanda atau kaum priyayi
yang bisa mengenyam bangku pendidikan. Hal itu membuat beliau terpanggil
untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan National Onderwijs Instituut
Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa tepatnya pada tahun 1922. Beliau
kemudian mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.
Dalam menerapkan sistem pendidikannya, Ki Hajar
Dewantara mempunya semboyan yang sangat terkenal yaitu Ing Ngarsa Sung Tulada
(di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang
baik), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan
prakarsa dan ide), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus
bisa memberikan dorongan dan arahan). Tut wuri Handayani sampai sekarang masih
dikenal sebagai semboyan pendidikan nasional.
Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 26 April
1959 di Yogyakarta. Atas jasanya dibidang Pendidikan beliau diberi kehormatan
sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden
pertama Indonesia Soekarno.
Sumber: Wikipedia dan artikel Berangkat dari
Perjuangan Hingga Jadi Bapak Pendidikan, Ini Sekelumit Sejarah Ki Hadjar
Dewantara, yang ditulis oleh Rian Alfianto dan dipublikasikan di msn.com serta berbagai
sumber lainnya
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |