Tidak Ada Ruang Untuk Pola Pikir Usang

16 Oktober 2017 - 15:31     Ahmad Hilmi Khoirul Arifin    djkn10tahun

Oleh: Muhammad Ganjar Nugraha-Kanwil DJKN Aceh

Diksi yang paling sesuai untuk menjembatani antara kata “usang” dan “modern” adalah waktu, karena sejatinya waktulah yang dapat merubah kedua hal tersebut. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) 10 tahun yang akan datang, tentu bukan waktu yang sebentar, pastilah akan berubah dan prestasi serta inovasi yang saat ini terjadi akan mengalami keusangan di kurun waktu satu dasawara kedepan.

Makna kata usang yang artinya sudah kuno atau sudah tidak lazim lagi, bukan berarti negasi dari hal positif karena bisa saja barang-barang kuno dihargai dengan nilai rupiah yang tinggi. Namun, hal tersebut tidaklah sama apabila keusangan di kaitkan dengan pola pikir karena kemadegannya sama dengan tidak mau/takut berubah. Menurut Kotter dan Schlesinger menunjukan ada 4 alasan utama individu tidak mau berubah : (1) takut kehilangan sesuatu yang berharga; (2) gagal memahami perubahan dan implikasinya; (3) percaya bahwa perubahan yang terjadi tidak masuk akal; dan (4) cukup memiliki toleransi yang rendah terhadap perubahan. Bisa dibayangkan apabila masih terdapat pegawai yang tidak bisa mengoperasionalkan komputer tidak mau belajar untuk bisa mengoperasionalkannya, apakah yakin inisiatif strategis berupa digitalisasi pengelolaan aset dapat dijalankan. Seandainya saja masih ditemukan pegawai yang mengenakan biaya diluar ketentuan kepada stakeholder, apakah DJKN akan dipercaya untuk terus mengoptimalisasikan Aset Bendahara Umum Negara. Atau masih terdapat pegawai yang tidak mau meningkatkan kompetensinya, tentu semua inisatif strategis yang sudah direncanakan akan menguap tanpa hasil. Perilaku-perilaku pegawai tersebut yang tidak mendukung Transformasi Kelembagaan khususnya di DJKN, berawal dari pola pikir “usang” yang masih menyetarakan kondisi saat ini dengan kondisi insitusi Kementerian Keuangan 10 atau bahkan 20 tahun yang lalu.

Transformasi Kelembagaan yang sedang berjalan memastikan peran vital DJKN menuju visi Kementerian Keuangan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad-21. Guna memastikan perannya tersebut, baik setahun ataupun bahkan 10 tahun yang akan datang, setiap elemen DJKN memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menyukseskan. Elemen paling penting adalah Sumber Daya Manusia atau pegawai DJKN itu sendiri dari jabatan yang tertinggi sampai dengan yang rendah. Perbaikan atas kondisi ini, menjadi upaya bersama dengan memperhatikan perspektif learning and growth dimana sumber daya internal berupa sumber daya manusia serta sumber daya organisasi diberdayakan untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan sehingga dapat menghasilkan pelayanan proses bisnis seperti apa yang menjadi ukuran keberhasilan atas pelayanan yang dilaksanakan.

Organisasi secara all-out mengupayakan dan mempersiapkan SDM yang berkompetensi tinggi untuk kepentingan jangka panjang dalam rangka memberikan dukungan dan memperlancar pelaksanaan tugas. Namun, setelah organisasi menjalankan perannya, individu atau pegawai dipersilahkan untuk memilih apakah ingin melesat bersama dengan gerbong DJKN dan berkontribusi dalam peran DJKN yang luar biasa besar di sepuluh tahun yang akan datang atau tetap terkungkung dengan pola pikir usangnya. Seandainya jatuh pada pilihan kedua, silahkan angkat kaki dari sekarang karena sampai dengan 10 tahun yang akan datang tidak ada ruang lagi bagi pola pikir usang.


Video
Stay up to date
Stay connected