Jalan Lapangan Banteng Timur No. 2-4, Jakarta 10710

BERSAHABAT DENGAN PERUBAHAN, LANGKAH MENGHADAPI TRANSFORMASI KELEMBAGAAN

By: Deta Novian Anantika Putra | Posted On: 2016-05-27 19:16:24

Seorang ahli filsafat dari Yunani yang bernama Heraclitus berkata bahwa di dunia ini tidak ada yang tetap, kecuali perubahan. Segala hal berubah di dunia ini. Waktu yang berputar, siang dan malam, kehidupan dan kematian, teknologi yang berkembang, cuaca yang berubah, merupakan contoh dari perubahan. Perubahan merupakan sesuatu hal yang pasti, sehingga apabila kita tidak mampu menerima dan bersahabat dengan perubahan tersebut, maka kita akan tergilas dan tertelan oleh jaman. Baik buruknya suatu perubahan tergantung dari sudut pandang masing-masing orang dalam menyikapinya. Bahkan terdapat kemungkinan terjadinya konflik antara orang-orang yang ada di dalam perubahan tersebut. Sebagai contoh, ketika manusia mengalami revolusi pemikiran dari konsep “Bumi itu datar” menjadi konsep “Bumi itu bulat” sebagaimana teori yang digagas oleh Nicolaus Copernicus dan didukung oleh Galileo Galilei, terjadi banyak friksi dan konflik antara penganut 2 (dua) mahzab yang berbeda tersebut sampai akhirnya dilakukan pembuktian yang ilmiah dan dapat diterima oleh seluruh pihak. Konflik yang terjadi baik itu bersifat internal maupun eksternal menghasilkan bentuk yang ideal dari sebuah perubahan yang kemudian dapat diterima oleh seluruh pihak.

Transformasi untuk Menjadi Lebih Baik

Transformasi kelembagaan di lingkungan Kementerian Keuangan yang saat ini sedang berproses bertujuan untuk mewujudkan visi Kementerian Keuangan yakni menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad ke-21. Entah sudah berapa kali Kementerian Keuangan bertransformasi sejak negara ini merdeka. Namun sepanjang 12 (dua belas) tahun karir Penulis sebagai pegawai di Kementerian Keuangan, Penulis telah ikut merasakan beberapa kali transformasi dalam kementerian ini. Satu hal yang perlu diingat bahwa transformasi tersebut bertujuan untuk membuat organisasi menjadi lebih baik. Yang menjadi kendala adalah apakah orang-orang yang ada di organisasi tersebut bersedia untuk menerima perubahan sehingga dapat beradaptasi dengan baik atau malah mengambil sikap yang berseberangan dengan memunculkan resistensi terhadap perubahan tersebut.

Sebagai contoh, pengalaman Penulis ketika tahun 2004 mulai meniti karir di Kementerian Keuangan dan menjadi salah satu PNS di Ditjen Perbendaharaan. Pada saat itu unit organisasi yang dulunya ada di Ditjen Anggaran dan unit organisasi yang ada di BAKUN dilebur membentuk Ditjen Perbendaharaan. Sebagai pegawai baru, ditengah hiruk pikuk transformasi organisasi,  tentu mengalami kegamangan dan kebingungan. Namun hidup terus berjalan dan sebagai bagian dari organisasi, maka pegawai yang berada di dalamnya tetap dituntut untuk memberikan sumbangsih terbaik.

The Struggle You're in Today is Developing the Strength You Need for Tomorrow

Kemudian tahun 2007 terjadi kembali transformasi kelembagaan di lingkungan Kementerian Keuangan dimana pada saat itu terdapat unit organisasi di Ditjen Perbendaharaan yang digabung dengan Ditjen Piutang dan Lelang Negara sehingga membentuk suatu unit baru yaitu Ditjen Kekayaan Negara (DJKN). Pada saat itu Penulis bertugas pada Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara dan PNBP Bidang Pembinaan Perbendaharaan dan Kekayaan Negara di Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sumatera Utara yang secara otomatis pegawai yang bertugas pada seksi tersebut ditugaskan untuk menjadi pegawai DJKN. Salah satu problem bagi Penulis akibat transformasi pada saat itu yaitu mutasi. Ya, takdir berkehendak bahwa Penulis harus bertugas di KPKNL Lhokseumawe yang pada saat itu baru saja dibentuk. Di tengah situasi kota Lhokseumawe yang masih belum sepenuhnya kondusif karena masih terdapat sisa-sisa konflik Aceh, Penulis bersama Kepala Kantor dan 2 (dua) orang staff pelaksana lainnya berjuang untuk mendirikan kantor. Langkah pertama adalah menumpang di KPKNL Banda Aceh sambil mencari ruko (rumah toko) di Lhokseumawe untuk disewa menjadi kantor sementara. Selanjutnya masih diteruskan dengan bergerilya mengadakan peralatan kantor yang mesti disupply dari provinsi tetangga. Belum lagi ditambah dengan tugas-tugas inventarisasi dan penilaian (IP) yang pada saat itu dituntut harus sudah mulai berjalan. Hingga kemudian datang bala bantuan berupa penempatan 4 (empat) orang Kepala Seksi dan 6 (enam) orang staff Pelaksana. Jadilah kami berempat belas menggawangi KPKNL Lhokseumawe menjalankan program IP yang saat itu menjadi prioritas utama

Dalam perjalanannya, bermacam peristiwa yang terjadi yang kemudian dapat diambil hikmahnya. Mulai dari beban kerja yang overload karena SDM yang terbatas, pelaksanaan tugas IP ke daerah-daerah rawan sehingga mesti dikawal oleh aparat keamanan bersenjata laras panjang, kondisi yang memanas terkait dengan Pilkada, intimidasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, semua itu menjadi pelajaran bagi Penulis bahwa transformasi kelembagaan akan terus berjalan dengan atau tanpa Penulis. Pada titik inilah Penulis memutuskan untuk menentukan langkah, mengingat kembali nasehat orang-orang tua yang ada di kampung halaman Penulis: “Dima urang rami, disinan awak manggaleh”, yang artinya dimana orang ramai disana kita berdagang. Ya, di masa-masa sulit inilah kesempatan Penulis untuk membuktikan kemampuan. Di mulai dengan sharing knowledge aplikasi Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) yang dulu Penulis pelajari ketika bertugas di Ditjen Perbendaharaan, penerapan ilmu perbendaharaan negara, penganggaran dan pengadaan yang selama ini Penulis pelajari ketika kuliah dan pengetahuan Penulis tentang pokok-pokok aturan kepegawaian, semua itu memberikan warna tersendiri dalam keberlangsungan KPKNL Lhokseumawe pada saat itu.

Bersahabat, Melihat, dan Mengambil Sikap dalam Perubahan 

Pengalaman Penulis membuktikan, berusaha bersahabat dengan perubahan akan memberikan kita lebih banyak ilham untuk melihat kesempatan-kesempatan yang ada sehingga kita dapat mengambil posisi yang tepat dalam menyikapi perubahan tersebut. Tentu saja eksistensi diri dalam memberikan sumbangsih terbaik akan dapat terwujud apabila kita memiliki kemampuan dan keberanian untuk mengimplementasikannya. Dan untuk hal ini kita membutuhkan pengembangan diri yang berkelanjutan agar dapat menjadi pribadi yang handal, inovatif serta memiliki daya saing. Bukankah pribadi seperti itu yang dicari di era globalisasi seperti saat ini?

Alhamdulillah, kesabaran bertugas di KPKNL Lhokseumawe berbuah manis. Tepat 3 (tiga) tahun 9 (sembilan) bulan setelah menjejakkan kaki pertama kali di kota Lhokseumawe, Penulis menerima penugasan berikutnya di KPKNL yang berbeda. Dan saat ini, lebih kurang 5 (lima) tahun setelah meninggalkan Lhokseumawe, Penulis mendapat amanah untuk bertugas di Kantor Pusat DJKN menjadi agen perubahan demi mewujudkan transformasi kelembagaan yang sedang berjalan. 

Let’s build the change!

Share this post: