Berita DJKN

Kapten Marvel dan Perubahan Paradigma Sang Pahlawan Sebuah Pendekatan Analisis Gender

Rabu, 20 Maret 2019 pukul 0:00   |   0 kali

Melalui Film Kapten Marvel, nampaknya Marvel Cinema Universal (MCU) menyuguhkan cerita “bridging” agar sosok penikmat film Production House tersebut mengetahui kemampuan Kapten Marvel yang nantinya akan menjadi Sang Pahlawan dalam melawan kedigdayaan Sang THANOS. Namun uniknya, “bridging” yang disampaikan MCU begitu “out of the box” mendobrak, mendekonstruksi tatanan pemahaman sosial terkait Sang Pahlawan yang biasanya dipahami oleh masyarakat sebagai sosok jenis kelamin Laki-laki, seperti yang Penulis akan paparkan dalam resensi ini. 

Dalam konstruksi sosial kehidupan sekarang, posisi kepahlawanan dalam kesadaran kolektif manusia selalu identik dengan sosok maskulinitas, atau jenis kelamin laki-laki. Terkadang, pahlawan-pahlawan yang berbeda jenis kelamin dalam benak konstruksi sekarang selalu kurang diapresiasi sebagai peran “sentral” dalam membawa perubahan sosial (agent of social change).

Dengan kata lain, dalam ruang konstruksi cinema pun, mungkin tidak akan “bias gender”, dimana sosok pahlawan selalu identik dengan laki-laki, seperti sosok Dragon Ball, Samurai X, Kapten America, Thor, Iron Man, Superman, Batman, dan sebagainya, kali ini Avanger terkuat di Marvel adalah seorang perempuan. Tentu saja, anggapan ini mengalami dekonstruksi, alias pembongkaran isu, dimana kondisi Sang Pahlawan tidak lagi berwajah maskulin, gagah, dan menyeramkan, tapi saat ini Sang Pahlawan tersebut berubah paradigma menjadi sosok kelembutan, penuh pesona, dan sangat perhatian dengan inner beauty-nya dalam menyentuh semesta.  

Adalah Kapten Marvel, yang sudah lama menjadi nama Marvel Entertaiment Corporation atau Marvel Cinematic Universe (MCU) asal Prodution House (PH) nya Hollywood yang concern di dunia cinema khusus adventure, science fiction, action dan kepahlawanan.  Dalam film yang dirilis tanggal 8 Maret 2019, yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional 2019 (International Woman’s Day 2019), tentu saja film Kapten Marvel memiliki pesan-pesan tersendiri dalam mendudukan orientasi perempuan dalam kancah kepahlawanan.

Kapten Marvel adalah seorang mantan pilot Pesawat Tempur bernama Carol Danvers yang memiliki kekuatan super pasca mengalami sebuah “kecelakaan” ketika Carol bergabung dalam sebuah misi tim luar angkasa bernama Starforce.  Suguhan film ini flash back menggambarkan cuplikan momen nostalgia sang Kapten saat bertugas sebagai pilot, termasuk juga masa kecilnya di tahun 90an. Misi penerbangan tersebut kandas setelah gelapnya langit malam hari, Starforce menembus atmosfer bumi, terbakar, dan terjatuh ke atap sebuah gedung. Namun kecelakaan tersebut membawa Carol membuka tabir yang dibawa oleh Sosok wanita tua yang ber-camouflage  menjadi manusia bumi yang sebenarnya men-decoy inti energy Skrulls sebagai media teknologi peniru hingga level DNA.  Apabila membahas mengenai kekuatan sosok wanita tua tersebut, tidak hanya memiliki Photon Energy Blast, namun juga memiliki kekuatan penyembuhan diri dan dapat merasakan bahaya yang jaraknya sampai luar angkasa.

Skrulls sebenarnya dalam serial televisi Agents of S.H.I.E.L.D sudah di-release, karena dalam serial tersebut sering menggambarkan lebih tajam terkait film-film The Marvel.  Uniknya, dalam serial film itu, Skrulls dikenal sebagai karakter penjahat paling kejam namun dalam film Kapten Marvel ini, sosok Skrulls menjadi objek bulan-bulanan Yon Rogg. Yon Rogg diperankan oleh Jude Law, actor berkebangsaan Inggris yang juga pengamar berat Kopi, bertindak bijak dan mengatur kekuatan Carol Denvers yang kemudian dikenal dengan Kapten Marvel. Jude Law berhasil memaksa kaum Schrulls keluar dari pesawat agar bangsa KREE dapat menguasai rumah Bangsa Schrulls tersebut.  Sosok bangsa KREE itu adalah Ronan, yang menjadi pemeran antagonis dalam film Guardians of The Galaxy.

Salah satu keinginan bangsa KREE, melalui Jude Law mengkondisikan kekuatan Carol Denver sebagai Kapten Marvel adalah penguasaan dan pengendalian kekuatan Skrulls. Kekuatan ini  sangat berbahaya karena kemampuannya yang bisa menyamar dalam berbagai wujud, seperti yang sudah disebutkan di atas, kemampuan perubahan ini bisa dicapai hingga level perubahan DNA.

Film Kapten Marvel ini sesungguhnya hanya sebagai “bridging” dalam menyambungkan cerita cinema yang lebih dulu keluar dalam Film Avengers: Infinity War, dimana sosok THANOS sangat digdaya dengan ke-enam elemen yang disimbolkan cincin sebagai subyek kekuasaan tak terkira di alam semesta. Super Hero Avangers yang menjadi proyek Nick Fury, dengan dimensi masa depan sebagai manager the Avangers, yang kemudian balik menjadi polisi biasa di tahun 1980-an dalam Film Kapten Marvel ini, tentu seperti film labirin yang tidak karuan. Bahkan secara detail lipatan dimensi dimana Nick Fury menggunakan penyeranta (saat itu dikenal dengan Pagers) hanya untuk menghubungi seseorang yang dikenalnya mengindikasikan bahwa FURY hidup di dunia masa depan dan di tahun 1980-an. Peran penyeranta ini bukan hanya sekedar alat komunikasi, tapi seperti alat dimensi waktu yang ceritanya DILIPAT secara padat oleh FURY agar pesan masa depan The Avangers yang kalah perang dengan THANOS bisa sampai ke Kapten Marvels.

Nick Fury dalam Film the Avangers sudah berusaha menghubungi Carol (Kapten Marvel) ketika ulah THANOS mereset penduduk bumi karena kelewat over pupulasi. Bisa jadi THANOS terkena god complex symptom. Namun cerita itu terputus, karena semua Avanger dalam Film The Avangers sudah melebur kembali kepada alam semesta. FURY memang sempat menghubungi Kapten Marvel dengan Penyeranta, namun film tersebut keburu end.

Tetap saja, Film Kapten Marvel, walaupun menceritakan kedigdayaan seorang perempuan yang begitu heroic, tetap saja dirinya memiliki peran sebagai wanita, yang kemudian harus nostalgia dengan teman pilotnya Maria Rambeau, yang diperankan oleh Lashana Lynch. Selain itu dirinya juga harus berulang-ulang diajarkan rasa memori emosi oleh anak perempuan Maria Rambeau di dunia drigantara. 

Akhirnya, Film Kapten Marvel ini cukup Happy Ending, dimana kekuatan Sang Kelembutan Carol Denvers mampu mengendalikan kekuatannya hingga level energi. Dalam analisis Gender, tentu banyak pesan yang disampaikan oleh Film tersebut. Sosok Perempuan yang Berani, Tangguh, Fighter, Lembut, Cerdas, dan memiliki kekuatan ini setidaknya akan menjadi contoh bagi anak-anak tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki, dimana peran laki-laki dan peremapuan dalam perbedaan jenis kelaminnya bisa setara dalam wajah konstruksi sosial kehidupan di dunia.

Tidak ada perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan, kecuali hanya pada jenis kelamin. Namun hal itu pun bukan dalam pengkondisian part of body yang begitu berbeda, karena perbedaan tubuh (jenis kelamin) tersebut adalah pengkondisian hukum alam (sunnatulloh) agar manusia melakukan kolaborasi, kerjasama dalam membangun tujuan kehidupan agar terciptanya keseimbangan, keadilan dan kesetaraan.

(Rusmawati Damarsari, Sekretariat Direktorat Jenderal)

Foto Terkait Berita

Cari Berita

Agenda PUG

Event :
  • -