Berita DJKN

Ambil Penuh Tuban Petro, Kehadiran Negara Untuk Industri Petrokimia Dalam Negeri

Kamis, 12 September 2019 pukul 17:22:26   |   338 kali

Jakarta – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) segera mengambil alih kepemilikan Tuban Petrochemical Indonesia. “Saat ini sedang dipersiapkan untuk proses pengalihan piutang negara pada Tuban Petro untuk dikonversi sebagai saham.  Pemerintah telah menguasai 70 persen, dan akan menjadi 95 persen setelah konversi, sisanya pun masih milik pemerintah karena ada bunga dan lain-lain yang tidak bisa dikonversi,” jelas Isa pada Diskusi Publik Industri Petrokimia Nasional di Jakarta, Kamis 12 September 2019.

“Industri petrokimia kita masih jauh untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara kita punya aset yang kita dapat dari masa BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional-red) berupa pabrik petrokimia dan kelasnya kelas satu semua, “ ujar Isa.

Status perusahaan yang masih memiliki hutang kepada Pemerintah membuat operasional Tuban Petro menjadi tidak optimal, sementara proses penyelesaian hutang melalui pembayaran akan memakan waktu yang lama. Untuk itu skema penyelesaian piutang negara dengan mengkonversi piutang sebagai saham ini menjadi opsi yang ditempuh Pemerintah. Demikian Isa menjelaskan

Lebih lanjut Isa menjelaskan Negara akan mendapat manfaat dari optimalisasi tersebut diantaranya penghematan impor bahan baku kimia senilai Rp5triliun pertahun, dan dari aktivitas industri, pendapatan domestik bruto industri petrokimia akan meningkat 35%. Selain itu konversi yang otomatis mengoptimalkan kinerja perusahaan tersebut akan meningkatkan potensi kesempatan kerja sebanyak 14.500. 1.500 orang secara langsung, dan sisanya tidak langsung. Bukan hanya itu, Pemerintah pun berpotensi menambah penerimaan sebesar USD1,9 milyar dari pajak.

Isa menjelaskan skema penyelesaian piutang negara ini tidak hanya dilakukan pada Tuban Petro. “Kita menyelesaikan piutang dengan pemilik lama yang sampai saat ini pun progresnya tidak signifikan, sementara aset yang semaikin lama tidak dimanfaatkan dengan baik ini akan makin buruk kondisinya, kalau itu bisa dimanfaatkan kita bisa peroleh manfaat dari situ.

Sementara itu, Menjawab kesiapan Tuban Petro dengan akuisisi pemerintah ini, Direktur Utama Tuban Petrochemical Indonesia Sukriyanto menyatakan perusahaan sudah menyiapkan beberapa skema pengembangan.  “Daya saing kita sebenarnya dari sisi SDM sudah kuat. Banyak SDM yang keluar karena disini tidak ada pengembangan, sementara di level bawah sudah ada program vokasi yang dikembangkan , dan akan dibangun politeknik petrokimia di Banten,” ujarnya. “Tenaga kerja di stream memang tidak banyak, sekitar  10ribu tenaga kerja, tapi polimer dan textile bisa jutaan tenaga kerja yang akan diserap,” tambahnya.

Lebih lanjut Sukriyanto mengatakan bahwa petrokimia seharusnya masuk ke industri stategis karena pola hidup manusia sehari-hari memakai produk petrokimia. Tuban Petro akan mengembangkan industri kimia ini bukan hanya berbasis naphta atau kondensat, nantinya batubara juga akan dikembangkan menjadi metanol, ada juga yang dari LPG, namun karena hutang tuban petro kepada pemerintah masih belum selesai, maka perusahaan ini seperti terbelenggu.  “Kalau sudah selesai maka dia (perusahaan-red) akan bankable dan menjawab keraguan mitra.  

“Waktu krisis  grup ini punya hutang besar ke Pemerintah melalui BPPN, Tuban petro ada 3 anak perusahaan, yaitu TPPI, Politama dan Petro Nusantara. Dari 3 perusahaan ini sudah dilakukan perbaikan, sehingga bila pemerintah akan mengambilalih ini semua sudah siap.” Ujarnya.


Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian PerindustriaN Fridy Juwana mengatakan bahwa sesuai program pemerintah industri petrokimia harus dikembangkan dan perkuat dengan dioptimalkannya Tuban Petro harus makin kuat. Saat ini ekspor barang kimia senilai  USD8,7miliar, sementara impornyaiUSD22 miliar, ada gap sekitar USD13 miliar.

“Tuban petro memproduksi paraxilane yang merupakan bahan untuk membuat bahan baku textile, itu masih impor sebesar 680ribu ton, kita harapkan dengan optimalnya Tuban Petro ini bisa menekan impor bahan kimia. Sementara itu bahan baku kondensat yang sebenarnya sudah ada di  dalam negeri akan dioptimalkan. Kondensat nantinya tidak hanya diproses sebagai bahan bakar, kami ingin itu sebagai bahan baku sehingga lagi-lagi bisa mengurangi impor bahan kimia kita, jelas Fredi.


Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono mengatakan bahwa dari sebeum krisis Indonesia adalah pemain industri petrokimia terbesar di Asean, namun semenjak krisis 1998 sampai saat ini belum ada investasi besar lagi, sehingga Indonesia kini tertinggal. Pertumbuhan tahun ini 5,2% akan tembus karena ada kepastian bahan baku.

Jika ini bisa dioptimalisasi maka ada kehadiran negara yang menjamin industri ini terus berkembang dan lebih tangguh, industri textil lebih baik, jadi dengan adanya perang dagang Cina-Amerika textil akan lebih percaya diri untuk mengambil pasar Eropa dan Amerika yang ditinggalkan Cina.

Acara yang diadakan di Hotel Luwansa Jakarta ini dimoderatori oleh Fristian Griec dari Kompas TV dan dihadiri wartawan media cetak, elektronik dan daring yang tergabung dalam forum wartawan industri. (faza,aja)

Foto Terkait Berita