Berita DJKN

Gabungkan Budaya Kerja dan Teknologi, DJKN Siap Bertransformasi

Jum'at, 26 Juli 2019 pukul 10:29:30   |   626 kali

Purwokerto -  Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) berupaya menggabungkan antara budaya kerja dan teknologi untuk bertransformasi guna mendukung program pembangunan Digital Transformation dan Digital Technology yang sedang digalakkan oleh Kementerian Keuangan. Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Kementerian Keuangan Sudarto mengatakan hal utama yang harus dilakukan dalam pembangunan transformasi digital adalah merubah pola pemikiran lama. Pemikiran lama yang menganggap bahwa perkembangan teknologi digital akan mengurangi profesionalisme dan integritas merupakan suatu kesalahan yang  besar. Hal ini disampaikannya dalam sharing season tentang teknologi dan budaya organisasi di era digital saat Rakernas DJKN 2019 pada Kamis (25/7) di Purwokerto.


“IT ini tidak bisa menggantikan profesionalisme anda, integritas anda, tapi IT itu bisa membuat anda lebih berintegritas, lebih profesional,”ungkap Sudarto. Hal tersebut, lanjutnya, dikarenakan adanya digitalisasi ini bukan berarti mengotomasi proses bisnis yang ada namun akan meningkatkan efisiensi proses bisnis dan operasional.


Ia juga mengungkapkan harapannya ketika digital transformation dan digital technology ini benar-benar sudah terbentuk. Menurutnya, efisiensi proses bisnis dan operasional ini akan memudahkan seluruh pegawai Kementerian Keuangan dan juga stakeholder. “Saya sempat berfikir kenapa sih saya setiap hari harus berangkat kantor? Ketika digital transformation dan digital technology ini sudah terbentuk, saya bisa mengerjakan dimana saja,” jelasnya.


Di tempat yang sama, Chief Consulting Officer Tengku Hedi Safinah menjelaskan tentang budaya organisasi di era digital. Tengku menyampaikan bagaimana transformasi digital ini dapat berjalan dengan baik dalam suatu organisasi. Menurutnya, transformasi digital ini merupakan perubahan yang menyeluruh dalam suatu organisasi. Diperlukan kesiapan baik dari sumber daya manusianya ataupun infrastruktur pendukungnya. “Eksekusi itu akan berjalan dengan baik ketika  orang tahu tujuannya, mampu untuk menggunakannya (infrasturtur pendukung-red), dan mau menjalankannya,” rincinya.


Dalam pemaparannya, ia juga mencontohkan beberapa perusahaan yang gagal dalam proses transformasi digital. Tengku menjelaskan aspek-aspek yang membuat perusahaan tersebut gagal dalam bertransformasi. Pada saat itu, Tengku memberikan quick assesment kepada seluruh peserta rakernas terkait kesiapan organisasi dalam melakukan transformasi digital. Dengan adanya quick assesment tersebut, ia berharap peserta memiliki kesamaan persepsi dan pemikiran mengenai tujuan organisasi di era digital. (Faz/Pon/Bril/Ang-Humas)


 


Foto Terkait Berita