Berita DJKN

Property Class DJKN – Penggunaan Aset Harus Optimal

Selasa, 13 November 2018 pukul 19:07:06   |   296 kali

Jakarta - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) menyelenggarakan kegiatan property class bagi perwakilan Kementerian/Lembaga (K/L) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Selasa (13/11). Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT DJKN ke-12 ini memiliki tujuan diantaranya untuk meningkatkan pengetahuan pengguna barang serta mendorong optimalisasi aset pada pengguna barang.

Kepada peserta yang hadir, Dirjen KN mengajak untuk meningkatkan lagi cara menyikapi suatu aset (Barang Milik Negara/BMN -red). “Arah dari kegiatan ini adalah untuk membangun konsep bersama, memahami, dan mengimplementasikan bagaimana mengelola kekayaan negara bukan hanya tertib fisik, tertib administrasi, dan tertib hukum, tapi juga bagaimana mengoptimalkan aset tersebut, baik untuk pelaksanaan tugas fungsi ataukah untuk mendapatkan revenue secara optimal dari aset – aset tersebut,” tegasnya.

Melanjutkan penjelasannya, Dirjen KN berpesan agar para perwakilan K/L keluar dari pola pemikiran institusional sentris dan terbuka dengan kemungkinan – kemungkinan optimalisasi aset yang ada, seperti misalnya sharing space yang menganggur antar K/L. “Jika K/L berbagi space kosongnya dengan unit K/L lain bukan tidak mungkin akan didapatkan gedung yang dapat dikoosongkan dan menjadi opportunity bagi pemerintah untuk memberikan penerimaan bagi negara berupa penerimaan negara bukan pajak,” contohnya.

Senada dengan Dirjen KN, narasumber yang merupakan Advisor Jakarta Property Institute dan Vice Chairman of Chusman and Wakefield Indonesia Handa Sulaiman memaparkan bahwa perusahaan – perusahaan swasta juga terus melakukan optimalisasi penggunaan asetnya. “Dulu rata-rata kebutuhan ruang kantor sebesar 10 meter persegi per orang, namun dengan hadirnya konsep co-working space maka kebutuhan ruang kantor hanya sebesar 6 meter persegi per orang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Handa mengungkapkan bahwa menggunakan aset sendiri pun juga ada cost-nya, sehingga penggunaan aset harus optimal. “Produktifitas yang dihasilkan dari penggunaan aset harus lebih tinggi dari cost yang timbul,” ujarnya.

Sebagai sesi penutup, Direktur Utama LMAN Rahayu Puspasari berkesempatan membagikan pengalamannya melakukan optimalisasi aset kelolaan LMAN. Wanita yang akrab disapa Puspa ini menyampaikan bahwa yang dilakukan LMAN saat pertama kali diberikan tugas untuk melakukan optimalisasi aset adalah mengubah cara pandang bahwa aset merupakan suatu opportunity. “Jika opportunity ini tidak dimanfaatkan maka bukan hanya opportunity-nya yang hilang, namun cost-nya bertambah,” ungkapnya.

Kemudian Puspa mengupas contoh – contoh bagaimana LMAN mengelola aset yang semula underutilize, memiliki masalah hukum, dikuasai pihak ketiga, dan tidak menarik bagi pasar bisa dioptimalkan menjadi aset yang optimal, free and clear dan menghasilkan penerimaan negara bukan pajak. “Menurut saya, yang dibutuhkan untuk mengelola aset adalah orang yang resilient (tahan banting), dan yang memiliki determinasi tinggi,” simpul Puspa. (Arum/Ajip Humas DJKN)

 

Foto Terkait Berita