Berita DJKN

Holding, Memperkuat Daya Saing BUMN

Selasa, 05 Desember 2017 pukul 17:36:21   |   767 kali

Jakarta – Kementerian Keuangan mendukung proses Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proses tersebut diharapkan mampu meningkatkan leverage kontribusi BUMN kepada Negara. Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Isa Rachmatarwata saat menjadi narasumber dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) pada Selasa (5/12) di Ruang Serbaguna Abdulgani, Gedung Depan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). “Kementerian Keuangan berharap 1 rupiah yang dibelanjakan oleh Negara mampu menghasilkan pendapatan 2 atau 3 rupiah. Semen Indonesia sebagai hasil holding BUMN telah membuktikannya,” ujarnya.

Isa menerangkan bahwa dengan dilakukannya holding BUMN, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat digunakan untuk kepentingan lainnya. “Banyak kepentingan sosial dan pembangunan yang memerlukan anggaran, yang secara komersial tidak mungkin dilakukan oleh Kementerian Keuangan,” tegasnya. “Kementerian Keuangan harus berpikir strategis untuk menyatukan kapasitas tanpa perlu mengeluarkan uang lagi melalui APBN. Uang APBN dapat dialokasikan untuk kegiatan lain yang lebih penting dalam pembangunan di daerah,” katanya lebih lanjut.

Isa menegaskan pemerintah tidak akan menjual induk usaha holding BUMN yang sudah terbentuk, salah satunya holding tambang. "Tidak kita jual (holding). Buktinya Semen Indonesia tidak dijual, tapi kita mau bangun lebih besar lagi," tegas pria kelahiran Jombang ini.

Diskusi ini turut menghadirkan dua narasumber, yaitu Staf Khusus Menteri BUMN, Wianda Pusponegoro dan Corporate Secretary PT Semen Indonesia, Agung Wiharto.

Dalam paparannya, Wianda Pusponegoro menyampaikan pembentukan holding BUMN mampu meningkatkan daya saing produk industri nasional. "Kita ingin membangun daya saing. Itu tidak mungkin dengan satu BUMN, tapi harus sinergi dengan beberapa BUMN lainnya," paparnya.

Selain itu, peran BUMN sebagai agen pembangunan nasional semakin ditegaskan.  Ia juga mengatakan bahwa BUMN tidak sekedar mencari keuntungan melainkan juga menciptakan nilai, yakni membangun kemandirian, membangun kesejahteraan, pembangunan berkelanjutan, pemerataan dan kesejahteraan. "Besar, kuat, dan lincah itu hanya kata sifat saja. Tujuan akhirnya adalah agar BUMN lebih mampu melayani masyarakat, karena BUMN pada dasarnya milik rakyat," tegasnya.

Sementara itu, Agung Wiharto membagi pengalamannya saat menangani PT Semen Indonesia sebagai BUMN yang pertama kali melakukan holding pada tahun 1994. Saat itu ada tiga BUMN yang bergabung dibawah PT Semen Indonesia, yaitu PT Semen Padang, PT Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa. “Dengan holding BUMN, PT Semen Indonesia telah menguasai pangsa pasar di Indonesia,” ujarnya.

Agung juga menuturkan persaingan Industri semen di Indonesia sangat kompetitif dengan adanya perusahaan internasional yang masuk ke Indonesia. Pada tahun 2005, peta Industri semen berubah drastis. Industri semen yang masuk ke Indonesia adalah pemain-pemain dunia, sehingga holding menjadi keharusan. Pasar domestik menjadi surplus supply karena banyak pemain baru masuk. Setelah holding, PT Semen Indonesia harus terus bergerak agar tidak terkejar oleh perusahaan semen asing yang masuk.  “Perusahaan nomor 1 dan 4 dunia sudah masuk ke Indonesia dengan berbagai program yang membuat harga semen lebih murah. Dengan posisi strategic holding BUMN saja Semen Indonesia sudah berat untuk bersaing apalagi kalau belum holding dan masih ’berjalan’ sendiri-sendiri,” pungkasnya. (Humas DJKN)


Foto Terkait Berita