Berita Media DJKN

Lintasan Penyangga Ibu Kota

Jum'at, 18 Agustus 2017 pukul 09:24:10   |   181 kali

Tepat sehari sebelum perayaan HUT Ke-72 RI, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan jalan layang non-tol Ciledug-Tendean atau koridor 13 Transjakarta. Seremonial tersebut digelar di Halte Cipulir, Jakarta Selatan, Rabu (16/8).

Sejatinya, lintasan ini sudah diuji coba dengan pengangkutan penumpang sejak Minggu (13/8). "Koridor 13, hadiah dari kami untuk warga, khususnya mereka masyarakat Kota Tangerang. Mereka ini yang setiap hari bolak-balik untuk mencari nafkah di Ibu Kota," ujar Djarot di Halte Cipulir, Rabu (16/8). Menurutnya, keberadaan koridor 13 dapat membantu mengatasi kemacetan yang sebelumnya terjadi di sepanjang jalan dari Ciputat menuju ke tengah kota. Sempitnya bidang jalan, padatnya kendaraan pribadi, dan tidak tersedianya transportasi massal membuat warga Ciputat harus berjibaku dengan kemacetan setiap hari. Bukan itu saja, Djarot mengatakan dengan beroperasinya koridor 13 otomatis berdampak pada efisiensi perekonomian.

Warga bisa hemat waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Cukup merogoh kocek Rp3.500 per perjalanan dari Halte Ciledug hingga Tendean, Jakarta Selatan.

Keberadaan jalan layang khusus Transjakarta tersebut diyakini berdampak positif bagi perbaikan kehidupan warga, khususnya yang tinggal di Ciledug dan sekitarnya.

Djarot bahkan sempat curhat tentang pengalamannya tinggal di kawasan tersebut.

"Saya dulu pernah tinggal di Ciledug, dekat Seskoal. Itu kalau mau ke sini (Pasar Cipulir). Horor sekali. Macet di mana-mana, sekarang Alhamdulillah," imbuhnya.

Walikota Tangerang Arief R. Wismansyah mengatakan seluruh warga Tangerang menyambut gembira layanan Transjakarta yang murah dan nyaman dari Tendean menuju Ciledug.

Pasalnya, sebelum jalan layang khusus Transjakarta tersebut beroperasi, warga harus berjibaku menerjang kemacetan untuk menuju ke tengah kota, khususnya di Jakarta Selatan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemprov DKI dan PT Transjakarta," katanya.

Meski demikian, Djarot tak menampik bahwa pengoperasian koridor 13 masih jauh dari sempurna.

Ini terjadi lantaran ada beberapa fasilitas yang belum terpasang. Sebut saja lift dan eskalator di beberapa halte.

Salah satunya halte CSW. Selain itu, sarana penerangan jalan juga belum selesai karena terkendala masalah pelelangan.

Meskipun belum sepenuhnya sempurna, koridor 13 sudah bisa digunakan sesuai rekomendasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pemprov DKI telah menggelontorkan dana public service obligation sebesar Rp3,2 triliun untuk PT Transjakarta. Dana ini digunakan untuk pembangunan sarana dan subsidi tarif bagi penumpang.

Dana PSO didapat dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DKI yang salah satu posnya berasal dari pajak yang dipungut ke masyarakat.

"Tarif tetap Rp3.500 per perjalanan. Dana PSO ini kan dari masyarakat, harus dikembalikan dalam bentuk subsidi. Yang penting kemacetan bisa terurai," ucapnya.

Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono mengatakan antusiasme warga, khususnya Tangerang, yang memanfaatkan koridor 13 sangat besar.

Sejak dioperasikan pada Minggu (13/8), setidaknya ada 10.000 penumpang yang menaiki bus Transjakarta koridor 13.

Rute Pilihan

Badan usaha milik daerah (BUMD) DKI tersebut membuka empat trayek atau rute yang dapat dipilih oleh penumpang sesuai dengan kebutuhan. Rute tersebut antara lain Ciledug--Tendean, Ciledug-Blok M, Ciledug Pancoran Barat, dan Ciledug-Bundaran HI.

"Trayek Ciledug-Bundaran Hl dibuka untuk para pekerja kantoran. Jika dulu waktu tempuh bisa 2 jam, sekarang bisa sampai hanya dalam 40 menit saja," katanya.

Selama masa uji coba, Budi menurunkan 16 bus single untuk melayani empat rute tersebut. Namun, PT Transjakarta telah menyiapkan setidaknya 100 unit bus untuk lalu-lalang di jalan layang itu.

Sementara itu, waktu tunggu dari satu bus ke bus lain (headway) akan berkurang seiring penambahan bus di koridor tersebut.

Lebih jauh, perekonomian di kawasan penyangga DKI diperkirakan akan semakin berkembang seiring dengan adanya pembangunan hunian berkonsep transit oriented development (TOD).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Hermanto Siregar mengatakan pembangunan hunian yang terintegrasi dengan moda transportasi massal akan menjadi gaya hidup baru bagi warga metropolitan atau kawasan satelit ibu kota.

"Dampak positif pengembangan hunian berkonsep TOD akan cukup besar karena transportasi masal nantinya akan menjadi andalan, sehingga secara perlahan mengubah pola berkendaraan," ujarnya pada Bisnis, Kamis (7/8).

(Miftahul Khoer)

Sumber : Bisnis Indonesia, 18 Agustus 2017
Tanggal diunggah : Jum'at, 18 Agustus 2017 pukul 09:24:10
Terakhir diedit : Jum'at, 18 Agustus 2017 pukul 09:25:25