Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Artikel DJKN

PENTINGNYA MANAJEMEN RISIKO REPUTASI GUNA MENDUKUNG KEBERHASILAN ORGANISASI

Minggu, 01 Desember 2019 pukul 17:20:05   |   1386 kali

Agus Budianta

Kepala Seksi Hukum, Kanwil DJKN Kalimantan Barat

Pelaksanaan Sea Games ke-30 yang digelar di Philipina saat ini menjadi sorotan publik karena penyelenggaraannya yang dianggap kurang baik dan bahkan sampai muncul tagar #SEAGames2019Fail dan menjadi trending topic di twitter. Berdasarkan berita yang dimuat di beberapa portal berita menyebutkan bahwa pelayanan yang diberikan tuan rumah telah mengecewakan tim yang akan berlaga di pertandingan olah raga tersebut seperti sulitnya memperoleh makanan halal, terkendalanya transportasi dan penginapan. Selain itu, beredar gambar yang memperlihatkan tempat konferensi pers pertandingan yang kurang layak untuk acara sekelas SEA Games.

Pemerintah Philipina dan PHISGOC (Philippine Southeast Asian Games Organizing Committee) selaku Panitia Penyelenggara SEA Games Filipina yang dipimpin oleh Alan Peter Cayetano telah banyak menuai kritik setelah dianggap gagal menjadi tuan rumah dari penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara. Presiden Philipina tidak senang dengan apa yang dia dengar tentang kekacauan di SEA Games 2019 terkait keluhan tentang keterlambatan, transportasi, check-in, makanan dan lain-lain. Hal ini bisa dipahami karena berkaitan dengan reputasi negara Philipina selaku penyelenggara telah dipertaruhkan. Dengan kekecewaan yang dialami oleh para atlet maupun pihak-pihak lain yang berkaitan telah meruntuhkan reputasi Philipina. Dampak positif yang seharusnya dapat diperoleh terutama sektor pariwisata dari penyelenggaraan Sea Games bagi Philipina tentu tidak akan maksimal dan kegagalan tersebut akan terus dikenang serta mempengaruhi kepercayaan kepada Philipina untuk dapat menyelenggarakan event-event besar yang melibatkan banyak negara.

Kita dapat mengambil hikmah dari kejadian perhelatan Sea Games 2019 tersebut terkait pentingnya membangun reputasi bagi suatu negara atau organisasi. Bersyukur Indonesia telah berhasil menyelenggarakan event yang besar yaitu Asian Games pada tahun 2018 dengan sukses dengan pertunjukan yang menghibur dan membawa nama harum serta dampak positif bagi Indonesia. Reputasi merupakan kesan yang timbul dari kenyataan berdasarkan informasi yang telah diperoleh dan kemungkinan perilakunya di masa depan. Kita menyadari bahwa butuh waktu lama untuk membangun reputasi baik.

Semua risiko adalah signifikan dalam menjalankan organisasi, tetapi kerusakan reputasi yang dihasilkan dapat menjadi lebih dahsyat, karena reputasi adalah salah satu aset terbesar perusahaan. Bahkan Warren Buffet menyatakan bahwa butuh 20 tahun membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya. Jika citra baik bisa didesain lebih instan, namun tidak dengan reputasi. Reputasi berkembang lebih lambat daripada membentuk citra. Risiko reputasi menjangkiti seluruh organisasi. Terlebih organisasi yang mengandalkan jaminan kepercayaan masyarakat/konsumen. Rontoknya reputasi dapat dipicu dari publikasi yang buruk tentang organisasi. Terlepas dari publikasi tersebut benar atau fitnah (hoaks), tapi itulah informasi yang membentuk persepsi dan kepercayaan stakeholders, khususnya masyarakat selaku konsumen.

Risiko reputasi tak cuma hadir mengikuti suatu kasus besar. Merosotnya reputasi bisa muncul dari kelemahan kecil, namun terjadi dalam jangka waktu lama. Berita negatif yang terus-menerus dan apabila tidak ditangani secara baik, bisa mempengaruhi pilihan masyarakat/konsumen. Risiko merupakan bagian penting dalam melakukan kegiatan, dan di dunia di mana sejumlah besar data sedang diproses dengan tingkat yang semakin cepat, mengidentifikasi dan memitigasi risiko merupakan tantangan bagi organisasi mana pun. Kita hidup di dunia yang selalu berubah di mana kita harus menghadapi ketidakpastian setiap hari. Tetapi bagaimana sebuah organisasi menangani ketidakpastian itu dapat menjadi penentu utama keberhasilannya.

Manajemen risiko merupakan keharusan. Mulai dari upaya pencegahan munculnya kerugian, hingga crisis management plans. Dampak massif reputasi terjadi ketika penanganan risiko dilakukan tanpa manajemen yang memadai. Menurut Regester Larkin, ketika terjadi ancaman terhadap reputasi, organisasi perlu melakukan “3C” yakni concern (mengakui dan menyesal atas kesalahan), commitment (komitmen untuk memperbaiki), dan control (kontrol agar tidak terjadi lagi).



Sebagai contoh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan juga menghadapi risiko reputasi terkait layanan lelang dimana seringkali muncul informasi lelang palsu yang mencatut nama-nama pejabat DJKN dengan menjanjikan dapat menjadi pemenang lelang. Masyarakat banyak yang telah menjadi korban penipuan lelang tersebut. Para penipu terkesan rapi dengan memalsukan surat dan aktif berkomunikasi dengan para korbannya. Di sisi lain masyarakat yang tergiur dengan harga barang yang murah dan adanya surat-surat lelang palsu tersebut mempercayai informasi tanpa melakukan korfirmasi lebih lanjut ke DJKN atau kantor vertikal di daerah.

Kejadian tersebut tentu akan berpengaruh pada reputasi DJKN dan bisa jadi pelaksanaan lelang yang benar-benar dilaksanakan oleh DJKN pun, masyakarat jadi ragu untuk mengikutinya. Kerusakan reputasi dan kejahatan dunia maya adalah bagian dari risiko yang harus dihadapi oleh seluruh organisasi baik swasta maupun pemerintah dari semua jenis dan ukuran di seluruh dunia dengan frekuensi yang semakin meningkat. Terkait kasus tersebut, DJKN telah bergerak cepat dengan melaporkan pelaku ke Mabes POLRI dan telah dilakukan penangkapan, namun bisa jadi masih terdapat pelaku lain yang belum tertangkap. Selain itu, DJKN juga melakukan perbaikan layanan lelang melalui e-auction. DJKN juga aktif menginformasikan dan mengedukasi masyarakat melalui berbagai media agar mengikuti lelang secara resmi dengan mengunduh aplikasi lelang indonesia yang ada di play store dan apabila merasa ada keraguan dapat berkonsultasi dengan kantor vertikal di daerah (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang). Organisasi yang lain pun tentu mengalami risiko reputasi ini terutama maraknya hoaks di media sosial.

Terkait reputasi juga ada contoh menarik yang disampaikan oleh Ignatius Jonan pada saat membuka seminar dan pameran Hari Listrik ke-74 (HLN) di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta dan meminta agar PLN menjaga reputasi dengan baik dan tidak lagi terjadi pemadaman massal alias blackout. Beliau menceritakan pengalaman di Italia yang menemukan sebuah restoran yang betul-betul menjaga reputasinya. Pada saat rekannya yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Swiss pingsan saat sedang makan di restoran tersebut dan harus dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulan, seluruh biaya ambulan yang mencapai 10 ribu euro ditanggung oleh pihak restoran. Beliau heran dan bertanya pada manajer restoran tersebut kenapa biaya tersebut menjadi tanggung jawab restoran. Dan disampaikan oleh manajer restoran bahwa Ini adalah soal reputasi rumah makan saya. Kalau ada orang yang sampai mengalami luka atau mengalami sakit bahkan sampai kolaps di rumah makan ini, nanti kalau tidak ditolong, maka reputasi restoran menjadi kurang baik. Kemudian, Beliau bertanya kembali, apakah restoran tidak rugi karena jumlah tagihan ambulan jauh lebih besar dibanding tagihan makannya. Manajer restoran menyampaikan bahwa restoran tersebut dikelola dari hari ke hari tak semata hanya memikirkan keuntungan tapi juga reputasi dan restoran tersebut telah berumur 120 tahun. Banyak hal yang dapat kita ambil dari cerita tersebut dan salah satunya apabila ingin organisasi kita bertahan lama serta dipercaya oleh masyarakat maka jaga reputasinya.

Manajemen risiko termasuk risiko reputasi merupakan bagian dari tata kelola (governance) dan harus terintegrasi di dalam proses organisasi. Manajemen Risiko - ISO 31000: 2018 memberikan panduan yang jelas, singkat dan ringkas yang akan membantu organisasi menggunakan prinsip manajemen risiko untuk meningkatkan perencanaan dan membuat keputusan yang lebih baik. Beberapa poin penting dalam penerapan manajemen risiko - ISO 31000: 2018, yakni 1. prinsip “manajemen risiko menciptakan dan melindungi nilai” menjadi hakekat tujuan dari penerapan manajemen risiko. Dimana penciptaan dan perlindungan terhadap nilai organisasi menjadi maksud dari keseluruhan penerapan manajemen risiko di lingkungan organisasi; 2. penerapan manajemen risiko dimulai dan menjadi bagian dari tata kelola organisasi. Praktik manajemen risiko harus diintegrasikan dengan proses-proses organisasi. Keberadaan kerangka kerja manajemen risiko ditujukan agar organisasi dapat melaksanakan integrasi tersebut; Keterlibatan manajemen puncak dalam penerapan manajemen risiko memainkan peran yang sangat penting dan menentukan keberhasilan penerapan manajemen risiko organisasi; 3. Keberhasilan penerapan manajemen risiko membutuhkan keterlibatan dari semua pihak dalam organisasi. Masing-masing pihak bertanggungjawab sesuai peran, kewenangan, dan tugas di dalam organisasi; 4. Adanya aktivitas dokumentasi dan pelaporan.

Kepemimpinan dan komitmen dari manajemen puncak, serta keterlibatan aktif dari semua anggota organisasi sangat diperlukan dalam penerapan manajemen risiko. Terlepas dari apapun jenis kegiatan yang dijalankan oleh organisasi, manajemen risiko reputasi sangat penting. Ada beberapa langkah kunci dalam mencegah dan merespon risiko reputasi menurut Rebecca Webb yaitu 1.jadikan risiko reputasi sebagai bagian dari strategi dan perencanaan. Hal ini penting agar organisasi dapat mengenali dampak yang dapat ditimbulkan oleh reputasi terhadap keberhasilan tujuan organisasi; 2. proses kontrol/monitor, pengawasan dan pengendalian akan mengurangi kemungkinan yang lebih parah dari kerusakan reputasi; 3. memahami semua tindakan dapat mempengaruhi persepsi masyarakat. Setiap bagian dari organisasi harus menyadari pentingnya manajemen risiko reputasi sehingga dapat mempromosikan pesan positif kepada para pemangku kepentingan; 4. memahami harapan pemangku kepentingan. Ketika organisasi memahami harapan pemangku kepentingan akan jauh lebih mudah untuk memenuhi harapannya. Dan hal yang penting jangan memberikan ekspektasi terlalu tinggi atas layanan dan tidak dapat ditindaklanjuti oleh organisasi; 5.fokus pada citra dan komunikasi yang positif; 6. membuat respon dan rencana darurat. Organisasi harus siap merespon secara cepat dan tepat atas menurunnya reputasi. Setiap menit yang berlalu bisa menjadi sangat penting dan akan mengurangi rasa hormat masyarakat terhadap organisasi beserta seluruh bagian yang ada termasuk pimpinannya. Reputasi merupakan konsep yang tidak berwujud namun merupakan aset strategis dan berdampak besar bagi keberhasilan organisasi.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |