Bekerja Harus Itqon dan Ihsan


Diunggah oleh : Tajudin Tanggal : 29 Juli 2013 Update : 29 Juli 2013, jam 09:33
Bekerja Harus Itqon dan Ihsan

Jakarta - Suara marawis yang diiringi oleh sholawat untuk Nabi Muhammad Ahallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mendayu-dayu membuka acara buka bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) pada Selasa, 23 Juli 2013 di Aula DJKN lantai 5 Gedung Syafrudin Prawiranegara II Jakarta. Acara yang dihadiri oleh pejabat dan pegawai DJKN dan mengambil tema “Melalui spirit Ramadhan, kita tingkatkan profesionalisme dan soliditas insan DJKN“ ini merupakan acara yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya, sehingga sudah ada tujuh kali acara serupa diselenggarakan sejak DJKN berdiri pada tahun 2006.

Sekretaris DJKN Agus Rijanto Sedjati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai yang harus dikembangkan untuk mengembangkan profesionalisme adalah itqon (professional) sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW  “Sesungguhnya Allah mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka Ia itqon (professional) dalam pekerjaannya.” (HR Baihaqi). “Nilai ihsan (baik-red) juga harus diterapkan dalam bekerja agar profesional,” ujarnya.

Agus juga memberi nasihat agar dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan kali ini selalu menaati seluruh syarat dan rukunnya agar puasa yang dijalankan tidak sia-sia sebagaimana sabda Nabi SAW “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)

“Satu-satunya hasil dari ibadah kita kepada Allah adalah takwa dan takwa tidak cukup hanya “eling”, takwa harus diikuti dengan ibadah secara totalitas,” ujar Ustad Bali Pranowo membuka tausiyahnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: ”Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kami berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah ayat 183) dan “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” (Al Baqarah ayat 208).

Bali Pranowo menerangkan bahwa menurut Ali bin Abi Tholib terdapat empat hal yang harus mengikuti takwa yaitu takut kepada Allah, beramal harus sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah (Al Quran dan Al Hadist), ridho atas apa yang diberikan oleh Allah dan mempersiapkan diri atas kematian. “Orang yang bertaqwa pasti takut kepada Allah dan selalu merasa di awasi oleh Allah (muraqabah) dan muraqabah ini adalah ihsan,” tegasnya.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu berkata: “Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah SAW. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam. Rasulullah SAW menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” Lelaki itu berkata, ”Shodaqta (engkau benar-red),” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Shodaqta” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya. ”Dia pun bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi”. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim]

Bali Pranowo menjelaskan bahwa untuk bekerja secara professional ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yang pertama niat harus ikhlas. Bekerja profesional harus dengan niat ikhlas dengan niat yang benar akan menumbuhkan kekuatan motivasi yang luar biasa dalam diri kita sendiri. Ikhlas ini merupakan pemenuhan segala perjanjian yang telah dibuat dalam pekerjaan tersebut, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 1 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”.

Syarat yang kedua, lanjutnya, bekerja harus rapi dan taat aturan. Bali memberikan contoh mengenai hal ini dengan cerita Salman Al Farisi ketika bertanya dan mengusulkan rencana sebelum perang kondaq dan cerita Harun Ar Rasyid yang menegur seorang khotib yang menjelek-jelekan dirinya di atas mimbar, sedangkan Allah menyuruh Nabi Musa memberi nasehat dengan bahasa yang halus kepada Fir’aun. Sesuai dengan firman Allah “Pergilah kalian berdua Fir’aun sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka katakanlah oleh kalian berdua dengan perkataan yang lemah-lembut agar dia ingat atau takut” (An-Nahl:43-44).

“Jadi Siapapun bisa menasehati orang lain dengan bagus, jadi jangan sekali-kali menggunakan bahasa kasar, Insya Allah negara ini akan lebih bagus dengan hal itu,” tegasnya. Syarat yang ketiga adalah penyelesaian akhir yang terbaik. Umat islam banyak yang tidak bisa melakukan penyelesaian akhir dengan baik. Untuk itu pria kelahiran Cirebon ini menyarankan agar dalam bekerja harus diselesaikan dengan baik. (Johan-Humas DJKN)

Foto-foto terkait kilasperistiwa :

0 Tanggapan Pembaca

Ketentuan Penulisan :

Pembaca diizinkan untuk menulis tanggapan terhadap kilasperistiwa ini. Isi tanggapan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis tanggapan.
Redaksi akan menimbang (memoderasi) setiap tanggapan yang masuk dan dapat memutuskan untuk menayangkan atau menghapus tanggapan tersebut.
Redaksi berwenang untuk memberi peringatan dan atau mencekal pembaca yang menuliskan tanggapan yang tidak etis, berisi fitnah dan menyinggung SARA.

  • Media Sosial Kami :