INVENTARISASI DAN PENILAIAN ASET KKKS

Upaya Penuntasan Tindak Lanjut Temuan BPK


Diunggah oleh : Hendra Gunawan Tanggal : 30 Juli 2016 Update : 2 Agustus 2016, pukul 17:35 Dibaca : 1.118 kali
Upaya Penuntasan Tindak Lanjut Temuan BPK

Pekanbaru – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Riau, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau (Kanwil DJKN RSK) T. Agus Priyo Waluyo menugaskan Tim Penilai yang diketuai oleh Alexander Ginting untuk menuntaskan temuan BPK pada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Energi Mega Persada (EMP) Malacca Strait S.A. berupa 127 bidang tanah di Pulau Pedang, Pulau Tebing Tebingtinggi dan Pulau Bengkalis yang belum tercatat nilai wajarnya.

Tim Penilai Kanwil DJKN RSK dan Tim Inventarisasi yang terdiri dari Direktorat Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-Lain (PNKNL), Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara (PPBMN) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berangkat menuju lokasi dengan didampingi pihak EMP Malacca Strait S.A., Ahmad Suhartono (14/07).

Inventarisasi dan Penilaian (IP) dilakukan oleh tim selama kurang lebih sepuluh hari dengan diawali verifikasi dokumen dan surat legalitas. Berdasarkan hasil verifikasi, terdapat beberapa tanah yang tidak lengkap dokumen legalitasnya. Sebagian bidang tanah juga diklaim sebagai aset Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan status Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).

Berdasarkan dokumen legalitas, tim juga menemukan kenaikan harga perolehan tanah yang sangat signifikan dimana pada tahun 1987 harga perolehan Rp 2.000,-/m2 sedangkan pada tahun 2010 harga perolehannya mencapai Rp 90.000,-/m2. Selain karena faktor lokasi, menurut Ahmad kenaikan harga tersebut disebabkan karena meningkatnya pembelian lahan penduduk untuk dijadikan rumah burung walet.

Dalam proses IP, selain menggunakan transportasi darat, tim juga menggunakan speedboat untuk mencapai objek tanah yang tersebar di beberapa pulau. Namun beberapa objek penilaian tidak dapat dijumpai karena akses yang tidak dapat ditempuh lagi. Jalan yang awalnya dirintis menuju lokasi tanah sudah tertutup oleh lumpur dan rumput tinggi karena tidak pernah digunakan lagi. Menurut Ahmad, jalan menuju lokasi tanah dapat dirintis kembali. Namun karena kurangnya koordinasi dan keterbatasan waktu, hal tersebut tidak dapat dilakukan. (Hendra Gunawan – KIHI)

Foto-foto terkait berita :

  • Media Sosial Kami :