PENILAIAN BMN LAPAS KELAS II A NARKOTIKA NUSAKAMBANGAN

Rasa Takut pun Berganti Rasa Bangga


Diunggah oleh : Eny Susanti Tanggal : 15 Agustus 2016 Update : 16 Agustus 2016, pukul 18:03 Dibaca : 1.406 kali
Rasa Takut pun Berganti Rasa Bangga

Purwokerto - Pada Selasa, 09 Agustus 2016, tim penilai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Purwokerto yang diketuai Rino Priyanto, Kepala Seksi Pelayanan Penilaian disertai Eny Susanti, Kepala Seksi Kepatuhan Internal berangkat menuju Nusakambangan guna melakukan penilaian ulang gedung dan bangunan yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Nusakambangan untuk kepentingan penertiban Barang Milik Negara (BMN). Permohonan penilaian diajukan oleh Kepala Lapas Narkotika. 

Awalnya, nyali para penilai ciut saat menginjakkan kaki di Nusakambangan. Terlebih kegiatan tersebut berlangsung tak lama setelah pelaksanaan eksekusi mati jilid III yang menyita perhatian masyarakat pada 29 Juli 2016 lalu. Salah satu tereksekusi adalah Fredy Budiman terpidana mati kasus narkoba, bayangan menyeramkan penghuni Lapas yang rata-rata pelaku kejahatan tingkat tinggi pun muncul.

Rino Priyanto, terus memotivasi seluruh anggota tim penilai yang berjumlah 4 orang dibantu 6 orang mahasiswa/mahasiswi Politeknik Keuangan Negara (PKN STAN) yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan agar penilaian berlangsung efektif dan selesai tepat waktu. Kehadiran mahasiswa/mahasiswi PKN STAN sangat membantu tugas penilaian. Sebaliknya, dengan praktik penilaian mereka diperkenalkan dengan sebagian tugas dan fungsi DJKN.  

Sebelum melaksanakan penilaian, tim berkumpul di ruang rapat untuk berkoordinasi dengan petugas Lapas. Tim penilai dibagi menjadi 3 kelompok dengan pendamping petugas dari Lapas. Pendamping tim penilai yaitu Tri Eko Wahyu Adi yang mendampingi kelompok A melaksanakan penilaian di sayap kanan, Adnan Adhy Kurniawan mendampingi kelompok B di sayap kiri dan Kartiwa mendampingi kelompok C di bagian depan.

Sungguh pengalaman yang sangat berharga. Masuk ke lembaga pemasyarakatan yang terkenal paling menyeramkan di Indonesia. Untuk diketahui, perjalanan dimulai dari dermaga Wijaya Pura Cilacap menuju daratan Nusakambangan yang ditempuh selama 10 menit dengan menggunakan perahu. Dilanjutkan perjalanan darat dengan bus translapas selama 20 menit sampailah di gerbang Lapas.

Tim Penilai tetap menjalani prosedur kunjungan, antara lain pemeriksaan barang yang dibawa. Barang yang diijinkan masuk adalah peralatan tulis serta peralatan penilaian. Kepala Lapas Heni Yuwono mewanti-wanti tim untuk tidak mengambil gambar di luar obyek penilaian.

Begitu masuk Lapas, suasana langsung hening. Tidak ada sepatah kata yang keluar. Terlihat warga binaan - sebutan untuk penghuni Lapas - hilir mudik menatap aktivitas yang dilakukan tim penilai. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas ada suasana yang sangat berbeda saat berada di dalam Lapas dengan super maximum security tersebut. Namun dengan tekad dan semangat membara, rasa takut pun perlahan sirna digantikan rasa bangga berkesempatan melakukan penilaian aset yang tidak biasa.

Akhirnya penilaian dapat diselesaikan dengan baik. Tim Penilai pun segera pamit undur diri membawa pengalaman dan sebuah kebanggaan. Bangga menjadi bagian dari DJKN, pengelola aset yang sangat beragam dan tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Kepala Lapas berharap laporan penilaian ulang tersebut dapat segera selesai sehingga masalah  pencatatan nilai aset Lapas dapat segera teratasi demi pengelolaan BMN yang lebih baik. (Teks/berita: Eny Susanti, Foto: Bayu, Mora, Dito).

Foto-foto terkait berita :

  • Media Sosial Kami :