Thinking Out of The Box, Execute Inside The Box! Beberapa Tips Kreatitf Ala Yoris Sebastian


Diunggah oleh : I Wayan Dipayana Ekantara Tanggal : 4 Oktober 2016 Update : 12 Oktober 2016, jam 19:32 Dibaca : 1.476 kali

Oleh :

Wayan Dipayana

Jakarta—Selasa (26/07/2016), CTO (Central Transformation Office) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yakni sebuah unit dibawah Sekretariat Jenderal Kemenkeu yang bertugas mengawal jalannya Program Transformasi Kelembagaan (TK) di Kemenkeu, kembali me-recharge energi dan semangat para Duta Transformasi yang tersebar di semua unit Eselon I Kemenkeu dengan Workshop sehari penuh. 

Seperti biasa, Workshop TK diisi dengan berbagai materi menarik diantaranya: Berbagi kisah-kisah inovatif beberapa pegawai Kemenkeu, cara pembuatan Story Board sebuah Film Pendek dan tentang Kreativitas. Dalam hal Kreativitas, CTO menghadirkan salah seorang tokoh Kreativitas Nasional yang sudah memenangkan berbagai Lomba Kreativitas baik dalam maupun luar negeri, Yoris Sebastian.

Yoris Sebastian, pria kelahiran Ujung Pandang ini mendapat julukan Tokoh Kreatif Nasional setelah menang lomba kreatif di London. Pengusaha muda yang suka minum air putih ini pernah terpilih menjadi GM (General Manager) Hard Rock Cafe Indonesia, GM termuda se-Asia dan termuda kedua di Dunia.  Ia akhirnya mendirikan perusahaan konsultan kreatif OMG (Oh My Goodness) pada usia 34 tahun, selepas keluar dari Hard Rock Café.

Start Small
Yoris, yang juga mendapat julukan Creative Junkies ini,  menunjukkan konsistensinya dalam membuat ide-ide kreatif yang tidak biasa yang dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai berpikir Out of the Box. Menurutnya, ide kreatif akan segera berkembang bila dimulai dengan hal yang kecil (start small).

Start Small artinya Belajar Kreatif tidak harus langsung melakukan hal-hal yang besar dan rumit. Mulailah dari hal-hal yang kecil seperti mengubah kebiasaan memakai jam tangan, misalnya Anda terbiasa memakai jam tangan di tangan kanan, sesekali bisa mengubah (melakukan hal kreatif) dengan cara mengganti kebiasaan memakai jam tangan dari tangan kanan ke tangan kiri. Pada kesempatan lain, Yoris juga mencontoh cara dasar sederhana belajar Kreatif yakni dengan berangkat lebih awal ke kantor dan melewati berbagai rute baru, yang tidak biasa dilewati.

Yoris Sebastian semakin memberikan motivasi kepada para Duta bahwa Kreativitas itu bisa dipelajari dan dilatih. Pria yang telah menerbitkan beberapa buku Kreatif ini mengaku memiliki IQ yang tidak begitu tinggi dan memiliki  masa kecil yang sangat tidak kreatif.  Dibandingkan dengan kakaknya yang memiliki IQ 150, Yoris tidak merasa begitu cerdas, dan ia juga tidak merasa begitu seni atau kreatif seperti adiknya yang sudah terbiasa membuat lukisan kreatif ditembok sejak kecil. Waktu kecil ia juga seorang anak yang penakut dan cengeng, kreativitasnya mulai muncul dan terasah ketika duduk dibangku SMA.

Kreativitas dapat dipelajari dan dilatih.
Maka itu ia mengatakan kreatifitas itu bisa dipelajari, bisa diasah, bisa dilatih. Itu adalah pengalaman Yoris  sendiri, ia mulai belajar kreatif sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas. Selain ikut berbagai kegiatan dan latihan kreatif di sekolah, Yoris juga banyak belajar dan terpengaruh oleh “Majalah Hai” dimana dia sering nongkrong, ikut berkontribusi dan bergaul dengan orang-orang kreatif sekelas Arswendo Atmowiloto.

Jangan Takut Salah
Segala pengalaman dan latihan kreatifnya ia ceritakan dalam buku pertamanya yang berjudul Creative Junkies. Judul buku tersebut sengaja dibuat ‘salah’ biar beda (kreatif). Sebenarnya Bahasa inggrisnya yang tepat adalah Creative Junky. Akhirnya banyak pihak meniru ‘kesalahan” (baca ide kreatif) Yoris ini, dimana sekarang banyak muncul “Travel Junkies” dan beberapa “Junkies” lainnya. Maka itu sebaiknya kita jangan takut berbuat salah, karena dari kesalahanlah kita akan belajar. Ada dugaan sekolah-sekolah kita berpotensi untuk mematikan kreativitas siswa-siswinya, karena di sekolah lebih sering diajarkan “mengejar nilai” saja ketimbang mendorong siswa mengembangkan kreativitas, yang sering membuat  mereka menjadi  takut salah.

Dengan Kreatifitas kita bisa memengaruhi orang lain
Orang Kreatif itu dapat memengaruhi orang lain. Orang yang kreatif itu bisa memaksa orang-orang secara sukarela untuk melakukan hal-hal yang baik/diinginkan. Dia mencontohkan lewat video yang ia putar, dimana dalam kondisi umum, untuk naik tingkat suatu gedunh, orang-orang biasanya lebih memilih tangga elevator ketimbang tangga biasa. Akhirnya Dalam video tersebut dibuat sesuatu yang kreatif dengan cara mempermak sedemikian rupa sehingga "aank tangga biasa" tadi menjadi sebuah button piano besar, ketika orang naik dan menginjakkan kakinya dalam tangga tersebut akan menimbulkan bunyi-bunyian, maka suara yang ditimbulkan dengan menginjak anak tangga membuat orang untuk tertarik menaiki anak tangga itu ketimbang naik elevator. Ini yang disebut kreativitas bisa memaksa (memengaruhi) orang mengikuti keinginan sang kreator.

Kembali seperti anak Kecil
Untuk bisa tidak takut salah kita harus bisa belajar "Kembali Menjadi Anak Kecil" yang sederhana dan polos. Yoris dan banyak ahli mengamati sistem pendidikan kita masih secara sistemik, membuat siswa terdidik untuk “mengejar nilai seratus.” Dan sering mengabaikan proses Kreativitas dan hal itu sering membuat siswa takut untuk berbuat salah, sementara solusi dan kreativitas bisa  muncul dari masalah. Hampir di banyak Negara masih seperti itu, dimana pendidik kurang memperhatikan , minat, bakat dan kemampuan murid, "kecuali Finlandia yang sistem pendidikannya sudah banyak  mendukung Kreativitas," ujar Yoris.

Challenge The Norms: Don’t Break the Rule but Challenge the norms
Kemudian Yoris mengajarkan kita untuk menantang Norma yang ada, bukan menentang atau melanggar Peraturan yang ada. Yoris mewanti-wanti agar PNS Kemenkeu untuk tidak melanggar segala peraturan dalam Kemenkeu maupun Peraturan di Negara sebagai dalih yang namanya saja Kreatif karena banyak ada buku kreatif yang menyarankan kepada pembaca untuk “melanggar aturan” untuk bisa menjadi Kreatif. Jika kita melanggar aturan maka kita akan masuk penjara, “If You Break the Rule you’ll go to the jail,” tegasnya. Challange the Norms juga dapat diartikan melakukan ssesuatu yang tidak normal (namun tetap tidak melanggar aturan yang ada) seperti yang ia contohkan berfoto dengan Zebra yang bulunya tidak ada. Atau Contoh dimana Yoris membangun Hotel yang berbeda daripada umumnya di Bali, yakni Hotel Khusus Meeting. Challenge The Norms: Normalnya hotel seperti ini belum ada di Bali. maka itu ia punya ide membuat Proyek hotel yang kreatif ini dan ternyata diminati. "Hati-hati membaca buku kreatif. Jangan break the rule," tegas Yoris.

Jangan pernah melewatkan Affordable Innovation
Lakukanlah inovasi-inovasi yang dapat dijangkau dan dilaksanakan, meskipun kelihtannya “tidak laku” tetap coba. “Saya tidak akan pernah melewatkan affortable innovation yang ada di depan mata saya, sepanjang resikonya hanya masalah uang. Kreativitas itu Simple, contohnya Solusi Jepretan strepless (di kanan bawah suatu berkas) di Bank Mandiri berhasil menjadi pemenang Mandiri Innovation Award. Jadi Kreativitas itu tidak selalu memerlukan uang yang banyak, hanya perlu sedikit pemikiran Out of the Box, sebuah pemikitan yang ‘melenceng’ dari sesuatu yang lazim. Jepretan strepless selama ini lazimnya berada di kiri atas, dan ternyata itu menjadi suatu masalah di Bank Mandiri, yang sering membuat rusak printer teller, akhirnya kreatifitas simple ini diterapkan di berbagai cabang Bank Mandiri dan berhasil menghemat uang jutaan rupiah.

Gunakan kedua otak, baik otak kiri maupun otak kanan.
Latihan mewarnai. Latihan mewarnai dapat melatih otak kanan untuk lebih aktif, yang nantinya akan mendorong kreativitas seseorang. Maka meskipun sudah dewasa akan sangat bagus latihan mewarnai untuk melatih otak kanan. Namun Yoris mewanti-wanti agar kita seimbang, tidak hanya mengandalkan otak kanan, otak kiri juga sangat kita perlukan dalam membuat suatu usaha atau project.

Demikianlah Yoris Sebastian memberikan semangat dan motivasi kepada seratus lebih para Duta Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan. Ia mengajak kita berkaca pada Negara tetangga kita, Singapura; yang mana pulau mungilnya merupakan bekas rawa-rawa dan tidak Sumber Daya apa-apa, namun tetap bisa berkembang dengan memaksimalkan Kreativitas Sumber Daya Manusia. “Bayangkan kalau kita, bangsa Indonesia, yang kaya akan sumber daya dan memiliki kreatifitas, betapa hebatnya jadinya Negeri kita ini.” Demikian suntikan Pamungkas Yoris Sebastian menutup presentasinya yang sangat menarik. So kesimpulannya, mari kita Thingking out of the Box ‘Berpikir diluar kotak DJKN’, namun Execute Inside the Box ‘Terapkan Inovasi Kreatif itu di dalam kotak DJKN

  • Media Sosial Kami :