Refleksi Satu Dasawarsa DJKN: Sebuah Catatan Ringan


Diunggah oleh : Cepi Kurniadi Tanggal : 9 November 2016 Update : 9 November 2016, jam 16:54 Dibaca : 1.131 kali

Oleh Cepi Kurniadi

KPKNL Jambi

Di sebuah kelas kuliah yang pernah penulis ikuti, sang dosen berujar: “Jangan berkecil hati jika Anda merasa bahwa saat ini Anda berada di posisi yang kurang membahagiakan, kurang membanggakan, atau kurang penting. Pastikan Anda seperti baut roda di sebuah mobil. Tanpa Anda, sopir manapun tidak akan pernah berani mengendarai mobil itu!”.

Sepuluh tahun yang lalu, DJKN tidak begitu “dilirik” orang. Bahkan karena begitu sulitnya memperkenalkan organisasi baru kepada pihak lain, ketika ada orang bertanya: “Kerja dimana?”, penulis tidak jarang menjawab: “Kementerian Keuangan”. Mungkin beberapa dari Anda melakukan hal serupa, walaupun sebenarnya jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, ketika rekan-rekan di Eselon I Kementerian Keuangan lainnya dengan bangganya menyebutkan identitas kantor, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama? Terkadang kita lupa, masing-masing kita berperan sebagai public relation bagi organisasi kita. Kita adalah representasi dari organisasi kita.

Bisa jadi, sikap inferior tersebut sebetulnya timbul karena kita belum memahami peran strategis DJKN bagi bangsa ini. Kita belum memahami betapa besarnya peran sebagai pengelola kekayaan negara, peran di bidang pengurusan piutang negara, peran di bidang pelayanan penilaian aset BMN/D, ataupun peran di bidang pelayanan lelang? Hal ini seyogyanya harus disadari sebagai sebuah tantangan dan peluang bagi insan DJKN. Tantangan dan peluang untuk meningkatkan kompetensi, tantangan dan peluang untuk meningkatkan kepuasan pemangku kepentingan, dan tentu saja tantangan dan peluang untuk meningkatkan kontribusi bagi bangsa ini.

Jika kita mau sedikit meluangkan waktu mengikuti perjalanan satu dasawarsa DJKN, dalam periode sepuluh tahun ini, ternyata telah banyak sekali pencapaian yang sudah diraih. Mulai dari tugas Inventarisasi dan Penilaian BMN yang sangat berat namun dapat kita selesaikan dengan baik (2007-2008). Hingga saat ini, tugas besar sebagai Revenue Center untuk memperkuat APBN menanti di depan mata. Dalam sepuluh tahun pengabdian, kontribusi DJKN bagi perekomian bangsa sungguh nyata adanya.

Dengan melihat pencapaian itu, sangatlah tidak beralasan jika sikap inferior masih kita munculkan. Cara yang paling jitu untuk menghilangkan sikap inferior yaitu dengan mempelajari hal baru dan meningkatkan kompetensi, tidak hanya di bidang tugas kita sekarang, tetapi juga di seluruh bidang tugas DJKN secara keseluruhan. Dengan demikian, diharapkan kita akan mampu menjelaskan peran strategis seluruh bidang tugas kita kepada masyarakat dan melayani kebutuhan mereka dengan baik.
Penulis teringat dengan sebuah perbincangan yang penulis lakukan dengan rekan penulis yang bekerja di salah satu BUMN. Dia berkata, dulu ketika BUMN tempat dia bekerja masih berbentuk “Perusahaan Umum (Perum)”, yang dibicarakan pegawai kebanyakan tentang “uang, uang, dan uang”. Namun setelah terjadi perubahan organisasi dan manajemen, yang dibicarakan pegawai yaitu: “target, target, dan target”. Hal ini menjadi bukti, bahwa transformasi kelembagaan yang baik akan mampu mengubah mindset pegawai untuk meningkatkan kontribusinya bagi organisasi.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai insan DJKN untuk mengisi sepuluh tahun berikutnya? Pertama, menanamkan semangat dalam diri untuk meningkatkan kompetensi dan mempelajari hal-hal baru yang belum kita pahami di bidang tugas Keuangan Negara pada umumnya. Hal ini sangat penting untuk meyakinkan dan mendapatkan pengakuan masyarakat bahwa kita adalah abdi negara yang profesional dan dapat diandalkan dalam melayani kebutuhan mereka selaku pemangku kepentingan. Kedua, tetap menjaga integritas. Hal ini sangat penting karena kepercayaan masyarakat sangatlah sulit untuk diperoleh jika kita tidak serius dalam mengusahakannya. Sekali kita mencederai integritas, akan sangat sulit mengembalikan kepercayaan masyarakat. Terakhir, ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan penting yang dapat memperkenalkan peran DJKN bagi pembangunan kepada masyarakat luas.

Sebagai penutup tulisan ini, izinkan penulis menyampaikan peristiwa berkesan yang penulis pernah alami. Dalam sebuah sesi diklat yang pernah penulis ikuti, penyelenggara diklat menghadirkan seorang motivator untuk menutup diklat yang kami ikuti. Cahaya ruangan kelas sengaja diredupkan. Layar digital projector di depan ruangan menampilkan logo yang akrab bagi peserta diklat, Logo Kementerian Keuangan. Dengan uraian yang cukup membuat seluruh peserta diklat terharu, sang motivator mencoba mengingatkan kembali bahwa betapa organisasi tempat kita bekerja ini telah memberi banyak arti bagi kehidupan kami. Pada saat itu, dengan hanya memandang logo tersebut, di benak penulis tergambar seluruh perjalanan karier penulis di kementerian ini beserta kehidupan pribadi yang menyertainya. Betapa bahagianya orang tua karena anaknya bekerja di kementerian ini. Betapa bangganya istri dan anak-anak karena kami bekerja di kementerian tercinta ini. Betapa kita dapat membahagiakan orang-orang tercinta kita setelah kita mengabdi di kementerian ini.

Tiba-tiba gambar tadi dihilangkan, berganti dengan pertanyaan menusuk dari sang motivator: “Jika organisasi ini sudah memberikan banyak hal yang berarti di kehidupan Anda, sebagai gantinya, apakah Anda sudah memberikan kontribusi optimal sesuai tuntutan organisasi? Pertanyaan sang motivator tampak sederhana namun berdampak besar, setidaknya bagi penulis pribadi. Tanpa sadar, kita sering melupakan satu hal, bahwa organisasi membutuhkan kontribusi optimal dari seluruh anggotanya. Kontribusi optimal dalam mengawal visi dan misi organisasi. Kontribusi optimal dalam menerapkan nilai-nilai kementerian keuangan dalam bekerja. Kontribusi optimal dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi organisasi. Tidak lupa, kontribusi optimal dalam melayani dengan baik kebutuhan pemangku kepentingan pada umumnya. Semoga kita dapat mewujudkannya.  

Dirgahayu Satu Dasawarsa. Jayalah selalu DJKN-ku!

  • Media Sosial Kami :