Penilai Haruslah Pendaki


Diunggah oleh : Ali Ridho Tanggal : 1 Juni 2016 Update : 1 Juni 2016, jam 08:36 Dibaca : 1.581 kali

Penilai Haruslah Pendaki

Beberapa pekan yang lalu dalam rangka melaksanakan surat tugas Kepala KPKNL Pekanbaru, saya dan tim melakukan penilaian terhadap berpuluh-puluh kendaraan bermotor milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuantan Singingi, salah satu Kabupaten di wilayah kerja KPKNL Pekanbaru.  Dalam perjalanannya terjadi interaksi informal antara penilai KPKNL dengan tim internal Pemkab Kuantan Singingi. Berondongan pertanyaan pun terlontar enteng dari teman-teman Pemkab Singingi. Dari yang berkaitan dengan tugas dan fungsi KPKNL hingga yang bersifat personal. Pertanyaan di luar konteks penilaian pun tidak sedikit yang dilontarkan dan harus dijawab semaksimal mungkin.

Pengguna jasa penilaian sangat beragam, sehingga senyatanya penilai berkesempatan berjumpa dengan banyak kalangan. Itu berarti ada kesempatan untuk digunakan sebagai upaya KPKNL meningkatan citra dan melakukan branding. Saat melaksanakan tugas, penilai akan sekaligus menjadi duta KPKNL. Untuk itu penilai harus memahami seluruh tusi organisasi untuk mendukung hal tersebut diatas.

Lalu, bagaimanakah citra dan branding tersebut dapat direalisasikan. Mudah saja, saat Penilai memahami seluruh tusi organisasi, mengikuti perkembangan terkait teknis pekerjaan, update terhadap isu-isu strategis organisasi dan mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas setiap pertanyaan yang dari pengguna jasa tentang KPKNL maupun DJKN, maka di titik tersebut branding mulai tercipta.

Sebagai jabatan yang akan segera difungsionalkan, seorang penilai  dituntut terus menerus meningkatkan kapasitasnya. Ini merupakan salah satu kompetensi wajib yang harus dimiliki, yaitu continuous improvement. Mengapa harus terus menerus? Karena ibarat teori evolusi, hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan  lingkungan sekitarlah yang akan bertahan. Secara struktural pun pada Standar Kompetensi Jabatan untuk seorang Kepala Seksi Pelayanan Penilaian di KPKNL, penguasaan terhadap kompetensi continuous improvement dituntut lebih dibandingkan jabatan eselon  IV lainnya. Jadi sudah menjadi keniscayaan seorang penilai  haruslah  mereka yang selalu meningkatkan kapasitas.

Secara teoritis setiap orang memiliki keinginan untuk bisa meningkatkan kapasitas dan mengembangkan kemampuan, karena dengan hal tersebutlah eksistensinya sebagai pribadi akan diakui sekitar. Namun seberapa besar keinginan tersebut dapat diwujudkan? Tingkatannya akan berbeda-beda, karena kebutuhannya berbeda, motifnya berbeda dan karakter setiap pribadi juga berbeda. Dr. Paul Stoltz dari hasil penelilitian longitudinalnya memperkenalkan istilah Adversity Quotient (AQ), yaitu the capacity of the person  to deal with the advertisities of his life. As such it is the science of human resilience. Pada konsep ini dikenalkan 3 tipe individu, yaitu: Quitters, Campers, dan Climbers. Dengan menganalogikan perjalanan manusia ibarat seorang pendaki gunung, tiga tipe/jenis individu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Seorang Quitters adalah mereka yang ingin menuju puncak gunung namun telah merasa lelah duluan.  Kelompok yang kurang memiliki kemauan  untuk menerima tantangan dalam hidupnya, menganggap gunung dengan seluruh misterinya akan memberikan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dihadapi. Sehingga akhirnya kelompok ini akan cenderung pasif, menolak tantangan dan secara tidak langsung telah menutup segala peluang dan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana dengan Campers? Campers memiliki kemauan untuk menuju puncak gunung, Mereka menerima tantangan dan berusaha menghadapinya. Pendakian menuju puncakpun mulai dilakukan. Namun pada titik dimana pendakian menemukan lahan hijau yang datar, dengan pemandangan yang indah, Campers memutuskan berkemah. Berhenti untuk menikmati keindahan yag ada. Merasa nyaman dan akhirnya memutuskan tantangan menuju puncak tidak perlu lagi dilakukan. Cukup sampai disini saja. Toh pengalaman menghadapi halangan dan rintangan juga sudah dimiliki, dan itu sudah cukup.

Hal ini tidak dilakukan oleh tipe ketiga,  Climbers. Kelompok ini adalah para penakluk puncak gunung. Mereka adalah pribadi yang memilih terus mendaki dan berjuang menghadapi berbagai tantangan dalam pendakian tersebut. Terhadap masalah, hambatan, halangan, dan rintangan semua dijadikan kesempatan untuk terusu meningkatkan kemampuan, sehingga pendakian mencapai puncaknya. Lalu apakah setelah menaklukan puncak climbers berhenti? Dengan kapasitasnya pendaki akan menantang dirinya sendiri  untuk menaklukkan puncak-puncak yang lain, sehingga ia terus menerus meningkatkan kapasitasnya.

            Pada tiga kategori tersebut, maka penilai haruslah seorang pendaki.  Ulet, terus belajar, siap menerima tantangan dan perubahan, dan selalu menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas terbaik. Kondisi ini secara tidak langsung telah diciptakan pada sistem kerja para penilai DJKN.  Aturan-aturan teknis yang terus menerus disempurnakan secara tidak langsung memaksa penilai untuk meningkatkan kapasitas. Proses Quality Assurance yang semakin rigid mendorong penilai untuk jadi pendaki agar memperoleh pengakuan profesional. Pelaksanaan peer review dan kaji ulang merupakan sistem yang memberikan “kaca” bagi penilai untuk mematut diri, apakah sudah menjadi lebih baik, lebih mengerti dan lebih paham, atau stag pada kesalahan yang sama -angka kaji ulangnya 2 melulu- dan belum bergerak memperbaiki diri.

            Seorang penilai haruslah pendaki. Kompetensi continuous improvement-nya harus tinggi dan menonjol. Dan untuk menjadi pendaki yang baik, seorang penilai dapat membekali dirinya dengan  semangat yang tidak mudah menyerah, menganggap kegagalan sebagai hal yang biasa, yang akan membuka peluang untuk kesuksesan lain, mengembangkan ekspektasi yang realistis, memfokuskan perhatian pada kekuatan positif yang dimiliki, serta mengembangkan sudut pandang yang beragam.  Penilai haruslah pendaki, dan pada ranah ini dedikasi terhadap tugas menjadi mutlak; Komitmen, kecintaan, passion dan ambisi memberikan hasil terbaik, menjadi keseharian dalam melaksanakan tugas. Penilai juga harus memiliki determinasi, bekerja keras, pantang menyerah, berkeyakinan dan berkemauan untuk mencapai tujuan. Penilai juga harus different, berbeda, pada tataran ini penilai haruslah kreatif dan inovatif, mampu menemukan jalan keluar yang cepat dan tepat terhadap halangan dan rintangan yang dihadapi. Sebagai ujung tombak dalam proses optimalisasi pengelolaan kekayaan negara, dan penyaji kepastian nilai kekayaan negara, pendakian para penilai masih sangat panjang. Harus selalu bergerak, karena penilai adalah pendaki, para penakluk puncak.

 

Maulina Fahmilita, M.Si., Psikolog; Kasi Pelayanan Penilaian KPKNL Pekanbaru

Bahan bacaan:

Stolz, Paul G. 2000. Adversity Qoutient: Turning Obstacles into Opportunities,Grasindo; Terjemahan T. Hermaya.

  • Media Sosial Kami :