PENGEMBANGAN APLIKASI LELANG INTERNET YANG IDEAL MENUJU “SALES MEANS AUCTION”


Diunggah oleh : Cepi Kurniadi Tanggal : 19 Oktober 2015 Update : 29 Oktober 2015, jam 14:17 Dibaca : 2.538 kali

PENGEMBANGAN APLIKASI LELANG INTERNET YANG IDEAL
MENUJU “SALES MEANS AUCTION” *)

Oleh: Cepi Kurniadi

       Di Indonesia, lelang telah melalui sejarah panjang sejak Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan Vendu Reglement atau Peraturan Lelang (Staatsblad 1908 No.189 dan Vendu Instructie (Instruksi Lelang Staatsblad 1908 No. 190) yang beberapa ketentuannya hingga sekarang masih berlaku. Dalam perkembangannya, sampai saat ini lelang telah memiliki fungsi publik dan fungsi privat. Fungsi publik direfleksikan pada saat lelang dipergunakan untuk melaksanakan penjualan barang dalam rangka penegakan hukum (pelaksanaan putusan/penetapan pengadilan dan pelaksanaan ketentuan perundang-undangan) dan pengelolaan barang milik negara/daerah, terutama pada saat pemindahtanganan dengan cara penjualan. Sementara itu, fungsi privat direfleksikan pada saat lelang dipergunakan oleh perorangan atau badan hukum swasta untuk menjual barang-barang milik pribadi. Melalui fungsi privat ini, lelang diharapkan memiliki peran strategis dalam memperlancar arus lalu lintas perdagangan barang dan menggerakkan uang dalam transaksi ekonomi.

        Di beberapa negara, lelang sudah menjadi sarana perekonomian yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari (sales means auction). Contohnya, seperti penjualan bunga tulip di Aalsmeer (Belanda), penjualan tembakau di Bremen (Jerman), sistem pemasaran wool di Melbourne (Australia), atau penjualan barang melalui balai lelang Christie’s (Amerika Serikat) dan Sotheby (Inggris). Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia sendiri, kata “lelang” masih sering diidentikkan dengan “lelang pegadaian” yang merupakan penjualan barang bergerak oleh institusi pegadaian dan “lelang tender” yang merupakan bagian dalam mekanisme pengadaan/pembelian barang/jasa dalam rangka pelaksanaan APBN. Hal ini menyebabkan kondisi ‘sales means auction’ belum sepenuhnya dapat dicapai. Padahal, metode penjualan secara lelang memiliki berbagai kelebihan, antara lain: cepat, efisien, transparan, kompetitif, dan dapat mewujudkan harga yang optimal [1].

       Peluncuran aplikasi lelang internet (e-Auction) yang digagas oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) - Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 7 November 2014 [2], dirasakan sebagai suatu langkah yang tepat dalam mengakomodasi perkembangan bisnis dan pemasaran di era digital. Di sisi lain, Indonesia juga sudah cukup siap mengakomodasi kemajuan era internet dan mengaplikasikannya dalam dunia perdagangan melalui mekanisme e-commerce dan e-Auction. We Are Social, sebuah agensi media sosial yang bermarkas di Singapura pada bulan Januari 2015 merilis laporan berjudul “Digital, Social, & Mobile in 2015” [3]. Berdasarkan hasil penelitian mereka, pengguna internet aktif di Indonesia mencapai jumlah 72,7 juta jiwa dari total populasi 255,5 juta jiwa atau sekitar 28%. Padahal pada tahun 2014, We Are Social mencatat pengguna internet aktif di Indonesia baru sebanyak 38,19 juta jiwa atau sekitar 15% dari total populasi (251,16 juta jiwa).

       Hal ini menjadikan Indonesia selain sebagai negara dengan pasar e-commerce yang sangat besar, juga memiliki potensi pertumbuhan e-commerce yang tinggi. We Are Social menambahkan, pencarian produk online via personal computer di Indonesia sebanyak 18% dari total populasi (45.9 juta jiwa), dengan transaksi pembelian sebanyak 16% dari total populasi (40,8 juta jiwa). Sedangkan, pencarian produk online via smartphone sebanyak 11% dari total populasi (28,05 juta jiwa), dengan transaksi pembelian sebanyak 9% dari total populasi (22,95 juta jiwa). Hal ini tentu saja memberikan peluang bagi e-Auction untuk berperan lebih besar lagi dalam meramaikan dunia e-commerce di Indonesia sehinggga ‘sales means auction’ dapat segera terwujud.

       e-Auction merupakan salah satu mekanisme transaksi e-commerce yang memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan mekanisme biasa. Dalam Journal of Consumer Psychology sebagaimana dikutip oleh Manan [4], karakteristik tersebut yaitu: Pertama, e-auction menghilangkan batasan geografis lelang tradisional, sehingga memungkinkan orang dari seluruh dunia berpartisipasi dalam pelaksanaan lelang. Kedua, dari segi durasi, e-auction dapat berlangsung selama beberapa hari (biasanya seminggu) yang memberikan baik penjual dan penawar lebih fleksibel. Ketiga, biaya operasional jauh lebih rendah dibandingkan lelang tradisional, membebankan biaya komisi yang lebih rendah, dan menarik lebih banyak penjual dan pembeli.

       Dalam dunia akademis, telah banyak dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu website, khususnya website yang khusus bergerak dalam dunia e-commerce. Ribbink, et. al (2004) mengungkapkan [5], tolok ukur keberhasilan suatu website ditentukan melalui lima dimensi kualitas layanan website (e-quality) yaitu: (1) ease of use (kemudahan dalam penggunaan); (2) website design (desain website); (3) customization (kustomisasi); (4) responsiveness (daya tanggap);dan (5) assurance (jaminan/kepastian).

       Sementara itu, Kasim, et. al (2010) menambahkan [6], kualitas layanan yang baik akan meningkatkan kepercayaan pelanggan online (e-trust) dan kepuasan pelanggan online (e-satisfaction). Pada akhirnya, setelah e-trust dan e-satisfaction diraih, kesetiaan pelanggan online (e-loyalty) juga akan diraih. Menurut hemat penulis, E-loyalty inilah yang menjadi pintu gerbang menuju terwujudnya “sales means auction” yang sesungguhnya. Pelanggan yang setia akan membeli lebih banyak dan lebih sering. Selain itu, mereka akan merekomendasikan pengalaman bertransaksi melalui mekanisme e-auction kepada pembeli potensial lainnya.

       Lalu, apa yang perlu dilakukan agar cita-cita tersebut dapat tercapai? Penulis menyarankan: Pertama, pemerintah perlu melakukan kerjasama dengan perusahaan yang kompeten di bidang e-Auction dan e-commerce semisal e-bay atau amazon. Kedua, perlu dibentuk unit baru yang khusus menangani e-auction agar lebih fokus dan terarah. Ketiga, perlu dukungan dana yang memadai.

       Pengalaman bertahun-tahun e-bay, Amazon atau perusahaan e-commerce lainnya dalam bidang e-auction akan memberikan masukan yang sangat berharga bagi perkembangan dan pertumbuhan e-auction di Indonesia, termasuk dalam hal penguatan infrastruktur jaringan dan pengembangan aplikasi lelang internet yang ideal.  Aplikasi lelang internet yang saat ini sedang digunakan perlu dievaluasi dari berbagai sisi.  Apakah aplikasi saat ini mudah digunakan? Apakah desain website sudah menarik minat konsumen untuk membeli? Apakah aplikasi telah sesuai dengan kebutuhan konsumen? Atau apakah dari sisi keamanan aplikasi saat ini telah memenuhi unsur-unsur privacy dan security? Apakah infrastruktur jaringan saat ini sudah cukup menampung lalu lintas data dan bahkan mengantisipasi kemungkinan lonjakan lalu lintas data sampai beberapa tahun kemudian? Diperlukan pendapat ahli yang kompeten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Untuk itulah kemitraan pemerintah dengan e-bay, Amazon,  atau perusahaan e-commerce lainnya diperlukan.

       Unit baru di bidang e-auction yang perlu dibentuk pemerintah dapat berupa Eselon III dibawah Direktorat Lelang DJKN, Badan Layanan Umum (BLU), atau bahkan dapat berupa BUMN. Unit inilah yang nantinya bertanggung jawab dalam mengelola proses manajemen mulai dari perencanaan sampai evaluasi, termasuk dalam mengembangkan dan mengelola aplikasi lelang internet, memelihara dan mengembangkan sarana dan prasarana jaringan, dan seyogyanya dapat diperkuat oleh sumber daya manusia yang kompeten. Menurut hemat penulis, semakin tinggi tingkat independensi unit baru tersebut, semakin besar pula potensi keberhasilannya. Sebagai contoh, sebuah perguruan tinggi yang berbentuk BLU akan lebih fleksibel dalam mengelola dana demi peningkatan kualitas proses belajar-mengajar. Contoh lain, ketika Pegadaian berubah status dari Perum menjadi Persero, berbagai perbaikan manajemen telah banyak dilakukan. 

       Pada akhirnya, seluruh rencana dimaksud memerlukan pendanaan yang memadai. Dalam hal ini, pemerintah perlu meyakinkan DPR bahwa e-auction harus mendapat perhatian yang lebih besar, terutama dari sisi pendanaan. Potensi penerimaan negara bukan pajak di bidang e-auction sangatlah besar. Sebagai bahan perbandingan, pada tahun 2014 e-bay telah membukukan laba bersih sebesar US$ 46 juta [7]. Sebuah angka yang fantastis bagi sebuah perusahaan e-commerce. Penulis optimis, jika pemerintah serius menggarap pasar e-auction, bukan tidak mungkin hal ini justru mampu mendongkrak perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. 

REFERENSI

[1]  Majalah Media Kekayaan Negara Edisi No. 06 Tahun II/2011, Halaman 5-6
[2] https://www.djkn.kemenkeu.go.id/siaranpers/dowload/32,  diakses pada tanggal 14 September 2015, pukul 21:30 WIB
[3] http://wearesocial.net/blog/2015/03/digital-social-mobile-apac-2015/, diakses pada tanggal 14 September 2015, pukul 21:15 WIB
[4] Manan, Abdul, ‘Eksekusi dan Lelang dalam Hukum Acara Perdata’, Makalah Hakim Agung dalam Rakernas 2011, Jakarta 18 September 2011, hlm 12
[5]  Ribbink, D., van Riel, A.C.R., Liljander, V. and Streukens, S. (2004), ‘‘Comfort your onlinecustomer: quality, trust, and loyalty on the internet’’, Managing Service Quality, Vol. 14No. 6, pp. 446-56.
[6]  Kassim N dan Abdullah NA (2010), “The effect of perceived service quality dimensions on customer satisfaction, trust, and loyalty in e-commerce settings: a cross-cultural analysis”. Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics 22(3): 351–371.
[7] https://en.wikipedia.org/wiki/EBay, diakses pada tanggal 14 September 2015, pukul 21:00

*) Tulisan ini meraih Juara II Lomba Esai KENAN (Kompetisi Esai Nasional Aset Negara) Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PPLN STAN  (https://pplnstan.com/info/?id=8)

  • Media Sosial Kami :