Menjemput Kearifan Lokal


Diunggah oleh : Bend Abidin Santosa Tanggal : 6 September 2015 Update : 10 September 2015, jam 10:55 Dibaca : 1.828 kali

Tidak ada sejarah dan kecenderungan yang berulang sama persis,  satu satunya yang tetap adalah perubahan, di luar perubahan hanya ada perubahan, apabila kita tidak berubah maka perubahan akan menghempas kita ke pinggiran sejarah maka kenyataan ini menggiring kepada kita bahwa diri kita harus turut berubah apabila kita ingin tetap eksis dan survive. Belakangan, perubahan itu bergerak dengan kecepatan jauh yang kita harap dan kita duga.

Dalam paradigma seperti ini, tentunya tidak masuk akal sama sekali kalau sebuah organisasi masih terninabobokan oleh comfortable zone of mind. Maka Direktorat Jenderal Kekayaan Negara sebagai sebuah organisasi dalam melakukan perubahan adalah sebuah keniscayaan dan mutasi pegawai – selebihnya saya sebut perubahan - sebagai salah satu instrumen perubahan, adalah upaya untuk menjawab dinamika organisasi apapun bentuk dan situasinya.

Namun keniscayaan itu tidak serta merta diterima sebagai  kecenderungan positif bagi sebagaian orang untuk menghadapi tantangan-tantangan baru di dalam organisasi, sekaligus meningkatkan kompetensi baru dalam rangka melakukan hal-hal positif, inovatif dan kreatif. Bahkan upaya memegang alternative untuk tidak berubah dan terus mendekam pada  wilayah berpikir yang tanpa penyangkalan serta terus menggauli zona nyamannya tetap dengan kukuh dilakukan. Memang mengubah mind set memiliki derajat kesulitan lebih tinggi dibandingkan mengubah budaya birokrasi dan etos kerja serta variable perubahan lainya. Baik karena faktor keberhasilan, kenyamanan, pengalaman, budaya atau sebab lainya . Dan alasan inilah yang dikedepankan untuk bersikap resistensi terhadap adanya mutasi yang nota bene merupakan perubahan itu sendiri.   Belum lagi sindrom  jatlag yang akan mereka hadapi nantinya,  semacam mengalami perubahan transisi cepat antara zona interaksi yang berbeda  yang terjadi atau alasan-alasan klasik lainnya seperti sekolah anak, tempat kerja isteri dan lainya.

PINTU INSPIRASI

Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan,  memang ada harga yang harus kita bayar untuk sekedar memaksakan diri atau menerima perubahan.  Tidak sedikit energi dan waktu harus kita sisihkan supaya kita tidak terpinggirkan oleh sejarah. Anda boleh saja memiliki cara berbeda dalam menolak atau menerima perubahan. Dalam kesempatan ini ijinkan saya membuka pintu inspirasi buat anda. Dan anda bisa memilih untuk mengikutinya atau melupakannya.

Pertama, mengenal orang lain adalah kecerdasan dan mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati, begitu orang arif bertutur. Sebagai pendatang baru dalam sebuah komunitas, tata karma yang harus kita kedepankan adalah menjemput kearifan lokal. Sebagai kekayaan budaya lokal yang mengakomodasi kebijakan hidup, etika dan nilai moral, kearifan lokal juga bermakna etos kerja, keseimbangan dan keharmonisan.     Kecerdasan kita terbuka disaat bagaimana kita melihat, menilai dan bertindak tidak hanya atas nama sendiri melainkan juga atas nama komunitas dan budaya dimana anda berada. Berikutnya disaat kualitas relasi dengan orang lain dan lingkungan meningkat maka anda sudah bias merangkai sekaligus mengelola perbedaan bahkan anda sudah menjemput karifan lokal dan pada giliranya hal ini akan menjadi kekuatan tersendiri dalam meningkatkat sosialisasi dan beraktualisasi.

Kedua,  lebih penting menjadi orang yang tepat dari pada mencari orang yang tepat, dan menjadi harmonis dengan diri sendiri sebelum mencoba harmonis dengan orang lain. Lingkungan kerja adalah sebuah mekanisme umpan balik biologis yang memberitahukan siapa diri anda melalui kreasi dan cara tanggap anda   terhadap lingkungan sekitar, maka maksimalkan. Menjadi orang yang tepat adalah tumbuh selaras dengan ukuran niat baru, di lingkungan yang baru  sehingga dapat menarik orang yang memiliki getaran yang sama. Cara anda memperlakukan diri sendiri adalah contoh bagi dunia tentang cara dunia harus memperlakukan anda. Jika anda tidak memperlakukan anda dengan baik, orang lain juga tidak akan memperlakukan anda dengan baik.

Ketiga,  Lakukan sesuatu, maka anda akan mendapatkan energi untuk melakukan sesuatu, logika ini jangan dibalik. Yang paling mudah untuk memulainya adalah Optimis.  Optimisme adalah sesuatu yang dapat dipelajari. Sikap optimisme adalah selalu bicara apa yang ada, bukan apa yang tidak ada. Sedangkan Pesimisme berbicara tentang apa yang bukan dan apa yang tidak ada.   Bahkan ahli dibidangnya mayimpulkan, para optimis berkinerja sepuluh kali lebih baik dari pada para pesimisme. Maka Lakukanlah sikap Optimisme,  kalau anda sudah melakukan dan sampai saat ini anda belum melihat bukti fisiknya, adalah karena anda berpikir, merasa dan bertindak sebaliknya bahkan pada situasi ini, jarak terpenting yang harus anda tempuh adalah perasaan.

Keempat ,  Ada salah satu sumber yang tidak bisa keliru untuk dimintai pendapat dia adalah intuisi anda, logika berpikir anda adalah bagian dari akal sadar sekaligus intelektual anda sedangkan intuisi adalah diri anda yang lebih tinggi. Maka  pertajam intuisi anda, karena dia adalah penglihatan kedua anda. Hal ini bisa dijelaskan bahwa intiusi adalah perbedaan melihat dengan mata dan melihat melalui mata. Melihat dengan mata adalah sebuah tindakan psikologis. Namun ketika anda melihat melalui mata anda,  anda mengembangkan visi internal yang bisa menciptakan realitas eksternal yang anda inginkan. Ketika anda sudah berdamai dengan intiusi anda dan anda sudah mampu mengikutinya maka anda punya kekuatan untuk mendengar intuisi anda. Dan apapun yang harus anda lakukan, lakukanlah dengan cepat, jangan tunda sampai esok, apa yang harus anda lakukan hari ini, perjelas niat dan arahnya dan bergeraklah dengan berani dan nasib pasti berpihak pada anda.

MENDAKI PIRAMIDA MASLOW

Tidak hanya tindakan, pendalaman refleksi juga dibutuhkan untuk mencapai titik pencerahan diatas sehingga sikap bijak untuk menerima perubahan dapat memihak kita namun kalau orang yang percaya bahwa mengakui kekurangan dan tantangan adalah sumber kekuatan, maka tidak perlu membalik atau mengubah, karena yang dibutuhkan hanya menggeser mind set bahwa perubahan adalah keniscayaan.

Ada garis tipis antara bersyukur untuk apa yang anda miliki sekarang dengan menginginkan dan membutuhkan lebih banyak . Garis itu berada di diri  dan ego kita masing-masing. Sebagai Administratur Sipil Negara, seharusnya kita bisa bersyukur karena masih diuntungkan oleh biaya dan kompensasi yang kita terima saat  menerima penugasan baru,  kalau dalam teori motivasi tentang kebutuhan, kebutuhan dasar kita (Physiological needs dan Safety need) sudah terpenuhi tinggal  kita beranjak mengejar kebutuhan akan sosilisasi (Social needs),  kemudian kebutuhan akan kepercayaan diri (Esteem needs). Lalu dipuncak kebutuhan, kita butuh aktualisasi diri untuk mencapai potensi yang maksimal dengan begitu kita pun bisa dengan mudah mendaki Piramida Maslow. Pada titik inilah kita bisa mengatakan       “ Kita tidak bisa memandang apakah sebuah jabatan atau posisi itu menarik atau tidak menarik. Hanya kita sendiri yang dapat membuat jabatan dan posisi itu menjadi menarik” . ( Penulis: Mohammad Chifni/ KI Kanwil Banda Aceh ).

  • Media Sosial Kami :