Ketika Ayah Harus Pergi


Diunggah oleh : Maulina Fahmilita Tanggal : 13 Januari 2016 Update : 14 Januari 2016, jam 12:28 Dibaca : 1.463 kali

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan sebuah pilihan yang pasti dibuat dengan sadar oleh para calon pegawai, karena PNS memiliki kekhasan dalam pelaksanaan tugasnya. Apalagi PNS di lingkungan Kementerian Keuangan yang ditempatkan di DJKN. Kalimat pernyataan yang ditulis saat diterima sebagai CPNS ‘Siap ditempatkan diseluruh Indonesia’, cepat atau lambat akan terealisasi.

Sebagai PNS baik dengan jabatan atau tanpa jabatan, penempatan bergilir mulai dari wilayah I s.d. IV pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan yang memang harus dilewati. Menikmati kehidupan tenang bersama keluarga sewaktu-waktu dapat berubah dengan keharusan untuk  melihat keindahan bumi nusantara lainnya. Pada titik ini keputusan besar harus dibuat, berangkat bersama seluruh anggota keluarga, atau hanya berangkat sendiri.

Cukup banyak PNS di DJKN dan unit eselon I lainnya di Kemenkeu yang akhirnya mengambil keputusan untuk menetapkan home based. Meninggalkan istri dan anak pada satu kota tertentu dan menunaikan tugas pengabdian dari satu kota ke kota lain sampai pada titik dimana anugrah untuk berkumpul kembali diperoleh. Keputusan menjalani kehidupan terpisah pastinya bukanlah keputusan yang mudah. Berbagai pemikiran mendasarinya; terkait pendidikan anak, kenyamanan anak dengan perubahan lingkungan dan bahkan penolakan anak untuk berpindah-pindah. Ada resiko dalam setiap keputusan, pun begitu ketika ayah harus pergi.

Sebagai kepala rumah tangga, suami/ayah memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan istri/ibu dalam konteks pengasuhan. Apalagi untuk generasi Z (kelahiran mulai tahun 2000 an), peran ayah dalam pengasuhan menjadi lebih signifikan. Lamb et all (dalam Cabrera et all., 1999) mengemukakan model yang elaboratif dimana dimensi-dimensi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dibagi pada 3 hal, yaitu:
a) Paternal Engagement: merupakan keterlibatan ayah dalam berinteraksi langsung dan melakukan aktivitas bersama anak
b) Paternal Accessibility: merupakan kehadiran dan kesediaan ayah untuk ada bagi anak
c) Paternal Resposibility: merupakan bentuk tanggungjawab dalam hal pemahaman dan pemenuhan kebutuhan anak, baik kebutuhan fisik s.d. merencanakan masa depan anak,

Jika diperhatikan dari dimensi tersebut, pada saat ayah menjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang harus mencari nafkah dan harus terpisah dari keluarga dapat dikatakan ayah hanya optimal dalam menjalankan dimensi Paternal Responsibility nya. Ayah mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan fisik anak, bahkan dapat menyediakan dana yang lebih dari cukup terkait dengan rencana masa depan anak. Pada sisi lain ayah kehilangan waktu untuk terlibat dan berinteraksi langsung dalam aktivitas anak, ayah juga tidak ada secara fisik pada saat sosoknya dibutuhkan. Lalu berdampakkah itu pada anak? 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, dari hasil studi yang sangat panjang yang dilakukan oleh cukup banyak psikolog, Lamb (1981) membuat rangkuman tentang dampak pengasuhan ayah pada perkembangan anak, yaitu:

a) Perkembangan Jenis Kelamin
Anak laki-laki yang berinteraksi aktif dengan ayah pada masa kanak-kanak akan mengembangkan kecenderungan mengidentifikasi jenis kelamin pada ayah. Ayah yang hangat dan terlibat dalam pengasuhan, akan memiliki anak laki-laki yang maskulin dan anak perempuan yang feminin.

b) Perkembangan Moral

Ayah yang selalu mendampingi dan secara aktif terlibat dalam pengasuhan akan membantu perkembangan altruisme dan kedermawanan.

c) Perkembangan Intelektual dan Motif berprestasi
Terdapat kaitan yang kuat antara hubungan ayah dan anak dengan kinerja akademik anak. Hubungan ayah dan anak yang harmonis akan membangkitkan motivasi anak untuk berprestasi
d) Perkembangan Kompetensi sosial dan penyesuaian psikologis

Orang dewasa yang memiliki penyesuaian diri yang bagus, kemampuan bersosialisasi yang baik bahkan kemampuan menjalin persahabatan dan mempertahankan pernikahan merupakan dampak dari hubungan yang hangat dengan ayah pada masa kanak-kanaknya.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan ketika ayah harus pergi, banyak ketertinggalan yang harus dikejar saat ayah bisa kembali berkumpul bersama anak. Bila ketertinggalan tersebut tidak bisa diantisipasi tentunya dampak positif hadirnya ayah dalam pengasuhan akan berubah menjadi daftar perilaku menyimpang anak karena tidak memiliki sosok panutan pada masa perkembangannya, utamanya dari kanak-kanak hingga remaja. Karena Ayah tetaplah ayah dan ia tidak bisa digantikan oleh supermom sekalipun. Kebermaknaan peran ini yang harus disadari oleh para ayah, sehingga berbagai trend perilaku menyimpang baik dalam bentuk agresivitas atau yang lebih ekstrim rancunya identitas diri dapat diminimalisir.

Lalu apa yang harus dilakukan ayah, ketika kewajiban menuntut ayah harus pergi.

Disaat anak masih kanak-kanak dan belum memasuki sekolah, komunikasi jarak jauh yang dijalin sebaiknya dilengkapi dengan gambar dan tidak hanya suara. Manfaatkan perkembangan teknologi. Bicaralah pada anak pada waktu yang teratur sehingga kegiatan tersebut menjadi moment yang ditunggu oleh anak. Untuk ayah yang kurang ekspresif perlu latihan dulu sehingga anak bisa merasakan kehangatan kasih sayang walau hanya lewat suara dan gambar. Hal yang dibicarakan kemungkinan akan lebih banyak didominasi oleh ayah dan dijawab oleh ibu, namun pastikan anak terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ketika waktu bisa bertemu, sebaiknya ayah hadir dengan simbol yang dapat diingat anak. Apakah baju yang sama saat berkomunikasi jarak jauh, topi ataupun atribut lain yang bisa dikenali anak, sehingga saat ayah muncul dihadapan anak, ia bisa mengenalinya dengan mudah.

Saat anak sudah memasuki masa sekolah namun belum sampai pada usia remaja, ayah merupakan figur yang cukup kuat untuk mendorong prestasi dan membuka pikiran tentang dunia luar. Jalin komunikasi aktif dan dua arah, tetap dengan jadwal teratur dan sesekali memberi kejutan. Jika terbiasa dengan pertanyaan “bagaimana kabar hari ini” barangkali sekali-kali dapat menggunakan bahasa ibu dengan pertanyaan “bagaimana perasaanmu hari ini” saat melihat anak yang tidak begitu bersemangat atau sedang sakit. Buat janji untuk melakukan aktivitas bersama saat ayah bisa pulang dan berkumpul bersama anak. Namun pastikan sebelum berjanji bahwa aktivitas itu memang bisa dilakukan.

Saat berkumpul dengan anak, ayah bisa menunaikan janji aktivitas, atau melaksanakan aktivitas lain  yang diinginkan anak, atau menawarkan aktivitas yang belum direncanakan. Dalam hal anak hanya laki-laki ayah juga dapat merancang aktivitas yang fokus dilakukan oleh anak laki-laki dan ayahnya, namun jika ada anak laki-laki dan perempuan ayah harus merancang aktivitas dimana  kedua anak tersebut terlibat. Piknik, bersepeda, berenang ataupun aktivitas lain yang sangat beragam.

Lalu bagaimana dengan anak remaja, yang cenderung mulai menciptakan dunia sendiri, yang seolah menjauh baik dari ayah maupun ibunya. Saat berpisah komunikasi yang dijalin akan cenderung kaku dan barangkali sangat pendek karena anak cenderung membatasi diri.Lebih ekstrim bisa saja seperti interogasi, satu pertanyaan dijawab dengan satu kata saja, atau bila beruntung satu kalimat pendek.  Pada periode ini ayah harus melepas seluruh superioritas. Mulai menjalin pertemanan dan tentunya komunikasi juga komunikasi pertemanan. Perlakukan anak layaknya memerlakukan teman, jadikan anak sebagai lawan berdiskusi, tempat bertanya dan bila perlu tempat curhatnya ayah. Pada saat kepercayaan telah didapat, ayah harus mampu memegang kendali komunikasi pertemanan tersebut.

Komunikasi yang terjadwal sudah tidak perlu lagi, dan dapat dibuat komitmen bisa dihubungi dan menghubungi kapan saja. Buat rencana bersama, dan realisasikan saat ayah bisa berkumpul dengan keluarga. Penuhi semua janji dan jadikan pertemuan secara fisik untuk meningkatkan kualitas komunikasi. Mulai bicarakan tentang masa depan, dan dalam pembicaraan angkat topik-topik yang dianggap penting oleh anak, hargai pendapatnya dan dorong anak untuk menceritakan pemikiran-pemikarannya.

Hal terpenting saat ayah harus pergi adalah meyiapkan mental istri. Memastikan istri tidak resah dan gelisah, mendorong istri untuk bersikap mandiri dan mengembangkan kemampuan mengayomi yang lebih besar untuk seluruh anggota keluarga. Terpisah dari pasangan bukan hal yang mudah. Ketergantungan yang telah tercipta, ketenangan hati karena ada pasangan tempat bersandar serta keyakinan bertindak karena selalu mendapat dukungan sikap akan goyah. Ayah sebagai pasangan perlu menguatkan hal ini. Mengingatkan istri akan dobel peran yang harus dilakukan saat secara fisik ayah tidak ada.

Menjadi pribadi yang lebih rasional saat menghadapi anak-anak, tidak mudah panik apalagi marah saat mengalami benturan baik dengan anak ataupun urusan lain. Ayah harus menjalin komunikasi yang intens, meluaskan hati dan melebarkan telinga. Mengembangkan sikap empati yang lebih dalam dan menunjukan ekspresi peduli dengan lebih baik. Dan saat ayah bisa berkumpul dengan istri luangkan lagi waktu untuk pasangan melepaskan seluruh sesak yang telah ditahankan. Jadilah rasional sehingga tidak muncul kalimat menyalahkan atas apa yang telah istri lakukan.
Ketika ayah harus pergi, niatkan untuk beribadah.

(Maulina Fahmilita, M.Si., Psikolog/ Kepala Seksi Pelayanan Penilaian KPKNL Pekanbaru)
Sumber Bacaan:
1. Cabrera,N.J., Tamis-LeMonda,C.S., Lamb.M.E., dan Boller, K (1999) Measuring Father Involvement in the early head start evaluation: a multidimesional conceptualization paper, National Conference on Health Statistic, Washington,D.C., August 2003
2. Lamb.M.E (ed) (1981) The Role of father in child Development, Second Edition, New York: John Wiley & Sons

  • Media Sosial Kami :