Bali Perlu Banyak Underpass


Diunggah oleh : Dwinanto Tanggal : 7 April 2014 Update : 7 April 2014, jam 09:01 Dibaca : 2.321 kali
Bali Perlu Banyak Underpass

Teks oleh: I Wayan Subadra

Sebagian masyarakat Bali, khususnya pengguna jalan menuju ke Bandara Ngurah Rai, Nusa Dua, dan Kuta kini bisa bernafas lega. Hal ini terjadi setelah diresmikannya Underpass Dewa Ruci atau lebih dikenal dengan Simpang Siur. Tak lama berselang, diresmikan pula Jalan Tol di atas Perairan (JDP) Bali Mandara oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada medio akhir tahun 2013. Kawasan Simpang Siur dulunya merupakan biang kemacetan terparah di Pulau Bali ini.

Sebenarnya jarak dari Kota Denpasar ke Bandara Ngurah Rai tidaklah begitu jauh, kurang lebih sepanjang 15 kilometer, dengan jarak tempuh normal antara 20-30 menit pada pagi atau malam hari. Sayangnya, pada sore hari sering terjadi kemacetan lalu lintas, sehingga memerlukan waktu antara satu sampai dua jam. Apalagi saat weekend atau musim liburan panjang, waktu yang diperlukan jauh lebih lama. Setelah ada solusi dengan dibuatnya jalan underpass Dewa Ruci dan Jalan Tol di Atas Perairan Bali Mandara, pengguna jalan cukup berkendara sekitar dua puluh lima menit sampai setengah jam saja. Bagi yang ingin cepat sampai menuju Nusa Dua atau Bandara, pengendara dapat melewati jalan tol Bali Mandara dengan jarak tempuh ke Bandara sekitar 15 menit hanya dengan membayar Rp 10.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp 4.000 untuk kendaraan roda dua.


Kawasan Pariwisata
Jalan underpass Dewa Ruci yang merupakan Barang Milik Negara (BMN) senilai Rp 146 milyar ini adalah solusi terbaik guna mengurai arus lalu lintas di kawasan Simpang Siur. Kawasan ini merupakan bottle neck dari beberapa jalan utama di Kota Denpasar menuju kawasan selatan Pulau Bali. Tak hanya lalu lintas yang menjadi lancar, masyarakat juga dapat menghemat waktu dan tenaga. Dari segi biaya, pengguna jalan dapat menghemat miliaran rupiah pengeluaran per tahun. Dari tinjauan lingkungan polusi akan berkurang karena arus lalu lintas lancar sehingga mendukung slogan Bali Clean and Green. Dengan demikian, hal ini tentu akan meningkatkan kenyamanan bagi wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung ke Pulau Bali, karena tidak ada lagi kemacetan lalu lintas yang dulu menjadi rutinitas setiap hari. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung kembali ke Pulau Dewata. Dampaknya, penerimaan negara akan meningkat.


Mesulub dan Leteh
Jalan underpass Dewa Ruci merupakan jalan terowongan yang pertama kali dibangun di Pulau Bali. Wacana pembuatan jalan ini awalnya menuai pro dan kontra di masyarakat. Sebagian masyarakat menentang dan sebagian menyetujui pembangunan underpass. Masyarakat yang setuju beralasan underpass nantinya dapat menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan arus lalu lintas. Bagi yang menolak, salah satu alasannya adalah adanya kepercayaan masyarakat Pulau Bali yang mayoritas menganut Agama Hindu bahwa sebagian masyarakat atau orang-orang suci atau jika ada kegiatan keagamaan dianggap “leteh”  (kotor secara spiritual) jika mereka “mesulub” (melintas/berjalan dibawah jalan/jembatan atau benda-benda tertentu) yang dianggapnya kotor di atas kepalanya dalam jarak tertentu. Apabila mereka terpaksa melewati, maka setelahnya harus dilaksanakan upacara pembersihan yaitu ”Prastista”. Oleh karena aspek religius lebih ditonjolkan daripada aspek manfaat maka proses pembuatan jalan underpass berlangsung berlarut–larut,  karena  mendapat tentangan dari berbagai komponen masyarakat.

Kini pembangunan underpass telah rampung, masyarakat bisa lebih lancar menuju kawasan Nusa Dua atau Kuta dan sekitarnya. Setelah merasakan dampak positif pembangunan underpass ini, masyarakat Bali yang dulunya menentang kini menerima underpass dengan tangan terbuka.


Underpass atau Fly Over
Pulau Bali sebagai tujuan utama pariwisata dunia semestinya dapat menjamin sarana berlalu lintas yang layak, sehingga wisatawan yang datang dapat merasa nyaman. Sebagaimana diketahui, jalan-jalan di Pulau Dewata yang pada umumnya sempit, kini sudah tidak dapat menampung jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahunnya. Hal inilah menjadi penyebab utama kemacetan. Solusi terbaik dalam mengurai kemacetan adalah dengan membuka sumbatan pada setiap persimpangan atau traffic light.

Beberapa alternatif yang dapat dipilih adalah membuat jalan underpass atau fly over. Sebagai gambaran, sebuah underpass membutuhkan biaya kurang lebih Rp 146 Milyar. Mahalnya biaya tersebut karena butuh biaya untuk pembangunan saluran pipa air minum, saluran got, kabel telepon dan listrik yang tertanam di sekitar lokasi pekerjaan. Lalu jika dibandingkan dengan membuat fly over, apakah dapat menekan biaya menjadi lebih murah karena tidak diperlukan biaya-biaya seperti membuat underpass? Hal ini memerlukan kajian para ahli atau masyarakat yang mempunyai interest tertentu maupun kalangan akademisi dan menyampaikan hasilnya kepada pihak terkait.

Butuh Underpass Lebih Banyak Lagi
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata dan tempat diselenggarakannya berbagai event berskala nasional dan internasional, semestinya Bali dapat menyajikan kenyamanan dan kelancaran berlalu lintas. Untuk itu, perlu dibangun beberapa underpass atau fly over pada beberapa tempat. Misalnya saja di sepanjang jalan jurusan Bandara Ngurah Rai menuju Nusa Dua yang merupakan kawasan penting di Pulau Bali karena seringnya diselenggarakan event kenegaraan atau bisnis berskala internasional, pertigaan menuju Jimbaran, di depan Universitas Udayana, dan pertigaan menjelang masuk Nusa Dua. Untuk kawasan Kuta, Seminyak dan sekitarnya membutuhkan lebih banyak lagi karena banyaknya persimpangan atau pertigaan. Oleh karena membutuhkan biaya yang sangat besar maka sudah sewajarnya pemerintah pusat memberi bantuan kepada daerah.

Semoga saja terlaksana dalam waktu dekat.

Keterangan Gambar: Underpass Dewa Ruci,  BMN senilai  146 milyar sangat membantu kelancaran lalu lintas.  (Diupload VINA CHRISTY LUKITASAR)

Foto-foto terkait artikel :

  • Media Sosial Kami :